Find and Follow Us

Rabu, 22 Mei 2019 | 13:44 WIB

Inilah Pemicu Kejatuhan Harga Saham CPIN dan JPFA

Oleh : Wahid Ma'ruf | Jumat, 26 April 2019 | 08:05 WIB
Inilah Pemicu Kejatuhan Harga Saham CPIN dan JPFA
(Foto: Dok)

INILAHCOM, Jakarta - Saham CPIN dan JPFA kembali mengalami koreksi yang signifikan dalam beberapa hari terakhir, kejatuhan saham ini membuat saham ini kembali merebut perhatian para investor ritel.

Banyak investor ritel yang bingung mengapa saham dengan fundamental yang sangat baik seperti JPFA dan CPIN bisa turun terus harganya. Jika melihat dari level tertingginya beberapa bulan yang lalu, sampai saat ini saham CPIN dan JPFA sudah turun lebih dari 40%.

Penurunan tersebut disambut dengan reaksi yang berbeda di forum-forum saham, ada yang mengeluh dan khawatir karena sudah nyangkut parah, sementara bagi mereka yang belum nyangkut menganggap penurunan ini sebagai bahaya kesempatan untuk membeli kedua saham ini di harga diskon.

"Kami sendiri sudah 2 kali membahas mengenai penurunan saham JPFA, yang terakhir kami membahas mendalam mengenai aksi jual yang dilakukan oleh KKR di pasar nego yang sebenarnya berpotensi memberikan dampak positif untuk JPFA," kata analis saham Argha J Karo Karo seperti mengutip dari creatice.trader.com.

Namun pada kenyataannya saham JPFA tetap saja melanjutkan keterpurukanya sampai saat ini. Alasannya penurunan harga JPFA sebenarnya sangat sederhana. Bahkan tidak ada hubungannya dengan fundamental perusahaan atau berkurangnya kepemilikan KKR di perusahaan ini.

"Harga JPFA terus turun dalam beberapa bulan terakhir karena dalam periode yang sama investor asing terus melakukan aksi jual besar-besaran di saham ini, cuma itu alasannya."

Namun pertanyaan selanjutnya adalah kenapa asing terus jualan, dan apa hubungan aksi jual asing ini dengan kesuksesan program Yuk Nabung Saham?

"Ok kami akan coba jawab satu per satu. Kenapa Asing jualan, padahal fundamental saham ini sangat bagus?"

Jawabannya sederhana, sama seperti investor lokal, tujuan asing trading di Indonesia bukan untuk mengagumi fundamental perusahaan-perusahaan di Indonesia.

"Kita juga tentunya pernah dan boleh jualan saham yang fundamentalnya bagus, kenapa asing tidak boleh ? Dan kita bisa bertanya ke diri kita sendiri kenapa kita jualan saham, padahal kita yakin fundamental saham tersebut masih sangat baik. Tentu jawabannya sederhana, karena kita sudah untung."

Di bursa saham profit taking adalah alasan utama semua pelaku pasar menjual sahamnya, tidak peduli dia asing atau lokal, bandar atau ritel, fundamental sahamnya bagus atau jelak, pada akhirnya kalau sudah untung umumnya kita akan berpikir untuk jualan. "Dan sebagai investor asing yang memiliki saham dalam jumlah besar, proses profit taking tentu tidak bisa disamakan dengan proses kita jualan, karena jumlah saham yang mereka miliki besar, mereka tidak bisa asal jual begitu saja."

Karena kalau mereka mau jual dalam jumlah besar, secara tidak langsung asing juga harus meningkatkan minat beli investor dalam negeri supaya mau menampung barang mereka. Kerena Asing tidak akan bisa profit taking, kalau investor lokalnya tidak mau beli saham yang mereka jual.

Jadi jika dihubungkan dengan kasus JPFA pertanyaan pentingnya bukan Kenapa asing terus jualan JPFA, tetapi kenapa investoir liokal masih mau beli saham JPFA?

Karena faktanya minat beli investor lokal terhadap JPFA terlihat tidak habis-habisnya. Sebagai contoh dalam 2 hari terakhir ketika harga saham JPFA jatuh cukup dalam, jumlah pembelian investor lokal sampai sebesar Rp53 miliar, hal ini menunjukan betapa besarnya minat beli investor lokal pada saham ini.

"Padahal jika kita belajar dari pembahasan kami mengenai kehancuran saham AISA tahun 2017 lalu, memang benar beberapa bulan sebelum pabriknya digrebek Polisi, Investor Asing sudah melakukan aksi cut loss besar-besaran."

Namun pada saat terjadi penggerebekan ketika semua semua investor lokal dalam kondisi panik, dan mencoba untuk cutloss, investor asing justru melakukan sedikit aksi pembelian untuk menenangkan market, dan membuat harga AISA rebound.

"Kita bisa melihat bagaimana aksi investor asing dalam periode tersebut, dan bagaimana investor asing bahkan terpaksa melakukan pembelian untuk menenangkan investor lokal, justru di masa-masa penggerebakan pabrik AISA, karena ketika semua investor lokal panic dan mau jualan, mereka tidak bisa ikut jualan."

