Find and Follow Us

Selasa, 20 Agustus 2019 | 06:01 WIB

EHP Sediakan Pembiayaan Konservasi di Kalteng

Selasa, 21 Mei 2019 | 12:15 WIB
EHP Sediakan Pembiayaan Konservasi di Kalteng
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Eagle High Plantations Tbk (EHP) menyediakan pendanaan 25 tahun untuk proyek konservasi keanekaragaman hayati Rimba Raya di Kalimantan Tengah (Kalteng).

Program ini berlandaskan strategi sumber daya yang bertanggung jawab bagi EHP, dan juga menunjukkan komitmen EHP terhadap usaha yang berkelanjutan dan perlindungan bentang alam. "Kami bekerja dengan Lestari Capital untuk membantu memenuhi persyaratan RSPO, memastikan komimen EHP terhadap konservasi dan keanekaragaman hayati yang memberikan dampak jangka panjang," kata Denys Collin Munang, Direktur Sustainability EHP.

"Hal ini merupakan langkah pertama dalam komitmen kami terhadap produksi berkelanjutan. Dengan tetap menjaga wilayah di sekitar perkebunan EHP," tambah Denys dalam rilis kepada media di Jakarta, Selasa (21/5/2019).

Lestari Capital memetakan proyek-proyek yang memenuhi kriteria Prosedur RSPO Remediasi dan Kompensasi (RaCP), serta mendukung EHP dalam penyusunan Concept Note dan proposal secara detail mengenai komitmen 25 tahun ini.

Alhasil, pabrik kelapa sawit (PKS) EHP dan perkebunan di sekitarnya, yaitu PT Bumilanggeng Perdanatrada (BLP) di Kumai, Kalteng, berhasil menyelesaikan Sertifikasi Audit RSPO dan menjadi unit manajemen pertama di EHP yang mendapatkan sertifikat RSPO pada 10 Mei 2019.

Komitmen EHP terhadap perlindungan bentang alam di Kalteng, mewakili visi yang lebih luas untuk bertransformasi menuju produksi yang berkelanjutan. Termasuk di dalamnya komitmen yang kuat untuk mendapatkan sertifikasi RSPO untuk semua kebun kelapa sawit yang beroperasi di 28 konsesi seluas 148,000 hektar.

Lestari Capital telah meluncurkan sebuah ekosistem marketplace yang dirancang khusus untuk mendukung Prosedur RSPO Remediasi dan Kompensasi yang difinalisasikan di tahun 2015. Marketplace, yang dikenal sebagai Sustainable Commodities Conservation Mechanism (SCCM), mendanai proyek-proyek selama 25 tahun, menyediakan pengawasan fidusia independen yang mengikat pembayaran dengan hasil di lapangan, serta memastikan manfaat bagi komunitas lokal, iklim global dan keanekaragaman hayati.

RSPO RaCP merupakan kerangka kerja untuk mengatasi masalah deforestasi, konservasi dan isu sosial di tingkat perkebunan dimana hanya sedikit badan keberlanjutan di industri lainnya yang berhasil melakukannya. "RSPO RaCP memungkinan EHP untuk menangani konservasi dan tanggung jawab sosial dengan cara yang positif, terukur dan tahan lama. Tentunya diharapkan juga lebih banyak petani turut serta meningkatkan upaya konservasi dan restorasi," kata Denys.

"Apabila ditingkatkan, upaya ini akan membantu mengubah persepsi mengenai perkebunan kelapa sawit, mengatasi kesalahpahaman dan menarik perhatian yang lebih terhadap praktik keberlanjutan sawit," tambah Denys.

Pembiayaan EHP melalui SCCM memberikan manfaat nyata di lapangan, dengan mendukung pelestarian Orangutan terbesar di dunia yang dikelola swasta. Proyek Rimba Raya juga memberikan manfaat restorasi ekosistem dan konservasi yang kritikal dan menguntungkan dengan melindungi area gambut penting di sekitar perkebunan PT BLP di Kalimantan Tengah.

Pendanaan EHP melalui RaCP akan mendukung proyek ini dalam usahanya melindungi dan merestorasi lebih dari 64,000 hektar di sekitar Taman Nasional Tanjung Puting dalam 25 tahun ke depan. [ipe]

Komentar

Embed Widget
x