Find and Follow Us

Rabu, 20 November 2019 | 21:27 WIB

IHSG Rawan Pelemahan

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 21 Oktober 2019 | 00:17 WIB
IHSG Rawan Pelemahan
(inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - IHSG berpotensi akan berkonsolidasi setelah mencatatkan reli kenaikan 6 hari beruntun. Euforia pelantikan Presiden dan pembentukan kabinet mentri-menteri Jokowi akan berakhir, sehingga aksi profit taking sesaat berpotensi terjadi.

Menurut praktisi pasar modal, Stafanus Mulyadi Handoko, selanjutnya pergerakan IHSG akan dipengaruhi sentimen perang dagang terutama dari kelanjutan pertemuan bilateral AS-China, serta isu perlambatan ekonomi dunia setelah ekonomi China tumbuh melambat ke level terendah hampir dalam 30 tahun terakhir.

"Sementara itu, jelang rilis laporan kinerja keuangan emiten kuartal III dan juga potensi penurunan suku bunga acuan The Fed pada akhir bulan ini, akan turut mewarnai pergerakan IHSG sepekan ini," demikian mengutip hasil risetnya, Minggu (20/10/2019).

Untuk pekan ini, IHSG akan dipengaruhi oleh stabilitas politik dan keamanan dalam negeri pasca pelantikan Presiden. Selain itu, sentimen penetapan suku bunga acuan BI rate pada hari kamis tanggal 24 Oktober 2019 juga akan mempengaruhi pergerakan IHSG pada minggu ini.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah Senin 21 Oktober 2019 : Rilis data perdagangan Jepang. Rabu 23 Oktober 2019 : Rilis data persediaan minyak AS.

Kamis 24 Oktober 2019 : Rilis data sektor jasa dan negara-negara Uni Eropa, Kebijakan moneter dan konferensi pers ECB, Rilis data durable goods AS. Jumat 25 Oktober 2019: Rilis keyakinan konsumen dan iklim bisnis Jerman.

Terbebani Saham Boeing
Sementara bursa saham AS telah berakhir melemah di akhir pekan, seiring sentimen negatif yang muncul dari kabar tentang Johnson & Johnson dan Boeing, serta data ekonomi China yang memburuk. Saham Boeing turun -6,8%, setelah adanya laporan bahwa Boeing menyesatkan Administrasi Penerbangan Federal tentang keamanan pesawat 737 MAX yang masih dikandangkan hingga saat ini.

Sedangkan saham Johnson & Johnson turun -6,2%, setelah pengumuman penarikan 33.000 bedak bayi di AS karena regulator menemukan adanya asbes dalam sampel. Selain itu faktor data perekonomian China yang suram, setelah melaporkan pertumbuhan ekonomi 6% di kuartal ketiga, yang merupakan level pertumbuhan terendah dalam hampir 30 tahun terakhir, turut memperburuk situasi pasar.

Di sisi lain, IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun ini untuk ke-5 kalinya menjadi 3% dan memperlihatkan angka paling lambat sejak krisis finasial tahun 2008-2009, menambahkan sentimen negatif ke market. Dow Jones ditutup turun 255,68 poin (-0,95%) ke level 26.770,20, S&P 500 melemah 11,75 poin (-0,39%) ke 2.986,20.

Nasdaq melorot 67,31 poin (-0,83%) menjadi 8.089,54. Meski ketiga indeks saham utama AS turun di hari terakhir perdagangan pekan kemaren, indeks Nasdaq dan S&P 500 masih mencatat kenaikan mingguan dengan masing-masing menguat +0,4% dan +0,54%. Sedangkan Dow Jones hanya turun tipis -0,17%, jika dibanding dengan pekan sebelumnya.

Cerna Sikap AS-China
Sementara dari dalam negeri, IHSG menguat tipis +10,933 poin (+0,18%) ke level 6.191,947. Investor asing membukukan net sell senilai Rp281 miliar di pasar reguler. Selama sepekan IHSG berhasil naik +1,41%, meski investor asing masih rajin berjualan dengan mencatatkan net sell sebesar Rp1,31 triliun di pasar reguler.

Sesuai ekspektasi pekan sebelumnya, bahwa rebound IHSG bakal berlanjut setelah AS dan China mencapai kesepakatan dagang fase pertamanya. Meski jalan untuk mencapai damai dagang antara kedua negara masih panjang.

"Namun kesepakatan yang telah dicapai pada pekan lalu untuk sementara ini dianggap sebagai pencapaian yang positif oleh para pelaku pasar."

Sepanjang pekan kemaren, IHSG terus mencetak reli beruntun setiap harinya dan tak pernah merasakan zona merah sama sekali. Stabilitas politik dan keamanan dalam negeri yang cenderung kondusif jelang pelantikan presiden dan wakil presiden, serta ekspektasi pelaku pasar jelang pengumuman menteri-menteri kabinet kerja jilid II, berhasil mengerek IHSG ke zona hijau selama 6 hari berturut-turut. Selain dipengaruhi oleh sentimen domestik, pergerakan IHSG juga dipengaruhi oleh sentimen global, yaitu kesepakatan Brexit antara Inggris dengan Uni Eropa.

"Di sisi lain, potensi penurunan suku bunga acuan The Fed di akhir bulan ini yang semakin besar, juga menjadi katalis positif tambahan bagi pergerakan IHSG."

Secara teknikal IHSG berhasil rebound dengan bergerak menguat dalam 6 hari berturut-turut. IHSG berpeluang menguji resistance level 6.230 pada pekan ini. Apabila dapat melampaui resistance tersebut, maka IHSG berpeluang melanjutkan reboundnya menuju area kisaran gap atas di 6.282-6.318 dan garis MA 200 nya sebagai area resistance selanjutnya.

Sementara untuk level support IHSG minggu ini diperkirakan berada dikisaran 6.084. Indikator teknikal MACD mulai bergerak naik di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG mulai bergerak positif. Perlu dicatat, bahwa selama IHSG masih dibawah MA 200 nya dan belum dapat melewati gap atas di 6.318, maka indeks masih dalam pola pergerakan sideways cenderung turun.

Komentar

Embed Widget
x