Find and Follow Us

Selasa, 25 Juni 2019 | 19:15 WIB

IHSG Masih Bisa Turun

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 8 April 2019 | 00:15 WIB
IHSG Masih Bisa Turun
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Saat ini IHSG masih berada di fase konsolidasi dalam channel turun jangka pendek. Kemungkinan IHSG akan bergerak sideways cenderung menguat.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, sentimen positif dari bursa saham dunia yang menguat diharapkan dapat menular dan dapat menjadi faktor positif yang mendorong IHSG keluar dari area konsolidasinya.

Secara teknikal, pergerakan IHSG masih sama dengan pekan sebelumnya, yaitu melanjutkan konsolidasinya dengan bergerak menyamping. IHSG masih belum banyak perubahan dibanding minggu sebelumnya, karena belum dapat move on dari fase konsolidasi dalam channel turun jangka pendeknya. "Terlihat IHSG masih belum berhasil mendobrak ke atas channel turun tersebut, sebagaimana yang terlihat pada chart IHSG di bawah ini," katanya Minggu (7/4/2019).

Jika mampu menjebol batas atas channel turun tersebut di level 6.505, IHSG berpotensi menguji level 6.581. Nantinya apabila mampu melewati ke atas level 6.581, maka IHSG berpotensi menuju level tertinggi sepanjang sejarah yang pernah di capainya pada bulan februari tahun lalu di level 6.693.

Sementara untuk level support IHSG pekan ini diperkirakan berada di 6.440. Indikator teknikal MACD yang masih bergerak mendatar diatas centreline, mengindikasikan bahwa IHSG masih dalam fase konsolidasinya di area positif.

Untuk pekan ini, pelaku pasar akan mencermati rilis data cadangan devisa bulan Maret yang akan dirilis di awal pekan. Sedangkan pada hari selasa akan dirilis data penjualan ritel nasional.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini, diantaranya adalah Senin 8 April 2019, Rilis data keyakinan konsumen Jepang, Rilis data perdagangan Jerman.

Rabu 10 April 2019, Rilis data keyakinan konsumen Australia, Rilis data GDP, manufaktur dan neraca dagang Inggris, Kebijakan moneter, konferensi pers dan putusan suku bunga ECB, Rilis data inflasi AS, Pertemuan The Fed.

Kamis 11 April 2019, Rilis data inflasi China, Rilis data inflasi Jerman, Pertemuan OPEC, Rilis data harga produsen AS. Jumat 12 April 2019: Rilis data perdagangan China.

Data Ekonomi Topang Wall Street
Bursa Wall Street menguat pada penutupan perdagangan akhir pekan, didorong oleh pertumbuhan pekerjaan pada bulan Maret yang lebih baik dari perkiraan, sehingga meredakan kekhawatiran akan perlambatan ekonomi.

Departemen Tenaga Kerja AS mengatakan data non farm payroll bertambah 196.000 pekerjaan pada bulan Maret, melampaui perkiraan sebanyak 180.000 pekerjaan dari para ekonom yang disurvei Reuters, sehingga menghilangkan ketakutan investor yang sebelumnya berpikir akan terjadinya resesi.

Dow Jones berhasil naik 40,36 poin (+0,15%) menjadi 26.424,99 dan Nasdaq menambahkan 46,91 poin (+0,59%) menjadi 7.938,69. Sedangkan S&P 500 ditutup lebih tinggi selama 7 hari perdagangan berturut-turut yang merupakan kenaikan beruntun terpanjang sejak Oktober 2017, dengan menguat 13,35 poin (+0,46%) menjadi 2.892,74.

Selama sepekan, bursa saham AS berhasil membukukan kenaikan mingguan, dengan Dow Jones menguat +1,91%, S&P 500 berhasil naik +2,06% dan Nasdaq meningkat +2,71%.

IHSG Tunggu Perkembangan AS-China
Sementara dari dalam negeri, IHSG melemah 20,61 poin (-0,32%) ke posisi 6.474,01 pada akhir pekan. Walaupun melemah, namun investor asing membukukan net buy dengan membeli saham sebesar Rp193 miliar di pasar regular. Dalam sepekan, IHSG berhasil menguat tipis +0,08%, dengan diikuiti oleh net buy asing di pasar reguler sebesar Rp1,85 triliun.

IHSG bergerak fluktuatif dan cenderung datar dalam sepekan terakhir. Pergerakan IHSG diwarnai oleh kemungkinan bakal tercapainya kesepakatan dagang antara AS dan China.

Walaupun dari ekternal sentimennya positif, tapi isu pemilu masih menjadi faktor penggerak IHSG bergerak mendatar. Jelang perhelatan puncak pileg dan pilpres yang menyisakan waktu kurang dari 2 pekan, memunculkan respon sikap wait & see dari pelaku pasar domestik yang menantikan kepastian politik.

Komentar

Embed Widget
x