Find and Follow Us

Rabu, 16 Oktober 2019 | 22:45 WIB

Serangan di Saudi, dari Politik ke Pasar Minyak

Oleh : Wahid Ma'ruf | Selasa, 17 September 2019 | 07:01 WIB
Serangan di Saudi, dari Politik ke Pasar Minyak
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Washington - Presiden AS, Donald Trump mengatakan pada hari Senin bahwa ia tidak terburu-buru untuk menanggapi serangan terkoordinasi yang melanda industri minyak Arab Saudi selama akhir pekan.

Fasilitas pemrosesan minyak terbesar di Abqaiq dan ladang minyak terdekat diserang pada hari Sabtu, merobohkan 5,7 juta barel produksi minyak mentah setiap hari atau lebih dari 50% dari produksi minyak kerajaan. Gangguan itu membuat harga minyak Brent melonjak, membukukan rekor kenaikan terbesarnya.

"Jelas terlihat seperti itu pada saat ini," Trump menanggapi pertanyaan tentang apakah Iran bertanggung jawab atas serangan itu. "Saya tidak ingin perang dengan siapa pun, tetapi kami lebih siap daripada siapa pun ... Kami memiliki banyak pilihan, tetapi kami tidak melihat opsi sekarang."

"Itu adalah serangan yang sangat besar dan bisa ditanggulangi dengan serangan yang berkali-kali lebih besar dari negara kita, tetapi kita akan mencari tahu siapa yang melakukannya terlebih dahulu," tambahnya.

Presiden Iran Hassan Rouhani mengatakan hari Senin bahwa serangan terhadap Aramco adalah "respons timbal balik" terhadap agresi terhadap Yaman.

Koalisi militer pimpinan Saudi mengatakan serangan itu dilakukan oleh "senjata Iran" dan bukan berasal dari Yaman.

Komentar terbaru dari Trump kontras dengan sikapnya yang diungkapkan pada hari Minggu ketika dia mengatakan dalam sebuah tweet bahwa AS "terkunci dan dimuat" setelah serangan terhadap pasokan minyak Saudi.

Trump juga mengatakan dia mengesahkan pelepasan minyak dari Strategic Petroleum Reserve untuk menjaga pasar "tetap terpenuhi."

Komentar

Embed Widget
x