Find and Follow Us

Jumat, 6 Desember 2019 | 23:31 WIB

Sepanjang 2019, Dana Kelolaan ETF Tumbuh Pesat

Rabu, 20 November 2019 | 21:31 WIB
Sepanjang 2019, Dana Kelolaan ETF Tumbuh Pesat
(Foto: Dok)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Indo Premier Sekuritas (IndoPremier) menyelenggarakan Indonesia ETF Conference 2019 bertajuk Investment Revolution 4.0: Riding The Waves of Optimism di The Ritz-Carlton Jakarta, Rabu (20/11/2019).

"Tema revolusi investasi 4.0 sesuai dengan era perkembangan industri dimana seluruh industri dituntut untuk dapat terus bertransformasi dan berinovasi dalam pengembangan bisnis, tidak terkecuali pasar modal Indonesia," tandas Direktur Utama IndoPremier Sekuritas, Moleonoto The.

Ia menambahkan, IndoPremier sebagai sekuritas karya anak bangsa yang berupaya menjawab tuntutan baru dengan berbagai terobosan penting, guna mendongkrak pertumbuhan pasar modal di Indonesia.

Indonesia ETF Conference 2019, lanjutnya, menjadi salah satu cara dari komitmen IndoPremier sebagai Dealer Partisipan untuk terlibat bersama-sama dengan regulator dan pelaku pasar untuk terus berinovasi dalam pengembangan produk dan teknologi di pasar modal, khususnya produk ETF (Exchange Traded Fund) dan mengenalkan produk ini secara lebih luas kepada seluruh investor di Indonesia.

Sejak diluncurkan atas inisiatif PT Indo Premier Sekuritas pada 18 Desember 2007, produk ETF berkembang dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari data AUM produk ETF yang pada awal pencatatan sebesar Rp557 miliar, namun saat ini telah mencapai Rp15,2 triliun

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI), Inarno Djajadi yang hadir di acara tersebut, pun menyambut baik terselenggaranya acara conference tersebut. Diharapkan mampu mendorong pengembangan produk Pasar Modal ETF di era revolusi industri 4.0.

Dirinya juga mengapresiasi perkembangan dan capaian AUM produk ETF. "ETF merupakan salah satu produk investasi yang banyak diminati oleh investor retail dan institusional karena return yang ditawarkan dan keunggulan lainntya sebagai alat investasi yang efisien dan praktis," tegasnya

Di kawasan ASEAN, lanjutnya, saat ini, Indonesia menempati posisi pertama dari sisi jumlah produk ETF berbasis local index, sedangkan dari sisi total jumlah produk ETF, Indonesia menempati posisi kedua setelah Singapura yang memiliki 51 ETF.

"Semakin banyaknya pelaku pasar yang masuk ke pasar ETF saat ini juga mencerminkan keyakinan pasar akan potensi pertumbuhan produk ETF sebagai salah satu alternatif produk investasi bagi investor di Pasar Modal Indonesia, baik kalangan ritel maupun institusi," tandasnya.

Sejalan dengan momentum perkembangan ETF saat ini, BEI berupaya untuk terus mendorong pendalaman pasar ETF dengan mereview dan merumuskan berbagai kebijakan terkait ETF dengan melibatkan OJK, Manajer Investasi, Dealer Partisipan, dan pihak terkait lainnya.

"Salah satu insentif yang baru saja dikeluarkan BEI antara lain memberikan pembebasan biaya transaksi Dealer Partisipan mulai September 2019. Bursa optimis dengan kerjasama dan dukungan dari berbagai pihak, produk ETF dapat lebih berkembang di Pasar Modal Indonesia di masa mendatang."

Direktur Pengelolaan Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Sujanto mengakui, industri pengelolaan investasi memang terus menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Dalam kurun lima tahun terakhir (2015-2019), total dana kelolaan di industri pengelolaan investasi, meningkat hampir dua kali lipat (96,6%). Semula Rp414 triliun pada 2015, melompat menjadi Rp814 triliun per 14 November 2019.

Sebagian besar kenaikan tersebut disebabkan oleh produk reksa dana, dimana dana kelolaan Reksa Dana telah tumbuh lebih dari dua kali lipat, yaitu dari Rp242 triliun pada 2015 menjadi Rp551 triliun per 14 November 2019. Begitu pula jumlah produk reksa dana bertambah sebanyak 1.270 produk, dari 895 pada awal 2015 menjadi 2.165 per 14 November 2019.

"Sejalan dengan pertumbuhan reksa dana, produk ETF bertumbuh cukup signifikan dalam kurun waktu yang sama. Dana kelolaan ETF meningkat lebih dari empat kali lipat, dari hanya Rp2,6 triliun pada awal tahun 2015 menjadi Rp15 triliun per 14 November 2019," tandasnya.

Jumlah produk ETF pun telah bertambah sebanyak 26 produk, yaitu dari hanya 7 produk pada awal tahun 2015 menjadi 33 produk per 14 November 2019. Variasi produk ETF pun semakin beragam dimana produk ETF tidak hanya dikelola secara pasif dengan mengikuti indeks tetapi juga dikelola secara aktif sesuai dengan strategi masing-masing Manjer Investasi.

"Saya mengucapkan apresiasi kepada Indopremier yang secara konsisten mempromosikan produk ETF kepada masyarakat. Hal ini sejalan dengan salah satu misi OJK dalam rangka meningkatkan literasi dan inklusi produk keuangan, terutama produk ETF," tuturnya.

Di Indonesia ETF Conference 2019 ini para manajer investasi juga memaparkan peluang dan keunggulan dari produk ETF yang dapat menjadi alternatif pilihan investasi bagi investor institusi. Selain itu, hadir pula success story yang berbagi pengalaman dan manfaat dalam berinvestasi produk ETF. [tar]

Komentar

Embed Widget
x