Itu sebabnya aksi jual asing harus sudah dimulai beberapa bulan sebelum pabrik AISA digrebek polisi, dan baru bisa dilanjutkan lagi beberapa minggu setelah penggerebekan ketika investor lokal tenang, sehingga investor asing bisa jualan lagi sampai akhirnya menjatuhkan harga saham ini dari level 1.000an ke level 300an.

"Kesimpulan yang bisa kita ambil dari kasus awal kehancuran AISA ini adalah, tidak peduli seburuk apa pun kondisi AISA saat ini, kalau investor lokal takut, dan berbondong-bondong untuk cut loss, maka mau tidak mau aksi jual asing akan berhenti, dan mereka akan melakukan pembelian untuk menenangkan market.

Jadi kalau mulai hari ini semua investor lokal berbondong-bondong cut loss saham JPFA, maka dalam waktu singkat asing akan melakukan pembelian dan harga JPFA akan mulai rebound. Namun tentunya kalau kondisi JPFA baik-baik saja, mustahil secara tiba-tiba ada panic massal di saham ini dan mendorong semua investor lokal mencoba untuk cut loss JPFA.

Dampak Program Yuk Nabung Saham
Dalam bagian sebelumnya kami menjelaskan bagaimana tingginya minat beli investor lokal justru membuat investor asing bisa terus melakukan penjualan, yang menyebabkan harga JPFA masih terus turun saat ini. Namun selain faktor minat beli investor lokal, faktor lain yang juga sangat mempengaruhi adalah meningkatnya jumlah investor ritel lokal.

Dan memang seperti sudah sering di mention oleh Bursa Efek Indonesia, bahwa pertumbuhan jumlah investor di Indonesia dalam beberapa tahun memang sangat signifikan. Supaya anda bisa membayangkannya dalam tabel di bawah kami lampirkan data jumlah investor di akhir 2017 dan di akhir 2018.

"Kita bisa melihat sepanjang tahun 2018, total investor saham di Indonesia naik sebesar 220.284 investor, penyumbang pertumbuhan investor terbesar masuk berasal dari kategori Investor Lokal Individual (alias investor ritel) yang bertambah sebanyak 214.976 orang."

Dengan mengethui pertambahan investor ritel yang begitu besar ini disebabkan oleh suksesnya kampanye Yuk Nabung Saham sepanjang tahun 2018 lalu.

"Namun selama ini banyak orang salah mengerti akan efek yang ditimbulkan dari bertumbuhnya jumlah investor dalam lokal di bursa kita. Banyak orang mengira dengan bertambahnya investor dalam negeri maka bursa kita akan berhenti dikendalikan oleh investor asing dan kendali akan dipegang oleh investor lokal."

Pemahaman itu adalah pemahaman yang salah, karena pada kenyataannya sampai saat ini pun pergerakan IHSG masih dikendalikan sepenuhnya oleh investor asing. Seperti saat bisa lihat sepanjang tahun 2018 lalu kalau asing yang belanja IHSG akan naik, kalau lokal yang belanja IHSG akan turun.

Karena memang sejak awal tujuan Bursa Efek Indonesia dalam menggenjot pertumbuhnya investor lokal bukanlah untuk merebut kekuatan dari Investor Asing, melainkan untuk menjaga kestabilan IHSG.

Direktur BEI tahun 2018, Tito Sulistio bahkan pernah mengatakan, dengan bertumbuhnya investor dalam negeri maka IHSG tidak akan mudah jatuh jika terjadi arus outflow yang dilakukan investor asing.

Pihak bursa tidak pernah mengatakan dengan bertambahnya investor dalam negeri maka kedepannya investor lokal-lah yang memutuskan kemana arah IHSG. Tito Sulistio juga tidak pernah mengatakan pertambahan investor lokal akan membuat IHSG akan naik ketika investor lokal sedang melakukan pembelian, dan akan turun ketika investor asing melakukan pembelian.

"Krena memang manfaat utama dari pertambahan investor lokal adalah supaya IHSG tidak jatuh terlalu dalam kalau Investor Asing sedang melakukan aksi jual / profit taking."

Jika dulu ketika asing jualan Rp10 triliun IHSG bisa jatuh 10%, sekarang mungkin hanya jatuh 5%. Jadi memang kegunaan investor lokal bukanlah untuk menaikan IHSG, melainkan untuk menahan kejatuhan IHSG, itulah yang dimaksud menjaga kestabilan IHSG.

Dengan kata lain dengan bertambahnya pertumbuhan investor dalam negeri maka investor asing bisa mendapat profit yang lebih besar di bursa kita, karena sekarang meskipun asing jualan banyak harga saham tidak terlalu turun, jadi mereka tetap bisa profit taking di harga yang tinggi.

