Find and Follow Us

Senin, 19 Agustus 2019 | 08:16 WIB

Inilah Titik Lemah AS di Mata China

Oleh : Wahid Ma'ruf | Minggu, 26 Mei 2019 | 09:05 WIB
Inilah Titik Lemah AS di Mata China

INILAHCOM, New York - Pemerintah China saat ini adalah pemegang terbesar utang pemerintah AS. Sekarang memiliki US$1,12 triliun dalam obligasi Treasury AS.

Jika China memutuskan untuk menjual kepemilikan utang pemerintah AS sebagai bentuk pembalasan dalam perang dagang yang sedang berlangsung dengan AS dan Presiden Donald Trump, itu dapat membuat pasar keuangan global terbalik dan mendorong suku bunga AS lebih tinggi.

Itu adalah langkah yang beberapa orang mulai sebut sebagai "opsi nuklir" China seperti mengutip cnbc.com.

China, bagaimanapun, memiliki beberapa alasan mengapa mereka mungkin tidak mempersenjatai kepemilikan obligasi dalam waktu dekat.


Pada akhir pekan ini, Presiden Donald Trump melunak dengan menyatakan dapat mengurangi pembatasan terhadap Huawei Technologies Inc. Sikap terbaru ini sebagai bagian dari kesepakatan perdagangan yang lebih besar dengan China. Padahal pemerintah AS telah mendesak warganhya untuk mengurangi ketergantungan pada kelompok teknologi China Huawei Technologies Inc.

Bahkan pada saat yang sama muncul sebuah laporan terpisah mengatakan Departemen Perdagangan sedang mempertimbangkan tarif pada negara-negara yang meremehkan mata uang mereka sehingga merugikan perusahaan-perusahaan AS. Saat ini tidak ada negara di dunia yang memenuhi kriteria khusus itu, tetapi AS telah lama secara tidak resmi memandang Cina sebagai manipulator mata uang.

China pun sudah menyiapkan langkah balasan terhadap sikap AS tersebut. Pemerintah China akan menaikkan tarif barang-barang AS senilai US$60 miliar sebagai balasan atas keputusan AS untuk menaikkan bea masuk barang-barang Tiongkok.

Simak: China Balas Naikkan Tarif Jadi 25% Barang AS

Beijing akan menaikkan tarif menjadi 25% dari 10% pada 1 Juni 2019, Kementerian Keuangan Cina mengatakan Senin (13/5/2019). Ini mengikuti keputusan Presiden Donald Trump untuk menaikkan bea atas produk-produk China senilai US$200 miliar menjadi 25% dari 10% ketika dua negara ekonomi terbesar dunia berjuang untuk menandatangani kesepakatan perdagangan baru.

Tindakan ini meningkatkan pertaruhan dalam konflik perdagangan yang semakin luas yang telah mengguncang investor dan mengancam akan merusak ekonomi global. Saham berjangka AS mengisyaratkan penurunan tajam pada Senin pagi di tengah eskalasi.

Komentar

Embed Widget
x