Find and Follow Us

Rabu, 16 Oktober 2019 | 23:38 WIB

IHSG Uji Level 6.000

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 7 Oktober 2019 | 00:15 WIB
IHSG Uji Level 6.000
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Secara teknikal, IHSG terlihat masih bergerak turun. Namun level psikologis 6.000 ternyata cukup kuat dalam menahan kejatuhan IHSG lebih dalam.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, indeks terhindar dari kejatuhan setelah terus bergerak melemah dalam 5 hari berturut-turut dan mencapai level terendah di 5.997. Namun IHSG akhirnya mampu mengalami teknikal rebound.

"Diperkirakan rebound IHSG masih akan berlanjut di awal pekan ini. IHSG akan menguji downtrend resistance line terdekat di level 6.095. Apabila dapat dilewati maka IHSG akan menguji resistance selanjutnya di kisaran level 6.156 hingga 6.205 pada pekan ini," katanya seperti mengutip dari hasil risetnya, Minggu (6/10/2019).

Sementara untuk level support psikologis 6.000 diproyeksikan masih akan menjadi tahanan cukup kuat bagi IHSG pada pekan ini. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak turun di bawah centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak negatif.

Pekan ini pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa akhir bulan September pada hari senin. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor diantaranya adalah Selasa 8 Oktober 2019, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, Pernyataan Gubernur BOE Carney.

Rabu 9 Oktober 2019, pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell, Rilis data persediaan minyak AS. Kamis 10 Oktober 2019, Meeting The Fed, Rilis data GDP, manufaktur dan perdagangan Inggris, Pernyataan Gubernur BOE Carney, Pertemuan Kebijakan Moneter ECB, Rilis data inflasi AS.

"Setelah turun tajam pada pekan lalu, IHSG pada pekan ini diperkirakan akan bergerak stagnan dengan berkonsolidasi di rentang kisaran area 6.000-6.200. Selama IHSG masih belum dapat melewati keatas gap 6.282-6.318, maka penguatan IHSG hanya teknikal rebound sesaat atau kenaikan ditengah downtrend saja."

Pengaruh Data AS
Bursa Wall Street berakhir menguat pada perdagangan akhir pekan, setelah rilis data pertumbuhan pekerjaan AS yang moderat pada bulan September 2019. Data lapangan kerja di AS periode September naik 136 ribu meski masih di bawah estimasi para analis sebesar 145 ribu.

Namun tingkat pengangguran AS yang turun ke level 3,5% adalah terendah dalam 50 tahun terakhir, membawa angin segar bagi pasar saham AS setelah serentetan data ekonomi yang suram. Rilis data lapangan kerja tersebut dinilai cukup solid meredam kekhawatiran resesi ekonomi di AS, tetapi cukup untuk menjaga The Fed di jalur kebijakan pelonggaran moneter pada akhir bulan ini.

Dow Jones naik 372,68 poin (+1,42%) ke level 26.573,72, S&P 500 menguat 41,38 poin (+1,42%) menjadi 2.952,01 dan Nasdaq melonjak 110,21 poin (+1,4%) ke posisi 7.982,47. Dalam sepekan bursa saham AS berakhir bervaritaif, dengan Dow Jones dan S&P 500 berada di zona pelemahan pekan ketiganya secara beruntun, masing-masing turun -0,92% dan -0,33%. Sedangkan Nasdaq tercatat naik +0,54% secara mingguan.

IHSG Kian Jatuh
Sementara dari dalam negeri, jelang akhir pekan IHSG bangkit dari keterpurukan setelah melemah 5 hari beruntun. Pada perdagangan terakhir pekan kemaren, IHSG mampu ditutup di area positif setelah melaju +22,723 poin (+0,38%) ke level 6.061,252.

Investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp420 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan terakhir, IHSG jeblok -2,19% dengan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp915 miliar di pasar reguler.

Berbagai sentimen negatif yang beredar sepanjang pekan lalu mewarnai pergerakan IHSG. Aksi demonstrasi yang dilakukan oleh mahasiswa, pelajar dan berbagai elemen massa di sekitar gedung DPR jelang berakhirnya masa bakti DPR 2014-2019 dan kemudian disusul oleh pelantikan DPR periode 2019-2024, berujung pada kericuhan dan perusakan fasilitas publik. Kemudian rilis data inflasi September, yang secara bulanan terjadi deflasi 0,27% atau lebih dalam ketimbang konsensus pasar yaitu 0,15%.

Terjadinya deflasi ini makin mengkonfirmasi lemahnya daya beli masyarakat Indonesia, sehingga dikhawatrikan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi yang saat ini memang sudah melambat. Sementara sentimen negatif eksternal datang dari kekhawatiran pelaku pasar terhadap ancaman resesi global setelah rilis data-data ekonomi yang lebih buruk dari perkiraan.

Meningkatnya ketidakpastian geopolitik global oleh ancaman perang dagang AS vs Eropa, juga turut menjadi katalis negatif bagi pasar saham dunia.

Komentar

Embed Widget
x