Find and Follow Us

Minggu, 22 September 2019 | 23:52 WIB

Goldman Sachs Sunat Investasi Respon perang Tarif

Oleh : Wahid Ma'ruf | Jumat, 17 Mei 2019 | 07:01 WIB
Goldman Sachs Sunat Investasi Respon perang Tarif
(Foto: istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, New York - Jaringan investasi Goldman Sachs mengurangi eksposur untuk aset negara berkembang pada Kamis (16/5/2019), di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan China.

"Kami telah mengurangi paparan mata uang EM atau pasar negara berkembang) dan utang EM sampai kami memperoleh kejelasan tentang arah perjalanan untuk hubungan perdagangan AS-China dan pertumbuhan global, dengan keduanya saling berhubungan," Goldman Sachs Asset Management (GSAM)," kata dalam sebuah catatan yang diterbitkan Kamis seperti mengutip cnbc.com.

Aliran ke pasar negara berkembang dapat bergantung pada modal murah dari Federal Reserve dan sangat sensitif terhadap perubahan kebijakan moneter di AS. Ditambah dengan faktor domestik seperti defisit neraca berjalan tinggi, mata uang lemah dan ketergantungan pada komoditas, pasar ini dapat buatlah investasi yang berisiko.

Risiko tinggi dapat menyebabkan pengembalian yang lebih tinggi, tetapi untuk saat ini indeks pasar berkembang MSCI telah turun lebih dari 11% selama periode 12 bulan. Sementara itu, indeks saham utama di Amerika Serikat semua turun lebih dari 3% bulan ini.

Pekan lalu, AS menaikkan tarif impor senilai US$200 miliar dari Cina dari 10% menjadi 25%. Selain itu, Presiden Donald Trump mengindikasikan bahwa lebih banyak tarif akan diterapkan untuk barang senilai sekitar US$300 miliar yang diimpor dari China.

China membalas dengan tarif senilai US$60 miliar barang yang diimpor dari AS mulai 1 Juni. "Peristiwa ini menandai peningkatan mendadak dalam ketegangan perdagangan AS-China setelah periode yang relatif tenang sejak kuartal keempat 2018," kata GSAM dalam sebuah catatan.

Kekhawatiran perdagangan sedikit berkurang pada hari Rabu setelah CNBC melaporkan rencana Trump untuk menunda tarif otomatis hingga enam bulan. Gedung Putih menghadapi tenggat waktu Sabtu untuk memutuskan apakah akan menampar bea impor mobil dan suku cadang atas masalah keamanan nasional.

Namun, ini tidak berlangsung lama karena Trump pada hari Rabu menyatakan darurat nasional atas ancaman terhadap teknologi Amerika. Departemen Perdagangan AS mengumumkan penambahan Huawei Technologies dan afiliasinya ke Daftar Entitas Biro Industri dan Keamanan (BIS), menjadikan raksasa telekomunikasi China lebih sulit untuk melakukan bisnis dengan perusahaan AS.

Komentar

x