Find and Follow Us

Selasa, 22 Oktober 2019 | 04:08 WIB

Inilah Beban Berat IHSG Pekan Ini

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 12 Agustus 2019 | 02:15 WIB
Inilah Beban Berat IHSG Pekan Ini
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - IHSG untuk pekan ini perdagangan diproyeksikan akan bergerak di rentang kisaran support 6.192, hingga resistance di kisaran 6.372.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, untuk pekan ini IHSG masih akan dipengaruhi sentimen trade war maupun currency war. Minimnya sentimen positif dari domestik dan risiko perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan menjadi sentimen yang akan mempengaruhi perdagangan pekan ini.

Secara teknikal, IHSG berada di fase downtrend dalam jangka pendek. Setelah turun hingga level terendah di 6.022, IHSG berhasil rebound cukup signifikan sehingga membentuk long tail (ekor panjang) pada pola candlestick weekly chartnya.

Tertahannya IHSG di area support kuat 6.117 dengan membentuk pola candle bullish pin bar pada chart mingguan, mengindikasikan peluang terjadinya reversal. Indikator tenikal MACD yang bergerak mendatar diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih berkonsolidasi dalam tren positif. IHSG untuk perdagangan pekan ini diproyeksikan akan bergerak direntang kisaran support 6.192, hingga resistance di kisaran 6.372.

Pekan ini, investor akan mencermati rilis data ekspor-impor dan neraca dagang bulan Juli 2019. Diperkirakan neraca dagang bulan Juli akan kembali mengalami defisit perdagangan, karena turunnya ekspor yang diakibatkan oleh lemahnya pertumbuhan ekonomi global saat ini. Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian dari para pelaku pasar pada pekan ini, diantaranya adalah:

Selasa 13 Agustus 2019 : Rilis data pekerjaan, pendapatan dan tingkat pengangguran Inggris, Rilis data inflasi AS. Rabu 14 Agustus 2019 : Rilis indeks keyakinan konsumen dan data gaji Australia, Rilis data inflasi Inggris, Rilis data GDP zona eropa

Kamis 15 Agustus 2019 : Rilis data pekerjaan dan tingkat pengangguran Australia, Rilis data penjualan ritel Inggris, Rilis indeks manufaktur dan penjualan ritel AS.

IHSG kemungkinan akan bergerak mixed dan volatile dengan kecenderungan terkonsolidasi atau terkoreksi. Adanya kekhawatiran pasar bahwa trade war AS-China akan tereskalasi menjadi currency war, menjadi sentimen yang membuat investor asing terus mencatatkan net sell dan diikuti dengan pelemahan nilai tukar rupiah.

Wall Street Memerah
Sementara bursa Wall Street jatuh pada penutupan perdagangan akhir pekan, di tengah ketidakpastian atas penyelesaian perang dagang AS-China dan kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi global. Presiden AS Donald Trump mengatakan AS dan China sedang melakukan pembicaraan perdagangan, tetapi dia tidak siap untuk membuat kesepakatan.

Pernyataan Trump ini meningkatkan kekhawatiran tentang dampak perang dagang terhadap ekonomi global. Dow Jones turun 90,75 poin (-0,34%) menjadi 26.287,44, S&P 500 kehilangan 19,44 poin (-0,66%) menjadi 2.918,65 dan Nasdaq melemah 80,02 poin (-1%) ke level 7.959,14.

Perdagangan sepekan diwarnai oleh volatilitas yang tinggi, dengan ketiga indeks utama saham AS berakhir melemah. Dalam sepekan, Dow Jones turun -0,75%, S&P 500 melemah -0,46%, dan Nasdaq berkurang -0,56%.

IHSG Malah Naik Tipis
Sementara dari dalam negeri, IHSG berhasil menguat tipis sebesar 7,46 poin (+0,12%) ke level 6.282,13 pada akhir pekan. Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp9 miliar di pasar regular. Sepanjang pekan IHSG terkoreksi sebesar -0,92%, dengan diikuti oleh keluarnya dana asing sebesar Rp 2,92 triliun di pasar regular.

Mengikuti pergerakan bursa global, pergerakan IHSG cukup fluktuatif selama pekan lalu. Setelah terkoreksi cukup tajam di awal pekan, IHSG kembali rebound selama 3 hari berturut-turut di akhir perdagangan pekan kemaren. Sejumlah sentimen mempengaruhi pergerakan IHSG pada pekan lalu.

Komentar

Embed Widget
x