Find and Follow Us

Senin, 9 Desember 2019 | 05:10 WIB

Kenapa Saham Gorengan Berjatuhan?

Oleh : Wahid Ma'ruf | Jumat, 22 November 2019 | 11:27 WIB
Kenapa Saham Gorengan Berjatuhan?
(inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Dalam sepekan terakhir perhatian para investor ritel di Indonesia terfokus pada terjun bebasnya saham-saham yang sebelumnya dianggap sebagai saham multibagger di BEI.

Kejatuhan yang terjadi di saham-saham tersebut selama bulan November 2019 ini sangatlah fenomenal. Sebagai gambaran, hanya di bulan ini saja sudah ada 16 saham yang turun lebih dari 50% dari harga tertingginya di bulan ini.

Menurut analis saham, Argha J Karo Karo, tren ini terjadi di tengah kondisi IHSG yang tidak banyak bergerak selama bulan November ini. Akibatnya, saham-saham gorengan seakan-akan saling berlomba untuk terjun bebas. "Selain itu marak juga pemberitaan tentang rontoknya kinerja beberapa reksadana, yang nilai dana kelolaan-nya bahkan turun puluhan persen hanya dalam beberapa minggu terakhir," seperti mengutip catatannya dalam creative-trader.com, Kamis (21/11/2019).

Pertanyaan itulah yang berkecambuk di pemikiran para investor ritel saat ini, terutama mereka yang ikut menjadi korban dari terjun bebasnya saham-saham tersebut?

Namun, jika di analisa secara Technical maupun Fundamental, bisa dikatakan tidak ada penyebabnya. Sebab dalam kondisi yang begitu tenang baik secara ekonomi dalam Negeri, politik, bahkan kondisi bursa global. "Mengapa secara tiba-tiba puluhan saham bisa terjun bebas seakan-akan tanpa sebab?

Saat ini, investor ingin mencoba mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di balik layar dari kejatuhan harga tersebut. Analisa Bandarmologi tentunya menjadi satu-satunya opsi yang kita miliki untuk mencoba memahami yang sebanarnya sedang terjadi.

"Memang di dunia perbandaran ada banyak kabar kurang baik yang dalam beberapa bulan terakhir, kabar-kabar tersebut banyak kami terima dari para pelaku pasar, baik di kalangan sekuritas dan fund manager. Namun tentunya berita-berita tersebut semuanya bersifat off the record, dan sulit untuk dibuktikan kebenarannya. Jadi kami pun tentunya tidak berani memberitakan berita-berita tersebut ke publik."

Karena perlu dipahami Analisa Bandarmologi adalah analisa yang membahas pergerakan orang yang sedang mengatur pergerakan harga saham, bukan membahas ratio-ratio keuangan, atau naik turunnya candlestick. "Dan kita tentunya tahu Bandar/orang yang mengatur pergerakan harga sangatlah berbeda dengan ratio keuangan atau candlestick. Bandar bisa marah, kecewa, bahkan melampiaskan kemarahannya kepada kami atau kepada market."

Kondisi IHSGH 2018-2019
"Kita tahu dalam 2 tahun terakhir ini IHSG tidak bertumbuh sama sekali, bahkan cenderung mengalami koreksi baik di tahun 2018, juga di tahun 2019 ini."

Kondisi yang terjadi dalam dua tahun terakhir ini sangat berbeda dengan apa yang terjadi dari tahun 2009 2017 lalu. Saat itu IHSG hampir selalu naik setiap tahunnya.

IHSG mengalami koreksi karena sepajang tahun 2018 dan 2019 investor asing memutuskan untuk melakukan aksi jual besar-besaran di IHSG.

Jika menghitung jumlah uang yang berhasil Investor Asing kumpulkan dari total penjualan mereka di saham-saham unggulan sejak awal tahun 2018 sampai sekarang tanggal 20 November 2019. "Kita mendapati bahwa asing sudah berhasil menyerap uang investor lokal sebanyak kurang lebih Rp65 triliun."

Dalam 2 tahun terakhir ini asing memanfaatkan momentum terus bertumbuhnya jumlah investor dalam negeri baik di saham maupun reksa dana. Selain itu, juga semakin meningkatnya profit perusahaan-perusahaan unggulan di IHSG untuk menjual saham-saham blue chip yang mereka miliki ke investor dalam negeri.

Karena investor asing tentunya tahu bahwa waktu terbaik untuk mereka melakukan profit taking adalah ketika fundamental perusahaan sedang baik-baiknya, dan jumlah pembeli sedang banyak-banyaknya.