Hal itu jugalah yang terjadi di JPFA dalam beberapa bulan terakhir, kita tahu sebagai saham dengan fundamental yang baik JPFA menjadi salah satu saham yang masuk dalam rekomendasi yang layak untuk ditabung, artinya akan dari 214 ribu investor baru di bursa kita tahun 2018 lalu, sebagian di antaranya kemungkinan akan menjadi pembeli baru saham JPFA.


Saham JPFA Oktober 2015 April 2019

Dalam grafik di atas kita bisa melihat grafik Foreign Flow JPFA dari Oct 2015 April 2019, di bagian awal berwarna ungu kita melihat bahwa pada bulan November 2015 lalu investor asing mulai melakukan akumulasi besar-besaran di saham JPFA. Sebab sejak tanggal 1 Nov 2015 sampai 13 Oct 2016, Asing membeli saham JPFA dari investor lokal sebanyak 3.58 juta lot dengan rata-rata harga pembelian di harga 1.084.

Pembelian JPFA sendiri dilakukan investor asing sejak harga JPFA di 350 dan berakhir ketika harga JPFA di 1800an.

Setelah itu dari bulan October 2016 sampai November 2018 investor asing hanya keluar masuk di saham JPFA tanpa pernah melakukan akumulasi atau distribusi yang signifikan, kepemilikan asing di saham ini pun terlihat cukup stabil sepenjang periode tersebut.

Aksi jual besar-besaran asing baru mulai dilakukan tanggak 4 Des 2018 lalu, dan berlangsung terus sampai perdagangan kemarin, dan total saham yang sudah dijual Investor Asing ke Investor Lokal pada saat itu sebesar 6.22 juta lot, dengan average harga di 2.171.

Artinya jika dibandingkan dengan periode pembelian asing tahun 2016 lalu, dan kita mengasumsikan semua saham yang dibeli asing dalam periode (1 Nov 15 13 Oct 16) baru dijual dalam beberapa bulan terakhir ini maka Investor Asing sudah meraih keuntungan sebesar 1.084 / lember saham, dan jika dikali 3.58 juta lot yang dibeli maka proyeksi keuntungan Asing mencapai Rp387 miliar.

Dan perlu juga diingat bahwa perhitungan tersebut baru menghitung penjualan sebanyak 3.58 juta lot yang dibeli di tahun 2016 lalu, sementara yang sebenarnya sudah dijual asing sejak Desember lalu sebesar 6.22 juta lot. Artinya keuntungan investor asing di saham ini sebenarnya jauh lebih besar dari itu, karena masih ada sisa 2.64 juta lot yang kemungkinan dibeli asing jauh sebelum tahun 2016 lalu dan di harga yang lebih murah lagi.

"Jika kita melihat perhitungan tersebut kita melihat betapa besarnya keuntungan yang diperoleh Investor Asing di saham JPFA ini, dan hal tersebut hanya bisa diraih asing berkat kesuksesan Program Yuk Nabung Saham."

Karena dengan meningkatnya jumlah investor lokal yang membeli saham JPFA, maka asing pun bisa melakukan profit takingnya dalam jumlah besar tanpa membuat harga JPFA jatuh terlalu dalam.

Tanpa peningkatan signfikan jumlah Investor dalam Negeri, aksi jual asing sebesar 6.2 juta lot kemungkinan membuat harga saham ini kembali ke level 350an. Namun karena jumlah investor lokal bertambah banyak, dan yang berarti masuknya dana-dana segar yang baru ke bursa saham, maka investor asing sekarang bisa menjual dalam jumlah yang lebih besar di harga yang lebih mahal, sehingga untuk mereka pun bisa memperoleh keuntungan jauh lebih besar.

Namun bukan berarti pihak Bursa Efek Indonesia mempromosikan program Yuk Nabung Saham dengan tujuan menjebak para Investor Lokal. Karena nabung saham fokusnya untuk jangka panjang, dan dalam jangka panjang hampir bisa dipasitikan asing akan kembali lagi melakukan akumulasi di saham JPFA.

Bayangkan kalau kedepannya asing kembali melakukan buyback saham JPFA sebesar 3 juta lot dan pembelian dimulai di harga saat ini di 1500an, maka sama seperti tahun 2016 lalu, pembelian besar-besaran tersebut akan membuat saham JPFA naik ratusan persen dari harga awal akumulasi mereka.

Namun tentunya KAPAN investor asing akan mulai lagi membuyback saham JPFA, SEBERAPA yang akan mereka beli kembali, semuanya murni keputusan asing. Sebagai investor lokal kita hanya bisa menunggu sambil beharap asing segera menghentikan aksi jualnya, dan segera mem-buyback kembali saham JPFA. Supaya saham JPFA berhenti turun, dan bisa mulai naik lagi.

"Atau tentunya sambil menunggu asing kembali menaikan harga saham JPFA kita bisa melakukan anjuran bursa untuk menabung saham ini, membeli sedikit demi sedikit, supaya ketika nanti saham JPFA mulai diangkat asing lagi, harga rata-rata kita sudah lebih rendah."

Komentar

Embed Widget
x