Find and Follow Us

Senin, 26 Agustus 2019 | 14:12 WIB

OJK Siap Gairahkan Ekonomi dari Pasar Modal

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 12 Agustus 2019 | 14:03 WIB
OJK Siap Gairahkan Ekonomi dari Pasar Modal
Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengeluhkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mengalami kesulitan untuk bertumbuh dalam kurun tiga tahun terakhir.

Untuk itu Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal harus terlibat untuk meningkatkan peran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Pertumbuhan ekonomi kita semakin sulit pada hampir tiga tahun terakhir. Barangkali tahun ini pertumbuhan ekonomi kita bisa terjamin jika sektor riil bangkit. Dan, pertumbuhan kredit juga sudah double digit," kata Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Senin (12/8/2019).

Dia berharap, perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa direspons oleh SRO dengan lebih proaktif dan meningkatkan peran terkait penggalangan dana di pasar modal. "Namun,, kami meyakini pasar modal tidak bisa tak proaktif. Kami masih menginginkan lebih dari SRO untuk meningkatkan perannya," ujar Wimboh.

Wimboh menyebutkan, industri pasar modal merupakan nadi yang bisa menggerakan perekonomian, selain industri keuangan lain seperti perbankan dan industri keuangan nonbank (IKNB). "Pasar modal kami harapkan mempunyai peran yang besar lagi sebagai media raising fund," tegasnya.

Selama ini, jelas dia, pembiayaan pembangunan ekonomi nasional lebih besar berasal dari perbankan. Namun, kata Wimboh, pembiayaan perbankan yang bersifat jangka pendek, padahal pembiayaan jangka panjang bisa bersumber dari pasar modal, terutama untuk proyek-proyek infrastruktur.

Selain itu, lanjut Wimboh, OJK juga berharap agar pemerintah bisa menumbuhkan ekonomi melalui bidang-bidang lain, seperti sektor pariwisata. Terlebih lagi, kata dia, BI juga sudah merespons perlambatan ekonomi global dan tren penurunan suku bunga dengam menurunkan suku bunga acuan BI 7day Reverse Repo Rate menjadi 5,75%.

Wimboh memperkirakan, penurunan BI 7 day Reverse Repo Rate tersebut bukan merupakan kebijakan suku bunga yang terakhir bagi bank sentral, lantaran masih ada ruang untuk melanjutkan langkah menurunkan suku bunga acuan. "BI sudah mernurunkan bunga acuan. Ini bukan yang terakhir, masih ada room untuk menurunkan lagi," katanya. [hid]

Komentar

Embed Widget
x