Find and Follow Us

Rabu, 24 Juli 2019 | 12:20 WIB

Laporan Keuangan Aneh, BEI Panggil Direksi Garuda

Oleh : Wahid Ma'ruf | Jumat, 26 April 2019 | 11:03 WIB
Laporan Keuangan Aneh, BEI Panggil Direksi Garuda
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) dalam laporan keuangannya menyatakan perusahaan meraih laba sebesar US$809,85 ribu atau sekitar Rp11,33 miliar.

Namun laporan keuangan tersebut mendapat penolakan dari dua komisaris GIAA Chairul Tanjung dan Donny Oskaria, dua komisaris tersebut menilai laporan keuangan GIAA sedikit ganjal, akibatnya kedua orang tersebut menolak menandatangani laporan keuangan tersebut.

Menanggapi hal itu otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) mengaku sedang mempelajari laporan keuangan GIAA tersebut, lantaran menimbulkan polemik.

"Bursa telah dan sedang mempelajari khususnya terkait dangan perjanjian dan pengakuan pendapatan," kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna kepada media di Jakarta, Jumat (26/4/2019).

Nyoman menambahkan pihak Bursa telah meminta penjelasan dari Perseroan secara tertulis. "Meminta penjelasan secara lisan dengan berkoordinasi dengan tim Perseron," katanya.

Maka dari untuk lebih memperjelas kondisi yang sebenarnya, Nyoman mengatakan bakal memanggil GIAA pada tanggal 30 April 2019 mendatang.

"Untuk memperjelas nature transaksi atas pendapatan tersebut, Bursa akan mengadakan hearing pada Selasa, 30 April," ucapnya.

Sebelumnya, dua komisaris GIAA menyoroti kejanggalan dalam laporan keuangan 2018. Terdapat beberapa pos keuangan yang pencatatannya tak sesuai standar akuntansi yang membuat kinerja Garuda Indonesia untung pada 2018, padahal seharusnya merugi.

Cerita kejanggalan tersebut bermula dari kerja sama yang dilakukan antara PT Mahata Aero Teknologi dan PT Citilink Indonesia, penyediaan koneksi wifi di armada pesawat.

Kerjasama tersebut kemudian diperluas ke Garuda Grup, yang juga mengikutkan Sriwijaya Air.

Dari situ, Garuda akan mendapatkan pembayaran dari Mahata Aero Teknologi sebesar US$239,94 juta. Pembayaran tersebut, US$28.000.000 di antaranya merupakan bagi hasil Garuda Indonesia dengan PT Sriwijaya Air.

Namun, hingga akhir 2018 belum ada pembayaran yang masuk dari Mahata Aero Teknologi. Walau begitu, Garuda Indonesia dalam laporan keuangan sudah mengakuinya sebagai pendapatan tahun lalu.

Dari pihak Trans Airways berpendapat angka itu terlalu signifikan hingga mempengaruhi neraca keuangan Garuda Indonesia. Jika nominal dari kerja sama tersebut belum masuk sebagai pendapatan, perusahaan sebenarnya masih merugi US$244.958.308.

"Adapun dengan mengakui pendapatan dari perjanjian Mahata maka perusahaan membukukan laba sebesar US$5.018.308," tulis Chairal dan Dony dalam surat yang ditujukan kepada manajemen Garuda Indonesia.

Dua komisaris ini berpendapat dampak dari pengakuan pendapatan itu menimbulkan kerancuan dan menyesatkan. Masalahnya, keuangan Garuda Indonesia jadi berubah signifikan dari yang sebelumnya rugi menjadi untung.

Tak hanya itu, catatan tersebut membuat beban yang ditanggung Garuda Indonesia menjadi lebih besar untuk membayar Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Padahal, beban itu seharusnya belum menjadi kewajiban karena pembayaran dari kerja sama dengan Mahata belum masuk ke kantong perusahaan.

Chairal mengkonfirmasi keberatan surat itu kepada awak media usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada Rabu (24/4/2019).

Ia mengatakan ada dua pendapat yang berbeda dalam penyajian laporan keuangan Garuda Indonesia periode 2018. Chairal sempat meminta agar keberatan itu dibacakan dalam RUPST, tapi atas keputusan pimpinan rapat permintaan itu tak dikabulkan.

Komentar

x