Find and Follow Us

Senin, 16 September 2019 | 19:06 WIB

PT PAU Diduga Rugikan Perusahaan BUMN

Kamis, 23 Mei 2019 | 18:29 WIB
PT PAU Diduga Rugikan Perusahaan BUMN
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Perusahaan milik pengusaha nasional Garibaldi Thohir (Boy Thohir), PT Panca Amara Utama, diduga telah merugikan perusahaan BUMN PT Rekayasa Industri (Rekind) sebesar Rp1,7 triliun untuk pembangunan proyek Pabrik Amonia Banggai di Kabupaten Luwu, Sulawesi Tengah.

Melalui Corporate Secretary dan Legal PT Rekind, Dundi Insan Perlambang menjelaskan, jika selama ini Direktur Eksekutif PAU Vinod Laroya selalu menggunakan nama Boy Thohir untuk menolak membayar kewajiban tersebut.

"Beberapa kali pertemuan mediasi sudah dilaksanakan antara Rekind dengan Saudara Vinod Laroya. Akan tetapi, Vinod sepertinya selalu pasang badan dan membawa nama besar Bapak Boy Thohir sehingga mengelak dari kewajiban membayar ke Rekind," ujar Dundi Insan Perlambang, Corporate Secretary dan Legal PT Rekind, Kamis (23/5/2019).

Dundi sendiri merasa jika Boy Thohir sudah mengetahui permasalahan ini secara utuh. Namun ia mengingatkan jika tujuan mediasi adalah untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik sehingga tidak perlu mencatut nama orang lain.

Dundi menegaskan pihak Rekind tidak ingin memperpanjang persoalan dengan pihak PAU ke jalur hukum.

"Kami hanya penasaran dan masih bertanya apakah benar Pak Boy mengetahui seluk beluk perkara ini seutuhnya? Karena Vinod sendiri terus menerus menggunakan nama Pak Boy sebagai tameng." ungkap Dundi.

Pada awalnya, PAU sendiri menjalin kontrak kerja sama dengan sebuah Perusahaan Jepang untuk mengerjakan pembangunan proyek Pabrik Amonia Banggai di Kabupaten Luwu, Sulawesi Tengah.

Namun di tengah jalan, Perusahaan Jepang tersebut tidak sanggup melanjutkan proyek dan proyek dilanjutkan oleh Rekind. Namun saat pabrik ini telah selesai dibangun dan berproduksi, PAU menolak untuk melakukan pembayaran kepada Rekind dengan dalih karena telah terjadi keterlambatan pekerjaan pembangunan.

Adapun keterlambatan tersebut karena sering terjadi demonstrasi karena komitmen penyelesaian yang tak tuntas antara pihak PAU dengan warga. Lebih lanjut Dundi menjelaskan, jika Vinod Laroya, secara tidak langsung memiliki andil dalam keterlambatan proyek ini.

Menurut Dundi, Vinod Laroya bersama timnya kerap ikut campur dalam proses pengadaan barang dengan mengarahkan pembelian dari India. Padahal dalam isi perjanjian kontrak kerja antara Rekind dan PAU, kontrak ini bersifat lump sum. Jadi, Rekind tidak harus membeli berbagai barang dari India.

"Sebelumnya Rekind tidak pernah membeli mesin dari India. Biasanya kami membeli barang dari Amerika Serikat, Jerman, atau Jepang. Karena harus membeli barang dari India, standar kerja kami (Rekind) menjadi berubah karena kualitas barang sangat jauh berbeda," jelas Dundi.

Rekind sendiri sebelumnya pernah mengingatkan ke PAU bahwa durasi waktu pengerjaan proyek ini terlalu singkat. Namun pihak PAU selalu meyakinkan Rekind jika waktu pekerjaan bisa disesuaikan dengan mudah. Kemudian Rekind juga pernah mengajukan surat permintaan perpanjangan waktu pengerjaan proyek sebanyak tiga kali kepada PAU. Akan tetapi, surat tersebut selalu dibalas secara verbal oleh Vinod Laroya, "sudahlah kerja saja. Bantu kita sampai selesai. Kita kan teman. Masalah perpanjangan waktu gampang."

Selain menunda pembayaran, Pihak PAU secara diam-diam telah mencairkan dana performance bond sebesar USD 50 juta melalui Bank Standard Chartered. Jadi total kerugian yang diderita Rekind, diperkirakan mencapai Rp2 triliun lebih.

Hal ini tentu saja membuat Rekind semakin geram terhadap PAU dan telah melaporkan kasus ini ke pihak Kepolisian dengan tuntutan pidana.

"Kami sudah melaporkan kasus ini ke pihak Kepolisian sebagai tindak pidana penggelapan karena penguasaan pabrik tanpa memiliki ijin yang sah, kemudian masih menahan sejumlah uang dan pencairan performance bond secara diam-diam," jelas Dundi.

Tercatat dalam situs web PT Panca Amara Utama (PAU), www.pau.co.id, nama Garibaldi (Boy) Thohir tercatat menjadi Komisaris Utama perusahaan tersebut. Boy Thohir sendiri adalah kakak dari Erick Thohir.

Sedangkan 60% saham dari PT PAU dimiliki oleh perusahaan terbuka, Surya Esa Perkasa Tbk, dimana tercatat nama Hamid Awaludin, Theodore Permadi (TP) Rachmat, Rahul Puri dan Ida Bagus Rahmadi menjabat sebagai Dewan Komisaris.[jat]

Komentar

Embed Widget
x