Find and Follow Us

Jumat, 21 Juni 2019 | 04:50 WIB

Sepanjang 2018, Produksi EHP Naik 33 Persen

Jumat, 29 Maret 2019 | 15:30 WIB
Sepanjang 2018, Produksi EHP Naik 33 Persen
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Sepanjang 2018, PT Eagle High Plantations Tbk (EHP) membukukan produksi sebanyak 1,8 juta ton tandan buah segar (TBS). Naik 33% ketimbang produksi tahun lalu.

Kenaikan produksi TBS ini seiring dengan melompatnya produksi Crude Palm Oil (CPO) dan Palm Kernel (PK) masing-masing 383.000 ton dan 63.000 ton. Atau meningkat 24% dan 29%.

"Kenaikan pencapaian produksi ini merupakan bukti keberhasilan Perseroan melakukan berbagai pembenahan dan peningkatan kualitas pendukung operasional," kata Nicolaas B Tirtadinata, Presiden Direktur PT EHP di Jakarta, Jumat (29/3/2019).

Sepanjang 2018, terang Nicolaas, perseroan melakukan perbaikan dan perawatan infrastruktur hingga penerapan praktek agronomi terbaik, secara konsisten. Disamping itu, pada pertengahan 2018, perseroan memberikan premi yang menantang bagi pemanen agar lebih produktif.

Perseroan juga mulai mengoperasikan secara komersial pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) yang baru. Di mana, PKS itu berkapasitas produksi 45 ton/jam yang berlokasi di Kabupaten Keerom, mengolah seluruh hasil panen TBS dari kebun anak usaha, yaitu PT Tandan Sawita Papua.

"Perseroan juga mulai memetik hasil dari inovasi teknologi sistem yang membantu mengumpulkan data secara lengkap, cepat dan akurat untuk mendukung ketepatan analisa dan pengambilan keputusan," kata Nicolaas.

Berbagai inovasi teknologi sistem dilakukan, lanjutnya, antara lain implementasi Jedox untuk system pengelolaan anggaran, serta digital harvesting system (DHS) untuk proses pemanenan hingga memastikan TBS tiba di pabrik.

Di samping itu, lanjutnya, perseroan melakukan migrasi dari versi SAP sebelumnya ke S4Hana dengan menggunakan Alibaba Cloud untuk Server S4Hana. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi dan adaptasi terhadap perkembangan teknologi yang sangat cepat, sehingga EHP mampu memanfaatkan teknologi secara tepat guna.

Dengan menggunakan S4Hana maka akan memberikan platform teknologi yang memudahkan analisa dan reporting sekaligus monitoring operasional perusahaan. Di samping itu, penggunaan teknologi baru dalam industri agribisnis dapat lebih mudah diimplementasikan dengan S4Hana, seperti penggunaan Artificial Intelligence dan teknologi baru lainnya.

Sayangnya, harga CPO pada 2018, mengalami penurunan sebesar 13% dibanding harga 2017. Penurunan harga ini berdampak langsung kepada total pendapatan perseroan yang hanya naik 1% menjadi Rp3,083 triliun. Dampak berikutnya, perseroan membukukan kerugian bersih Rp462,6 miliar. "Perseroan semestinya tidak membukukan kerugian jika harga CPO setidaknya sama dengan harga pada 2017," kata Nicolaas. [tar]

Komentar

x