Find and Follow Us

Senin, 16 September 2019 | 05:49 WIB

Derita Rugi, PT Garuda Batalkan Kerja Sama Baru

Oleh : M Fadil Djailani | Jumat, 26 Juli 2019 | 16:53 WIB
Derita Rugi, PT Garuda Batalkan Kerja Sama Baru
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) memutuskan untuk membatalkan kerja sama dengan pihak PT Mahata Aero Teknologi, usai terkena sanksi dari OJK.

Perseroan hari ini, Jumat (26/7/2019) merilis lagi laporan keuangan 2018 dan kuartal I-2019. Hasilnya kinerja keuangan maskapai plat merah tersebut menjadi rugi.

Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko Garuda Indonesia, Fuad Rizal menyatakan restatement laporan laba rugi periode buku 2018 dan LK Q1 2019 ini merupakan bentuk tindak lanjut perusahaan atas hasil putusan regulator terkait laporan kinerja keuangan perseroan.

"Dalam proses penyajian laporan restatement tersebut kami telah melaksanakan korespondensi dengan OJK dan stakeholder lainnya dalam memastikan kesesuaikan aturan dan prinsip compliance dalam penyajian laporan restatement tersebut," kata Fuad dalam siaran resmi perseroan di Jakarta, Jumat (26/7/2019).

Lebih lanjut, Fuad menegaskan dengan penyajian ulang (restatement) laporan keuangan ini tidak ada rasio-rasio yang dilanggar. Penyajian ulang ini memperoleh pen dapat "Wajar Tanpa Modifikasian".

Sementara itu, terkait putusan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait kerja sama Mahata Aero Teknologi, maka Citilink Indonesia selaku pihak yang berkontrak juga telah mengirimkan surat kepada pihak Mahata Aero Teknologi terkait pembatalan kerjasama tersebut.

PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) telah menyajikan kembali laporan keuangan perseroan tahun 2018 lalu sesuai dengan instruksi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan PT Bursa Efek Indonesia (BEI).

Dalam materi paparan publik insidentil, yang dikutip Jumat (26/7/2019) tertera jika dampak dari penyajian kembali maskapai penerbangan nasional ini jadi menderita rugi US$175 juta dari untung yang disajikan dalam laporan keuangan 2018 US$5 juta, karena adanya selisih sebesar US$180 juta.

Hal ini salah satunya karena pendapatan lain-lain bersih GIAA susut menjadi US$38,9 juta dari US$278,8 juta selisih US$239,9 miliar.

Garuda Indonesia juga mencatat perubahan di pos ekuitas dari US$910,2 juta turun US$180 juta menjadi US$730,1 juta. Total liabilitas perseroan pun susut US$24 juta dari US$3.461,5 juta menjadi US$3.437,5 juta yang disebabkan berubahnya liabilitas jangka panjang dari US$549,4 juta menjadi US$200 selisih US$549,3 juta, kemudian liabilitas jangka pendek dari US$14,3 juta menjadi US$563,5 juta.

Selain itu, total aset perseroan pun merosot menjadi US$4.167,6 juta dari US$4.371,7 juta ada perbedaan senilai US$239,9 juta. Berubahnya aset perseron disumbang karena menukiknya piutang lain-lain menjadi US$16,7 juta menjadi US$280,8 juta.

Manajemen Garuda, menyatakan jika penyesuaian pendapatan tersebut kompensasi atas hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hiburan dalam pesawat dan menejemen konten.

Sebagai informasi, penyajian kembali laporan keuangan perseroan di tahun 2018 ini karena BEI dan OJK meminta kepada PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk memperbaiki dan menyajikan kembali LKT per 31 Desember 2018 dan LKT per Maret 2019 serta melakukan paparan publik (public expose) atas perbaikan dan penyajian kembali LKT per 31 Desember 2018 Paling lambat 14 hari setelah ditetapkannya surat sanksi

Sanksi diberikan atas pelanggaran Pasal 69 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal (UU PM). Peraturan Bapepam dan LK Nomor VIII.G.7 tentang Penyajian dan Pengungkapan Laporan Keuangan Emiten dan Perusahaan Publik, Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) 8 tentang Penentuan Apakah Suatu Perjanjian Mengandung Sewa, dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 30 tentang Sewa. [hid]

Komentar

Embed Widget
x