Find and Follow Us

Jumat, 13 Desember 2019 | 13:39 WIB

IHSG Masih Berpotensi Tertekan

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 25 November 2019 | 05:21 WIB
IHSG Masih Berpotensi Tertekan
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - IHSG berpotensi masih akan bergerak melemah terbatas menguji area support 6,062, seiring tidak adanya sentimen positif dari dalam negeri.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, untuk level resistance terdekat di 6.167, yang jika dapat di tembus, maka IHSG berpeluang mengalami teknikal rebound menuju resistance pola symmetrical traingle-nya. "Waspadai apabila IHSG jebol ke bawah support 6.062, karena akan melanjutkan tren turunnya," seperti mengutip hasil risetnya Minggu (24/11/2019).

Secara teknikal pergerakan IHSG masih sama dengan pekan sebelumnya. Dari weekly chart, IHSG terlihat masih bergerak turun dalam fase konsolidasi membentuk pola symmetrical triangle.

IHSG berpeluang menguji area support level dikisaran 6.062. Sementara untuk level resistance saat ini dikisaran 6.305. Indikator teknikal MACD masih cenderung bergerak turun, mengindikasikan bahwa IHSG masih berpeluang melemah menguji area supportnya.

Selama masih mampu bertahan diatas support pola symmetrical triangle dan rebound bergerak menguat lagi, maka IHSG masih akan melanjutkan fase konsolidasinya. Namun apabila IHSG gagal bertahan di atas support pola symmetrical triangle dan bergerak turun menembus ke bawah level psikologis 6.000, maka indeks berpotensi akan melanjutkan downtrendnya dengan target penurunan menuju kisaran 5.750.

Untuk pekan ini, tidak ada data ekonomi penting nasional yang ditunggu oleh investor. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari pelaku pasar pada pekan ini diantaranya adalah:
Selasa 26 November 2019 : Pernyataan Gubernur RBA Lowe, Rilis data keyakinan konsumen AS.
Rabu 27 November 2019 : Rilis data pendapatan dan pengeluaran personal AS, data GDP AS, durable goods orders dan PMI Chicago
Kamis 28 November 2019 : Rilis data modal swasta Australia, Rilis data inflasi Jerman.
Jumat 29 November 2019 : Rilis data keyakinan konsumen Inggris, Rilis data keyakinan konsumen Jepang, Rilis data GDP Prancis, GDP India dan GDP Kanada.


Bursa AS Abaikan Data Ekonomi
Bursa Wall Street menguat terbatas pada perdagangan akhir pekan, ditopang oleh optimisme data ekonomi dan kesepakatan dagang AS-China. Sentimen positif yang menjadi katalis adalah laporan yang menyebutkan pendapatan peritel AS yang tumbuh solid dan data kepercayaan konsumen yang baik.

Sementara itu Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa kesepakatan dagang berpotensi sangat dekat menyusul pernyataan Presiden China Xi Jinping bahwa China ingin menyusun perjanjian awal. Dow Jones naik 109,33 poin (+ 0,39%) ke posisi 27.875,62, S&P 500 menguat 6,75 poin (+0,22%) ke level 3.110,29 dan Nasdaq bertambah 13,67 poin (+0,16%) menjadi 8.519,89.

Meski Wall Street menguat di akhir pekan, tetapi membukukan penurunan mingguan pertama dalam lebih dari sebulan terakhir di tengah ketidakpastian dan pasang surutnya pembicaraan perdagangan AS-Cina. Secara mingguan, Dow Jones turun -0,46%, S&P 500 melemah -0,33% dan Nasdaq berkurang -0,25%.

IHSG Sepakan Turun 0,4%
Dari dalam negeri, IHSG melemah 17,122 poin (-0,28%) ke level 6.100,242 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell setelah membukukan penjualan bersih di pasar reguler senilai Rp159 miliar.

Dalam sepekan, IHSG masih melanjutkan pelemahannya sebesar -0,46%, dengan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp615 miliar di pasar reguler.

IHSG terus melanjutkan penurunannya secara mingguan menjadi 4 pekan berturut-turut. Meski BI telah merilis kebijakan moneter dengan memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya dan menurunkan GWM sebesar 50 bps pada pertemuan kamis lalu.

Tujuannya untuk menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi, namun IHSG masih sulit bangkit dari tekanan.

Pelaku pasar menilai bahwa katalis positif dari BI tersebut, efeknya baru akan dirasakan dalam jangka menengah-panjang, belum cukup untuk membuat pasar bergairah dalam jangka pendek. Sementara dari ekternal, sentimen perkembangan kesepakatan perang dagang antara AS-China dan ketidakstabilan politik yang terjadi di Hong Kong masih menjadi penggerak utama bursa saham regional dan IHSG.

Komentar

Embed Widget
x