Find and Follow Us

Rabu, 19 Juni 2019 | 05:41 WIB

PT Surya Esa Fokus Penjualan Elpiji dan Amonia

Oleh : M Fadil Djailani | Sabtu, 25 Mei 2019 | 04:19 WIB
PT Surya Esa Fokus Penjualan Elpiji dan Amonia
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) terus mengawal bisnis dalam penjualan elpiji dan amoniak.

Direktur Utama ESSA, Garibaldi Thohir menyampaikan tahun ini ESSA masih fokus untuk menjalankan bisnis penjualan elpiji dan amonia. "Kita akan pastikan dulu segala sesuatunya berjalan dengan baik," kata Boy dalam keterbukaan perseroan, Jumat (24/5/2019).

Mulai Juli tahun lalu, ESSA memproduksi dan menjual amonia, melalui PT Panca Amara Utama mereka mengoperasikan pabrik amonia di di Luwuk, Sulawesi Tengah. Dalam catatan Kontan sebelumnya, mereka mengucurkan dana sebesar US$ 800 juta untuk membangun pabrik tersebut.

Sekarang ini utilitasi pabrik amonia tersebut sudah 16% melebihi dari kapasitas produksi yaitu sebesar 700.000 metrik ton. Sehingga mereka memasang target produksi lebih dari 700.000 metrik ton amonia.

PT ESSA menjual amonia ke Jepang dan Korea, adapun rencana penambahan market baru seperti Taiwan dan China, dalam penjualan amonia ESSA sudah menandatangani perjanjian offtake ammonia sampai 2027.

Hingga kuartal pertama 2019, sambungnya, mereka sudah memproduksi sebanyak 200.000 metrik ton amonia. Untuk utilisasi sudah mencapai 116%, kini ESSA juga sedang menjajaki adanya potensi untuk membangun pabrik baru.

Hanya saja, mereka masih irit bicara mengenai rencana pembangunan pabrik anyar tersebut, yang jelas untuk membangun pabrik baru itu ESSA memerlukan waktu yang cukup lama. "Kemungkinan itu terus kita jajaki baik itu untuk ekspansi elpiji ataupun amonia," imbuhnya.

Selain berkecimpung dalam bisnis penjualan amonia, mereka juga memiliki pabrik LPG berkapasitas 66.000 mt per tahun. Utilisasi pabrik elpini mereka juga sudah 18% melebih kapasitas terpasang. ESSA sudah memproduksi 18.000 mt sampai kuartal pertama tahun ini.

Pada tahun lalu mereka membidik volume produksi sebesar 76,384 ton LPG, produksi tahun ini juga diproyeksikan tak berbeda jauh dengan tahun 2018.

Ia menambahkan, belanja modal atau capital expenditure (capex) yang dianggarkan untuk tahun ini sebesar US$ 5 juta, salah satunya digunakan untuk pemeliharaan mesin. Sumber dana berasal dari internal perusahaan. Dalam RUPST, ESSA menyetujui untuk tidak membagikan dividen tahun buku 2018.

Pendapatan mereka sepanjang tahun lalu sebesar US$ 148,04 juta dengan laba bersi US$ 41,41 juta. Pada tahun ini mereka berharap pendapatan lebih tinggi seiring dengan adanya penjualan amonia. Sayangnya, ia tak dapat menyebut besaran target pendapatan tahun ini.

PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) didirikan tanggal 26 Maret 2006 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 2007.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Surya Esa Perkasa Tbk, yaitu: PT Trinugraha Akraya Sejahtera (25,30%), PT Ramaduta Teltaka (15,38%), Chander Vinod Laroya (16,16%), Sugito Walujo (5,39%) dan Bank Juliun Bear Co. Ltd. Singapore S/A (5,35%). Saham publik sebesar 24,6%.

Ruang lingkup kegiatan bisnis ESSA ialah berusaha dalam bidang industri pemurnian dan pengolahan minyak dan gas bumi; industri petrokimia; perdagangan besar, distributor utama dan ekspor untuk hasil produksi minyak, gas dan petrokimia; eksplorasi minyak dan gas bumi, hulu dan hilir; energi terbarukan; dan gas hilir.

Kegiatan utama ESSA meliputi pemurnian dan pengolahan, pembangunan kilang, perdagangan dan distribusi LPG (Liquified Petroleum Gas) dan kondensat, melakukan investasi pada fasilitas serta produk turunan dari migas termasuk mengolah industri petrokimia, melakukan kegiatan eksplorasi migas hulu dan hilir serta di bidang energi terbarukan.

Surya Esa Perkasa Tbk memiliki 3 anak usaha, yaitu: PT SEPCHEM (kegiatan usaha jasa konstruksi, bisnis dan manajemen), PT Panca Amara Utama (pengoperasian pabrik ammonia) dan PT Ogspiras Basya Pratama (penjualan gas mentah melalui pipa). [ipe]


Komentar

x