Find and Follow Us

Senin, 16 September 2019 | 03:02 WIB

IHSG Masih Bisa Bergerak Sideways

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 9 September 2019 | 05:50 WIB
IHSG Masih Bisa Bergerak Sideways
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Untuk pekan ini, IHSG berpotensi masih akan bergerak cenderung sideways di kisaran support 6.239 dan resistance di level 6.350. Apabila mampu menembus ke atas resistance tersebut, maka IHSG berpotensi menutup gap atas di kisaran 6.353-6.372.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, jika IHSG dapat mempertahankan momentumnya dengan melewati gap tersebut dan terus bergerak naik, maka IHSG akan mengakhiri tren turun jangka menengah dan mulai bergerak uptrend. "Namun jika kenaikan IHSG gagal berlanjut dan kembali bergerak turun menembus ke bawah support 6.239, maka IHSG akan kembali cenderung bergerak melemah menguji area support 6.149 lagi," katanya dalam hasil risetnya, Minggu (8/9/2019).

Sedangkan pekan ini tidak ada data ekonomi domestik penting yang ditunggu oleh pelaku pasar. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para investor pekan ini adalah Senin 9 September 2019, Rilis data GDP Jepang, Rilis data neraca dagang, GDP dan manufaktur Inggris.

Selasa 10 September 2019, Rilis data inflasi China, Rilis data tenaga kerja Inggris. Rabu 11 September 2019, Rilis data persediaan minyak AS. Kamis 12 September 2019, Kebijakan Moneteri zona Eropa dan Pernyataan ECB, Rilis data inflasi AS. Jumat 13 September 2019 : Rilis data penjualan ritel AS.

Pekan ini sentimen positif dari dalam negeri sangat minim, di tengah meredanya tensi perang dagang AS-China. Selain itu meningkatnya spekulasi penurunan suku bunga The Fed sebesar 25 bps dalam pertemuan tanggal 17-18 September 2019, akan membuat IHSG bergerak sideways cenderung menguat terbatas pada pekan ini.

"Selain itu, cermati pergerakan harga komoditas dunia, khususnya logam dan emas, serta rebound harga batu bara akan turut mempengaruhi gerak IHSG pada pekan ini."


Kecewa Data AS
Bursa Wall Street ditutup bervariatif pada perdagangan akhir pekan, setelah rilis data tenaga kerja AS yang mengecewakan. Departemen Tenaga Kerja AS merilis penambahan 130.000 pekerjaan pada bulan Agustus, di bawah ekspektasi 158.000 dan merupakan perlambatan bulanan ketiga berturut-turut dalam pertumbuhan pekerjaan.

Pengangguran tetap stabil pada tingkat 3,7%, sementara upah rata-rata per jam tumbuh meningkat sebesar 0,4%. Data tenaga kerja ini menjadi sinyal untuk langkah kebijakan moneter The Fed pada pertemuan tengah bulan ini. Dalam pernyataannya pada hari Jumat akhir pekan kemarin, Ketua The Fed Jerome Powell mengatakan bahwa bank sentral AS akan mengambil sikap sesuai kebutuhan untuk mempertahankan ekspansi ekonomi saat ini, dan tidak mengharapkan ekonomi AS jatuh ke dalam resesi.

Dow Jones ditutup naik 69,31 poin (+ 0,26%) ke level 26.797,46, S&P 500 bertambah tipis hanya 2,71 poin (+0,09%) menjadi 2.978,71. Sementara Nasdaq melemah 13,75 poin (-0,17%) menjadi 8.103,07.

Sepanjang pekan, bursa saham AS ditutup menguat didorong oleh optimisme terkait hubungan perdagangan AS-China. Dalam sepekan, Dow Jones naik +1,49%, S&P 500 menguat +1,79% dan Nasdaq meningkat +1,76%.


IHSG Turun 0,31%
Sementara dari dalam negeri, IHSG berakhir menguat tipis 2,14 poin (+0,03%) ke level 6.308,95 pada perdagangan akhir pekan. Investor asing membukukan jual bersih dengan mencatatkan net sell sebesar Rp 363 miliar di pasar reguler. Dalam sepekan, IHSG mencatatkan pelemahan sebesar -0,31%, dengan diikuti oleh aksi jual investor asing di pasar reguler sebesar Rp 1,48 triliun.

Sepanjang pekan lalu IHSG bergerak relatif datar melanjutkan konsolidasinya. Pergerakan IHSG dipengaruhi oleh naik turunnya perkembangan dari perang dagang AS dan China. IHSG bergerak melemah di 2 hari perdagangan awal pekan lalu, karena babak baru lanjutan perang dagang, setelah kedua negara berbalas mengenakan tarif bea masuk tambahan bagi masing-masing produk impor asal negara lawan dagangnya.

Sementara dari dalam negeri, rilis data manufaktur dan inflasi bulan Agustus pada awal bulan yang lebih rendah dari bulan sebelumnya turut menjadi penekan IHSG bergerak turun. Namun jelang tengah hingga akhir pekan, IHSG berhasil rebound didorong oleh kondusifnya politik di Hongkong, setelah pemerintahnya mencabut UU ektradisi yang memicu aksi demo protes masal selama berbulan-bulan.

Sentimen lain datang dari harapan menurunnya tensi perang dagang antara AS dan China, setelah kedua negara sepakat untuk duduk bersama melakukan pembicaraan negosiasi dagang pada awal bulan Oktober di Washington. Sementara dari dalam negeri, rilis data cadangan devisa Agusutus pada akhir pekan yang mengalami kenaikan sebesar USD 500 juta menjadi USD 126,4 miliar, menjadi pendorong menguatnya IHSG dalam 3 hari berturut-turut.

Harapan damai dagang antara AS-China datang lagi, membuat IHSG berhasil mengalami reli kenaikan dengan menguat tiga hari berturut-turut. Secara teknikal, meski mengalami kenaikan dalam 3 hari terakhir, namun IHSG masih berada di fase sideways dalam jangka pendek dan terlihat cenderung membentuk pola rising wedge.

Indikator teknikal MACD bergerak mendatar cenderung naik mendekati centreline. Diharapkan MACD dapat cross up keatas centreline, sehingga IHSG dapat bergerak positif dan condong menguat lagi.

Komentar

Embed Widget
x