Find and Follow Us

Senin, 16 September 2019 | 05:05 WIB

Analis Desak OJK Investigasi Kasus Lapkeu Garuda

Minggu, 28 Juli 2019 | 19:00 WIB
Analis Desak OJK Investigasi Kasus Lapkeu Garuda
(Foto: Inilahcom)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Masih seputar gaduh laporan keuangan PT garuda Indonesia (Persero) Tbk, muncul desakan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melakukan investigasi.

Hal ini disampaikan analis senior dari Anugerah Sekuritas, Bertoni Rio, bahwa OJK perlu melakukan investigasi terhadap maskapai penerbangan pelat merah berkode emiten GIAA itu, terkait dugaan upaya hostile take over, atau penguasaan atas perusahaan.

Bertoni menilai, Garuda merupakan salah satu emiten BUMN yang dipersepsikan bermasalah. Apalagi jika melihat pemberitaan negatif yang masif saat ini yang menutup seluruh pencapaiaan positif Garuda Indonesia di 2019.

Jika kondisi ini diikuti aksi jual investor ritel, lanjutnya, dan diikuti kenaikan signifikan porsi pemegang saham tertentu. Dia manilai wajar jika muncul hipotesis adanya upaya cornering dari pihak tertentu untuk mengumpulkan sahamnya diharga murah dengan tujuan hostile take over atau penguasaan atas perusahaan.

"Logikanya kan saham perusahaan yang bermasalah akan ditinggalkan oleh pemegang saham, seperti yang dilakukan investor ritel GIAA, tapi ternyata diserap oleh pemegang saham lainnya," ucap Bertoni dari keterangan di Jakarta, Minggu (28/7/2019).

Dia menilai, OJK punya kewenangan serta kemampuan untuk melihat pihak-pihak yang melakukan praktek penggunaan pemberitaan dalam memengaruhi harga, atau pergerakan saham dengan tujuan penguasaan ataupun sebaliknya.

"Biasanya selalu saja investor publik yang dirugikan. Mereka menelan mentah-mentah informasi yang masuk, yang dikuti dengan keputusan jual/beli akibat adanya inisiator (semu), dan terjadi secara masif membuat sentimennya semakin kuat sehingga menjadi overeaction," ungkap Bertoni.

Selain langkah edukasi dari sisi investor ritel yang sudah dijalankan, tambahnya, pihak otoritas perlu memberikan shock terapi agar praktek-praktek nakal untuk tujuan penguasaan, atau sebaliknya terhadap BUMN tidak terjadi. Kisruh emiten AISA atau KIJA yang dikategorikan hostile take over jangan sampai menular apalagi terjadi pada emiten-emiten BUMN Indonesia.

"Kalau perlu OJK bisa lakukan investigasi terhadap GIAA untuk melihat apakah ada upaya cornering atau hostile take over, karena banyak kepemilikan pemegang saham secara the facto punya porsi yang lebih besar dari yang apa tercatat di publik, artinya ada motif disembunyikan. Hal seperti ini kan kurang pas ada di BUMN dan perlu diantisipasi," kata Bertoni.

Sekedar mengingatkan, Garuda mencatat kerugian yang terungkap dalam laporan keuangan Tahun Buku 2018. Laporan keuangan tersebut merupakan penyajian ulang perusahaan setelah diminta melakukan restatement atau penyajian ulang oleh OJK.

Garuda Indonesia sebelumnya diberi sanksi oleh OJK karena menyajikan laporan keuangan Tahun Buku 2018 tidak sesuai standar akuntansi. Restatement laporan keuangan maskapai ini diminta berdasarkan Surat OJK Nomor: S-21/PM.1/2019 Perihal Sanksi Administratif atas Pelanggaran Peraturan Perundang-Undangan di Bidang Pasar Modal Tertanggal 28 Juni 2019.

Dalam materi public expose di keterbukaan informasi BEI, Jumat, 26 Juli 2019, maskapai pelat merah tersebut nyatanya merugi USD175 juta atau sekitar Rp2,4 triliun. Sedangkan sebelumnya, pada laporan keuangan yang dilaporkan perusahaan mengklaim untung US$5 juta, atau sekitar Rp69 miliar. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x