Find and Follow Us

Jumat, 21 Juni 2019 | 04:09 WIB

Ada Motif Ekonomi dan Politik Dibalik Gaduh GIAA?

Sabtu, 27 April 2019 | 14:55 WIB
Ada Motif Ekonomi dan Politik Dibalik Gaduh GIAA?
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Gaduh di internal PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, yang dipicu laporan keuangan 2018, semestinya tak berpanjang-panjang. Penolakan dua komisarisnya mengundang sejumlah spekulasi.

Ya, dua komisaris Garuda yakni Chairul Tanjung dan Dony Oskara, menolak menandatangani Laporan Keuangan 2018, memantik berbagai rumors. Termasuk mengakitkannya dengan urusan politik, apalagi kalau bukan Pilpres 2019 yang kini masih menunggu proses penghitungan pihak Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Pada Rabu (24/4/2019) bertempat di Hotel Pullman, Jakarta, emiten penerbangan pelat merah bersandi GIAA itu, menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahun Buku 2018.

Dalam kesempatan ini, dua komisaris itu menolak laporan keuangan. Di mana, Chairal Tanjung yang mewakili PT Trans Airways, bagian dari CT Corp, dan Dony Oskaria mewakili Finegold Resources Ltd, menguasai 28,08% saham GIAA.

Penolakan tersebut ditunjukkan dengan tidak menandatangani laporan keuangan, lantaran kepemilikan sahamnya menjadi minoritas. Sebab, saat voting mengenai persetujuan atas laporan keuangan, sebesar 31,3% pemegang saham menolak untuk menyetujui.

Salah satu perwakilan pemegang saham meminta dibacakan alasan penolakan tersebut. Namun, disenting opinion dari kedua komisaris itu, urung dibacakan. Mayoritas pemegang saham setuju atas laporan keuangan sehingga diketok palu oleh ketua sidang, yakni Komisaris Utama Agus Santoso. Selain itu, RUPS memutuskan adanya pergantian direksi dan komisaris.

Penyebab ketidaksetujuan CT, sapaan akrab Chairul Tandjung dan Dony atas laporan keuangan Garuda, melahirkan tanda tanya besar. Termasuk motivasi yang mendorong dibacakannya disenting opinion dalam RUPS.

Terkesan kuat, alasan penolakan itu bukan sekedar masalah akuntansi semata. Sebagai perusahaan terbuka, persoalan internal yang terpublikasi tentunya akan berpengaruh pada nilai saham yang bersangkutan.

Tindakan kedua komisaris ini, dipastikan bakal memengaruhi opini pasar. Kini, banyak pihak melotarkan spekulasinya. Ada motif ekonomi. Di mana, ketika harga saham Garuda rontok, berdampak kepada turunnya nilai aset CT Corp.
Kecuali, apabila CT Corp berniat memborong sisa saham publik di Garuda. Maka, semakin anjlok saham Garuda maka semakin murah dan mudah memborong sahamnya.

Namun, adapula spekulasi terkait politik pilpres. Namun, memang tidak jelas keuntungan politik yang ingin diraih. Karena, pilpres sudah usai, tapi kubu pasangan capres Prabowo-Sandi masih saja menyerang BUMN. Di mana, Garuda adalah salah satu yang paling disorot.

Kesempatan lalu, Prabowo gencar mengkritik Garuda sebagai BUMN yang hancur dan merugi. Ada yang mengasumsikan bahwa penolakan laporan keuangan Garuda itu mewakili sekaligus pembuktian salah satu kubu dalam pilpres 2019.

Apalagi, afiliasi CT Corp yang dekat dengan salah satu parpol yang merapat ke pasangan pilpres nomor urut 02. Namun semuanya adalah spekulasi. Bisa benar bisa pula meleset. Lebih baik, kita tunggu saja perkembangannya. [ipe]




Komentar

x