Find and Follow Us

Selasa, 16 Juli 2019 | 05:12 WIB

Beli Saham TRAM, Salah Satu Pemicu Kasus Jiwasraya

Oleh : M Fadil Djailani | Senin, 24 Juni 2019 | 13:01 WIB
Beli Saham TRAM, Salah Satu Pemicu Kasus Jiwasraya
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - BUMN asuransi PT Asuransi Jiwasraya diduga menggunakan strategi perkoncoan untuk investasi dana dari produk asuransi di pasar modal.

Kedekatan direksi PT Jiwasraya dan jajaran direksi PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM )menjadi salah satu biang kerok salah strategi investasi yang dilakukan manajemen Jiwasraya kala itu. Jiwasraya membeli saham PT Trada Alam Mineral Tbk (TRAM) sebesar 5,87% pada 2013.

Saat itu harga saham TRAM bertengger di Rp1.300 per lembar. Jadi total investasi Jiwasraya mencapai Rp760 miliar kala itu, bandingkan dengan hari ini, Senin (24/6/2019) harga saham TRAM di banderol hanya Rp121 sampai pukul 11.45 WIB.

Menariknya kala itu, diduga ada praktik perkoncoan dalam menggunakan dana nasabah produk investasi plus asuransi. Saat itu Hendrisman Rahim yang duduk sebagai Direktur Utama dan Hary Prasetyo sebagai direktur keuangan dituding pemantik gagal bayar Jiwasraya saat ini.

Saat itu Jiwasraya di era Hendrisman, diduga serampangan dalam berinvestasi. Di lantai bursa, misalnya, saham-saham yang diborong Jiwasraya bukanlah saham likuid yang konsisten naik. Saat ini, dua emiten yang sahamnya digenggam Jiwasraya di atas 5% adalah PP Properti (PPRO) dan Semen Baturaja (SMBR). Sebelumnya ada TRAM, IIKP, MTFN, ABBA, SMRU.

Ada yang menarik dalam kepemilikan saham TRAM di Jiwasraya ialah Hary Prasetyo dialah teman Heru Hidayat, komisaris TRAM. Hal ini nyambung dengan kepemilikan saham Jiwasraya di PT Inti Agri Resources tbk (IIKP).

Menanggapi hal ini INILAHCOM coba menelusuri kabar tersebut dengan ingin bertemu Komisaris Utama TRAM, Heru Hidayat di kantornya langsung di Gedung Central Senayan Tower 2 Lantai 27. Sayangnya, saat ingin ditemui petugas keamanan disana mengatakan Heru Hidayat tak ada ditempat.

"Pak Heru tidak ada ditempat," kata Petugas Keamanan yang tak mau disebutkan namanya tersebut.

"Biasanya kalau ada tamu yang ingin berkunjung, membuat janji terlebih dahulu. Siapa mau ketemu siapa," tambahnya.

Petugas keamanan tersebut bercerita bahwa para jajaran direksi TRAM kerap keluar kota, lantaran memang lini bisnis perusahaan ini adalah mineral seperti batubara yang banyak ada di daerah-daerah.

TRAM sendiri ingin menggerek produksi batubara sepanjang tahun 2019 ini. TRAM memasang target nyaris dua kali lipat dibandingkan dengan produksi emas hitam pada tahun lalu.

TRAM berencana memproduksi hingga 5 juta ton batubara di sepanjang tahun 2019. Jumlah itu hampir naik dua kali lipat dibanding produksi batubara TRAM pada tahun lalu yang berada di angka 2,6 juta ton.

Untuk mencapai target tersebut, TRAM akan memproduksi sekitar 350.000 ton hingga 450.000 ton batu bara per bulan. Sementara hingga kuartal I 2019, produksi batubara TRAM sudah mencapai 1 juta ton.

Adapun, batubara yang diproduksi TRAM berasal dari anak usahanya, yakni PT Gunung Bara Utama (GBU). Dari GBU ini, TRAM memproduksi dan menjual batubara kalori tinggi di atas 5.000 kkal/GAR.

Berdasarkan laporan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), pada 3 April 2014, Jiwasraya memiliki 5,37% atau setara 180,3 juta lembar saham IIKP. Kala itu harga per lembar sahamnya Rp225. Jadi, total investasi di IIKP Rp40 miliar.

Perusahaan pengiriman dan angkutan laut ini, mencaplok PT Gunung Bara Utama (GBU), perusahaan tambang yang berlokasi di Kutai Barat, Kalimantan Timur.

Ternyata, latar belakng akuisi oleh TRAM ini, lantaran GBU berutang kepada PT Jelajah Bahari Utama yang terhitung anak usaha PT Bahari Sukses Utama (BSU). Dan, TRAM adalah pemilik 99% BSU.

Pengambil alihan GBU oleh TRAM ditempuh dengan mengakuisisi 2 ultimate shareholder GBU yakni PT Semeru Infra Energi (SIE) dan PT Black Diamond Energy (BDE). Di sinilah muncul nama Heru Hidayat selaku pemegang 11,88% saham SIE dan 94,99% di BDE. Dan sejak Oktober 2017, Heru ditunjuk sebagai komisaris TRAM. [hid]

Komentar

Embed Widget
x