Find and Follow Us

Selasa, 16 Juli 2019 | 05:28 WIB

IHSG Masih Bisa Bergerak Positif

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 24 Juni 2019 | 00:15 WIB
IHSG Masih Bisa Bergerak Positif
(inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Secara teknikal, IHSG sudah menyelesaikan koreksi dan menutup gap di 6.209. Bahkan setelah itu, IHSG berhasil menguat dan telah melewati resistance level 6.335 sebelum akhirnya kembali terkoreksi di akhir pekan dan ditutup di level 6.315.

Menurut praktisi pasar modal Stefanus Mulyadi Handoko, untuk pekan ini, IHSG berpotensi akan bergerak dengan level support berada di kisaran gap 6.257-6.269 dan resistance dikisaran 6.400-6.450. "Indikator teknikal MACD yang bergerak naik dan cross up keatas centreline mengindikasikan bahwa IHSG masih cenderung bergerak positif," katanya seperti mengutip hasil risetnya, Minggu (23/6/2019).

Untuk pekan ini, perhatian para pelaku pasar di bursa saham dunia akan tertuju pada pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China, Xi Jinping pada KTT G20 di Jepang tanggal 28-29 Juni mendatang. Sementara dari dalam negeri, adanya rilis data neraca dagang di awal pekan akan turut menggerakkan laju IHSG.

Untuk neraca perdagangan diperkirakan pada Mei 2019 akan kembali mengalami defisit sebesar US$ 1,4 miliar, lebih baik jika dibandingkan April 2019 yang tercatat membukukan defisit sebesar US$2,5 miliar. Bahkan Gubernur BI Perry Warjiyo saat memaparkan hasil RDG tengah pekan lalu, mengatakan bahwa pada Mei neraca dagang akan berbalik arah dengan perkiraan surplus.

Jika hasilnya baik, maka IHSG akan kembali rebound. Namun jika kurang baik dan tidak sesuai dengan ekspektasi pasar, akan memengaruhi nilai tukar rupiah dan IHSG pada perdagangan besok.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah Selasa 25 Juni 2019 : Pertemuan OPEC, Rilis data ekyakinan konsumen AS, Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell.

Rabu 26 Juni 2019 : Rilis data inflasi Inggris, Rilis data durable goods AS. Kamis 27 Juni 2019 : Rilis data inflasi Jerman, Rilis data GDP AS. Jumat 28 Juni 2019 : Pertemuan G-20, rilis data transaksi berjalan dan GDP Inggris, Rilis data inflasi zona Eropa, Rilis data pendapatan dan pengeluan perorangan AS.

Bursa AS Turun Tipis
Bursa Wall Street turun tipis pada penutupan perdagangan akhir pekan, setelah Departemen Perdagangan AS melarang lima perusahaan China untuk membeli komponen dari AS tanpa persetujuan dari pemerintah terlebih dahulu.

Menanggapi kebijakan ini, saham-saham perusahaan pembuat chip anjlok. Selain itu ketegangan antara AS dan Iran turut menjadi pemberat bursa saham AS. Dow Jones turun 34,04 poin (-0,13%) ke level 26.719,13, S&P 500 kehilangan 3,72 poin (-0,13%) menjadi 2.950,46 dan Nasdaq melemah 19,63 poin (-0,24%) menjadi 8.031,71.

Meski mengalami koreksi di akhir pekan, namun dalam perdagangan sepanjang pekan lalu bursa saham AS berhasil menguat tajam dengan Dow Jones naik +2,41%, S&P 500 meningkat +2,2% dan Nasdaq melonjak +3,01%.

Penguatan 4 Pekan Terakhir
Sementara dari dalam negeri, IHSG merosot 20,26 poin (-0,32%) ke posisi 6.315,43 di akhir pekan. Investor asing mencatatkan net buy dengan membeli saham senilai Rp13 miliar di pasar reguler.

Dalam sepekan, IHSG masih menguat +1,04% dengan diikui oleh aksi beli investor asing yang membukukan net buy sebesar Rp1,35 triliun di pasar reguler.

IHSG masih terus melaju dengan membukukan penguatan menjadi 4 pekan berturut-turut. Penguatan IHSG sejalan dengan bursa saham utama dunia yang dipicu oleh kebijakan pelonggaran moneter dari sejumlah bank sentral di berbagai negara untuk mengantisipasi perlambatan pertumbuhan ekonomi global.

ECB telah mengumumkan stimulus baru untuk Eropa dan akan mengambil kebijakan berupa pemotongan suku bunga serta pembelian aset. Langkah ini diikuti oleh The Fed yang membuka peluang penurunan suku bunga acuan pada bulan depan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang melemah sebagai imbas dari perang dagang dengan China.

Tidak mau ketinggalan, BI juga terlihat akan mengambil kebijakan yang sama dengan mengatakan melihat ruang untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan pada tahun ini. Sebagai langkah awal, BI menurunkan GWM sebesar 50 bps pada pertemuan tengah pekan kemaren untuk menambah ketersediaan likuiditas perbankan dalam pembiayaan ekonomi.

Selain itu, pemerintah juga akan mengeluarkan stimulus berupa insentif pajak, dengan melakukan pemangkasan pajak besar-besaran untuk meraih investasi dan meningkatkan ekspor sebanyak-banyaknya. Kondisi ini memicu IHSG terus melanjutkan reli reboundnya setelah pada bulan lalu terperosok turun hingga ke level 5.767.

Komentar

Embed Widget
x