Find and Follow Us

Rabu, 11 Desember 2019 | 05:19 WIB

Emiten Besi Bekas Raup Dana Rp54 Miliar dari IPO

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 13 September 2019 | 17:00 WIB
Emiten Besi Bekas Raup Dana Rp54 Miliar dari IPO
(Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk mengantongi pernyataan efektif untuk penawaran umum perdana saham (Initial Public Offering/IPO) dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 12 September 2019.

Direktur Utama PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk, Meilyna Widjaja mengatakan, perseroan menggelar penawaran umum saham perdana pada 13 dan 16 September 2019 di Jakarta. Selanjutnya melakukan pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, pada 23 September 2019. "Efek perusahaan kami akan tercatat dengan kode saham OPMS," kata Meilyna dalam siaran pers, Jakarta, Jumat (13/9/2019).

Meilyna menerangkan, setelah melalui tahapan bookbuilding pada 26-28 Agustus 2019, maka perseroan menetapkan harga saham IPO di level Rp 135 per saham.

Dengan melepas sebanyak 400 juta lembar saham baru atau sebesar 40% saham dari modal yang ditempatkan atau disetor penuh, maka Optima Prima akan memperoleh dana IPO Rp 54 miliar.

Meilyna menambahkan, dana hasil IPO ini akan digunakan untuk memperkuat modal kerja, yaitu untuk pembelian kapal bekas yang akan dijadikan besi scrap.

Melantainya perseroan di bursa menjadi upaya OPMS dalam memperkuat bisnis di bidang besi scrap yang mayoritas dari kapal bekas. "Kami berharap kehadiran OPMS dapat menjadi warna baru bagi pasar modal di Tanah Air. Karena itu, kami optimistis, IPO ini merupakan langkah yang paling tepat untuk memperbesar usaha kami sekaligus memperkenalkan secara luas akan industri besi scrap kepada industri besi baja di dalam negeri," kata Meilyna.

Sementara itu, Direktur Keuangan OPMS, Alan Priyambodo Krisnamurti mengatakan, hingga April 2019, penjualan OPMS tercatat naik 44,2% menjadi Rp 35,2 miliar dari Rp 24,4 miliar pada April 2018. Laba bersih OPMS meningkat drastis menjadi Rp 2,13 miliar pada April 2019 dan total asset tercatat Rp 81,61 miliar.

Sepanjang 2019, OPMS menargetkan menjual 24 ribu ton besi scrap hasil pemotongan dari kapal-kapal bekas. Setahun OPMS menargetkan memotong sebanyak 8-10 kapal bekas.

Adapun kapal bekas yang menjadi target merupakan kapal yang melebihi usia operasional dan tidak bisa diasuransikan lagi, yakni kapal berusia di atas 25 tahun.

Asal tahu saja, industri besi baja di Indonesia terus bertumbuh setiap tahunnya. Berdasarkan Worldsteel Association, untuk tahun 2017 tingkat produksi nasional crude steel adalah sebesar 5.195.000 ton dan finished steel 7.866.000 ton. Tetapi, tingkat konsumsi nasional sebesar 13.500.000 ton, sehingga terdapat gap yang cukup besar yang harus dipenuhi oleh pemerintah melalui impor.

Artinya, produksi nasional belum mampu memenuhi tingkat konsumsi yang tinggi. Hal ini ditambah dengan pertumbuhan ekonomi besi baja yang tidak sebanding dengan pertumbuhan produksi nasional.

"Kehadiran OPMS sebagai perusahaan besi scrap dari kapal bekas ini akan sangat bermanfaat bagi perusahaan pengolahan besi baja, karena jauh lebih efisien dan kualitas bahan baku yang lebih terjamin. Selain itu, OPMS juga membantu Pemerintah untuk mengurangi impor bahan baku pembuatan baja dari luar negeri. Kami optimis, saham IPO OPMS ini sangat menarik untuk investor, melihat fundamental bisnis kami yang bagus," ujar Alan. [ipe]


Komentar

Embed Widget
x