Find and Follow Us

Rabu, 22 Mei 2019 | 13:40 WIB

IHSG Cenderung Memerah

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 6 Mei 2019 | 00:17 WIB
IHSG Cenderung Memerah
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - IHSG tampak mulai keluar dari fase konsolidasi jangka menengah dan cenderung bergerak menurun dalam jangka pendek. IHSG akan bergerak di rentang kisaran 6.260 hingga 6.390 dalam sepekan ini.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, pelaku pasar tengah menunggu data pertumbuhan ekonomi (PDB) kuartal I-2019 di awal pekan bini, yang angkanya diperkirakan akan berada di kisaran 5,1%-5,2%. Apabila datanya positif dimana PDB Q1-2019 hasilnya tumbuh diatas 5,2%, maka besar kemungkinan IHSG akan mengalami rebound dan bergerak menguat di awal pekan.

"Data penting ekonomi lain yang ditunggu adalah data cadangan devisa akhir bulan april dan data neraca transaksi berjalan kuartal pertama tahun 2019 pada hari rabu. Diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan Q1-2019 akan menurun ke kisaran US$5,7 miliar, dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$9,1 miliar," katanya Minggu (5/5/2019).

Untuk pekan ini, pelaku pasar masih menunggu perkembangan hasil pemilu, rilis pertumbuhan ekonomi nasional (PDB) dan neraca transaksi berjalan kuartal I-2019, serta perkembangan nilai tukar rupiah dan pola investasi investor asing. Sementara dari eksternal, investor masih menunggu perkembangan perundingan dagang antara AS dan China.

Secara teknikal, IHSG terlihat mulai keluar dari fase konsolidasi jangka menengah dan cenderung bergerak menurun. Namun di akhir pekan kemaren, pergerakan IHSG terlihat mulai tertahan setelah menyentuh level support dari tren turun jangka pendeknya. Jika mampu bertahan di support 6.260, IHSG berpeluang mengalami teknikal rebound sesaat pada pekan ini, menguji area resistance di level 6.390 hingga 6.465.

"Tapi apabila gagal bertahan di support 6.260, maka IHSG berpeluang melanjutkan penurunannya dengan target menuju 6.117. Indikator teknikal MACD yang bergerak turun ke bawah centreline, mengindikasikan bahwa indeks sedang cenderung bergerak negatif."

Jika pada pekan sebelumnya IHSG masih berada dipersimpangan, maka pada akhir pekan lalu mulai terlihat bahwa IHSG cenderung bergerak menurun. Namun untuk perdagangan pekan ini, IHSG berpeluang mengalami konsolidasi, pasca mengalami koreksi dalam 2 pekan terakhir. Diperkirakan IHSG akan bergerak di rentang kisaran 6.260 hingga 6.390 dalam sepekan ini.

Pelaku pasar tengah menunggu data pertumbuhan ekonomi (PDB) kuartal I-2019 di awal pekan besok, yang angkanya diperkirakan akan berada di kisaran 5,1%-5,2%. Apabila datanya positif dimana PDB Q1-2019 hasilnya tumbuh diatas 5,2%, maka besar kemungkinan IHSG akan mengalami rebound dan bergerak menguat di awal pekan.

Data penting ekonomi lain yang ditunggu adalah data cadangan devisa akhir bulan april dan data neraca transaksi berjalan kuartal pertama tahun 2019 pada hari rabu. Diperkirakan defisit neraca transaksi berjalan Q1-2019 akan menurun kekisaran US$ 5,7 miliar, dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar US$ 9,1 miliar.

Pekan ini cukup banyak data dan agenda ekonomi penting dari luar negeri yang akan menjadi perhatian dari para investor, diantaranya adalah:

Senin 6 Mei 2019 : Rilis data sektor jasa China
Selasa 7 Mei 2019 : Rilis data penjualan ritel dan perdagangan Australia, Kebijakan suku bunga dan pernyataan Bank Sentral Australia (RBA)
Rabu 8 Mei 2019 : Rilis data perdagangan China, Pertemuan kebijakan moneter ECB
Kamis 9 Mei 2019 : Rilis data inflasi China, Rilis data keyakinan konsumen Jepang, Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell dan Rilis data perdagangan AS
Jumat 10 Mei 2019 : Pernyataan Kebijakan Moneter RBA, Rilis data GDP, manufaktur dan perdagangan Inggris, Rilis data inflasi AS

Bursa Wall Street ditutup menguat pada akhir pekan, didorong oleh pertumbuhan data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari yang diperkirakan. Departemen Tenaga Kerja AS mencatat ada penciptaan lapangan tenaga kerja baru sebanyak 263.000 pekerja pada bulan April atau lebih tinggi dari perkiraan sebesar 181.000.

Sementara tingkat pengangguran turun dari 3,8% menjadi 3,6%, atau ke level terendah sejak Desember 1969. Dow Jones berhasil naik 197,16 poin (+0,75%) ke level 26.504,95, S&P 500 menguat 28,12 poin (+0,96%) di posisi 2.945,64 dan dan Nasdaq melesat 127,22 poin (+1,58%) menjadi 8.164. Dalam sepekan, ketiga indeks saham utama AS bergerak bevariatif, dengan Dow Jones melemah -0,14%, sedangkan S&P 500 naik +0,2% dan Nasdaq menguat +0,22%.

Sementara dari dalam negeri, IHSG merosot 54,96 poin (-0,86%) ke posisi 6.319,45. Aksi jual investor asing yang mencatatkan net sell sebesar Rp 948 miliar di pasar regular menekan laju IHSG. Selama sepekan, IHSG mengalami penurunan sebesar -1,28%, dengan diikuti oleh net sell asing di pasar reguler sebesar Rp 1,6 triliun.

IHSG kembali melanjutkan pelemahannya menjadi 2 pekan berturut-turut. Situasi politik terkait hasil perhitungan pemilu yang belum final dan rilis kinerja keuangan beberapa emiten di kuartal I-2019 yang mengecewakan, turunnya data manufaktur dan meningkatnya data inflasi bulan April diatas perkiraan, serta adanya penyesuaian bobot free float dalam perhitungan indeks LQ45 yang menyebabkan para fund manager cenderung untuk melakukan rebalancing portofolionya, menjadi penyebab penurunan IHSG sepanjang pekan lalu.

Sementara dari eksternal, sentimen dari pernyataan The Fed yang mengindikasikan kemungkinan kecil suku bunga AS akan diturunkan dalam waktu dekat dan pelemahan beberapa harga komoditas utama dunia, turut menekan laju IHSG pada 2 hari belakangan jelang perdagangan akhir pekan kemaren.

Komentar

Embed Widget
x