Find and Follow Us

Jumat, 15 November 2019 | 20:32 WIB

Bisakah Kita Lawan Bandar Saham?

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 4 November 2019 | 08:11 WIB
Bisakah Kita Lawan Bandar Saham?
(Foto: inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Sebenarnya mekanisme pergerakan harga saham di bursa saham tidak ditentukan oleh berita, laporan keuangan, bursa saham luar negeri, direksi perusahaan, atau bahkan Bursa Efek Indonesia sekalipun.

Menurut analis saham dari Creative Trading, Argha J Karo Karo, pada akhirnya harga saham ditentukan oleh para pelaku pasar, hanya aksi beli dalam jumlah dalam jumlah besarlah yang bisa membuat harga saham naik, dan hanya aksi jual dalam jumlah besar yang bisa membuat harga turun.

Tidak peduli fudamental perusahaan sejelek apa pun, kalau pada suatu hari ada seorang pelaku pasar yang memutuskan untum membeli semua antrian di offer, maka harga saham tersebut akan otomatis terbang tinggi sampai auto reject atas.

Begitu juga di perusahaan yang fundamentalnya bagus, laporan keuangannya bagus, beritanya bagus, tapi kalau ada seorang pelaku pasar yang memutuskan untuk menjual saham tersebut dalam jumlah besar, maka pada saat itu juga harga saham tersebut akan jatuh. Begitulah mekanisme pergerakan harga di bursa kita.

"Dan kita juga tahu, tidak ada peraturan yang mengikat kita sebagai investor atau trader, untuk membeli saham dalam kondisi tertentu, atau menjual saham dalam kondisi tertentu," katanya seperti mengutip dari risetnya dalam creative-trading.com.

Meskipun investor ritel juga termasuk para pelaku pasar, tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengatur pergerakan harga suatu saham sesuai dengan keinginan sendiri.

Karena sebagai investor ritel tidak peduli sudah berapa lama melalkukan trading. Sehabat apa pun analisa yang sudah lakukan, maka tetap saja tidak akan tahu besok koleksi sahamnya sekarang akan naik atau turun harganya.

Karena memang sebagai investor ritel tidak punya kekuatan untuk menggerakan harga sesuai dengan keinginan sendiri. "Jadi kita hanya bisa pasrah melihat harga saham yang kita miliki akan naik atau turun besok. Bukan kita yang memutuskan kemana harga saham akan bergerak dan kapan harga saham akan bergerak, kita hanya bisa menganalisa, berharap, dan berdoa, namun Bandarlah yang memutuskan kemana harga akan bergerak."

Itulah sebabnya sering dikatakan di bursa saham tidak ada analisa yang akan selalu benar, karena analisa yang ada tidak menggerakan harga saham, harga saham akan bergerak sesuai keinginan Bandar.

"Anda mungkin sudah pernah mendengar sebelumnya, di bursa saham Investor Ritel sering dianalogikan seperti copet. Karena memang dalam aksinya investor ritel adalah pihak yang berusaha mencari keuntungan dengan cara menunggangi/mencopet pergerakan harga saham yang diciptakan Bandar."

Jadi itu sebabnya saham-saham yang tidak dimiliki oleh investor ritel (supplynya dikuasai oleh Bandar), harganya bisa terbang puluhan bahkan ratusan persen dalam waktu singkat. Sementara saham-saham sejuta umat harganya semua hancur.

Karena tidak peduli berapa juta umat (investor ritel) yang nyangkut di saham-saham seperti BUMI, ENRG, BEKS, TMPI, POSA, dan sejuta umat tersebut berharap harga saham-saham tersebut segera naik. Namun pada kenyataanya harga saham tersebut tidak akan bisa naik, kalau tidak dinaikan oleh Bandar.

"Karena harapan investor ritel tidak bisa menaikan harga, Bandarlah yang menaikan."

Komentar

Embed Widget
x