"Dan karena kita tahu bahwa Investor Asing yang memegang kendali pergerakan IHSG, jadi hanya merekalah yang bisa membuat IHSG NAIK, inilah yang menjadi penyebab 2 tahun terakhir ini IHSG tidak bisa naik, karena investor asing terus jualan."

Dengan turunnya IHSG dalam 2 tahun terakhir, maka memberikan dampak negatif terutama bagi para Fund Manager dalam negeri. Pada awal tahun 2018 lalu, tercatat saham-saham yang menjadi asset terbesar reksa dana-reksa dana tersebut umumnya terfokus di TLKM, BBRI, HMSP, ASII, dan BMRI.

Namun kinerja kelima saham tersebut di tahun 2018 dan 2019, anda akan mendapati bahwa 4 dari 5 saham tersebut bergerak turun. Namun hanya BBRI yang saat ini harganya lebih tinggi dibanding harga awal tahun 2018 lalu. "Itu pun kenaikannya tidak singifikan."

Jadi wajar jika kinerja dana kelolaan para fund manager tidak terlalu memuasakan dalam dua tahun terakhir ini. "Tentunya hal tersebut membuat para nasabah yang yang menginvestasikan uangnya dalam reksadana tersebut kecewa, dan mencari product investasi dengan return yang lebih tinggi."

Dan para Fund Manager sadar kalau tidak ada yang mereka bisa lakukan untuk menaikan harga saham-saham unggulan yang mereka miliki dalam portfolio dana kelolaan mereka, karena saham-saham seperti TLKM, BBRI, HMSP, ASII, dan BMRI semuanya diatur pergerakannya oleh investor asing.

Jadi dalam 2 tahun terakhir ini mereka hanya bisa berharap dan berdoa supaya investor asing kembali masuk ke BEI. Harapannya akan dapat menaikan harga saham-saham tersebut. "Namun sayangnya kita tahu sampai saat ini harapan tersebut tidak kunjung tiba."

Namun karena investor asing yang tidak kunjung menaikan harga saham-saham blue chip, dan tidak ada yang bisa dilakukan oleh investor lokal untuk memaksa asing masuk lagi ke BEI lagi. Jadi malah kondisi ini memaksa para fund manager harus berinovasi.

Mereka sadar kalau hanya bergantung pada saham blue chip, dana kelolaan mereka tidak akan perform, sebelum investor asing memutuskan untuk menaikan saham-saham tersebut. Itu sebabnya beberapa fund manager memilih untuk beralih ke saham-saham yang tidak diatur pergerakannya oleh investor asing.

Dan dalam ilmu bandarmologi dijelaskan bahwa saham-saham yang paling mudah dinaikan harganya adalah saham-saham yang baru IPO. Para fund manager pun tentunya tahu itu, dan mereka melihat kesempatan ada banyaknya perusahaan yang baru IPO untuk mengalihkan dana kelolaannya ke saham-saham tersebut.

Kita tahu investor asing umumnya tidak akan masuk ke saham yang baru IPO, jadi bisa dikatakan pergerakan harga saham-saham tersebut murni dikendalikan oleh Bandar-Bandar Lokal. "Supaya lebih aman dari gangguan para investor ritel, para MI banyak memilih saham-saham yang tidak dikenal publik, untuk menjadi asset dari dana kelolaannya."

Ada MI yang cukup cerdas, untuk menutupi kerugian di saham WSKT dan ADRO, yang keduanya terus dijual oleh investor asing selama tahun 2018-2019. Akibatnya harga kedua saham ini terus turun, maka dengan cara membeli saham DEAL dan FORZ, yang pergerakannya tidak diatur oleh investor asing.

Nyatanya dari DEAL, mereka sudah mendapat profit sebesar 430% dalam waktu kurang dari 2 bulan. Ssementara di saham FORZ mereka berhasil memperoleh keuntungan 52%.

Keuntungan dari kedua saham tersebut lah yang membuat kinerja dana kelolaan mereka mengalahkan kinerja IHSG.

Hal ini sebenarnya bukanlah strategi yang baru dilakukan oleh para MI lokal.

"Namun paling tidak, ini pembelajaran berharga untuk kita semua tentang pentingnya peran bandar di bursa saham, dan seperti kami selalu kami katakan."

Bandar Lokal memang pergerakannya lebih extreme, dan menjanjikan keuntungan yang lebih besar bagi mereka yang bisa membaca pergerakan mereka. Namun kalau investor mau cari aman, jauh lebih aman trading saham-saham yang diatur pergerakannya oleh investor asing.

Komentar

Embed Widget
x