Find and Follow Us

Rabu, 24 Juli 2019 | 11:19 WIB

PT Latinusa Berharap Tak Rugi Kurs Lagi

Oleh : Wahid Ma'ruf | Selasa, 26 Maret 2019 | 20:53 WIB
PT Latinusa Berharap Tak Rugi Kurs Lagi
(Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - PT Latinusa Tbk (NIKL) pada tahun 2019, berharap nilai tukar rupiah bisa menguat terhadap dolar AS sehingga bisa menekan rugi kurs hanya US$600 ribu saja.

Jika hal itu tercapai, maka emiten produsen kemasan tersebut, dapat kembali membukukan laba bersih pada tahun 2019.

Direktur Keuangan NIKL, Jetrinaldi mengatakan pada tahun 2019 kinerja keuangan kembali membaik seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang stabil.

"Jika kurs stabil, maka rugi kurs perseroan hanya US$600 ribu," kata Jetrinaldi dalam keterbukaan informasi di BEI, Selasa (26/3/2019).

Di samping itu, jelas dia, kinerja perseroan akan meningkat seiring dengan utiilisasi produksi ke level 100%. Sedangkan pada tahun 2018 baru mencapai 85%. "Tahun lalu, dari kapasitas produksi 165.000 ton utilisasi baru mencapai 85% dan tahun ini akan di genjot sampai 100%," kata dia.

Perseroan, pada tahun 2018 mengalami rugi sebesar US$1,57 juta. Penyebabnya karena rugi kurs memcapai US$2,8 juta. "Tahun 2018, kami masih mencatatkan laba usaha, tapi karena rugi kurs mencapai US$2,8 juta makanya perseroan mengalami rugi, Tapi kalau rugi kurs dapat di take off maka masih mencatatkan laba," jelas dia.

Untuk menopang rencana tersebut, lanjut dia, perseroan telah menyiapkan belanja modal sekitar US$3,6 juta untuk perawatan mesin produksi. "Adapun sumber dananya, berasal dari Bank-Bank asal Jepang yang sangat mendukung kami," kata dia.

PT Pelat Timah Nusantara Tbk (dikenal dengan nama PT Latinusa) (NIKL) didirikan tanggal 19 Agustus 1982 dan memulai kegiatan usaha komersialnya pada tahun 1986.

Pemegang saham yang memiliki 5% atau lebih saham Pelat Timah Nusantara Tbk, antara lain: Nippon Steel & Sumitomo Metal Corp (pengendali) (35,00%), Mitsui & Co, Ltd (pengendali) (10,00%), Metal One Corporation (pengendali) (5,00%), Nippon Steel Sumikin Bussan (pengendali) (5,00%), Krakatau Steel (Persero) Tbk (KRAS) (20,10%) dan PT Baruna Inti Lestari (5,005%).

Ruang lingkup kegiatan NIKL adalah bergerak dalam bidang industri baja lembaran lapis timah (tinplate) dengan proses electrolytic dan revamping. Produk utama Latinusa adalah menyediakan produk tinplate dalam bentuk gulungan (coil) dan lembaran (sheet and scroll).

Pada tanggal 04 Desember 2009, NIKL memperoleh pernyataan efektif dari Bapepam-LK untuk melakukan Penawaran Umum Perdana Saham NIKL (IPO) kepada masyarakat sebanyak 504.670.000 dengan nilai nominal Rp100 per saham dengan harga penawaran Rp325 per saham.

Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tanggal 14 Desember 2009.

Saham NIKL pada penutupan Selasa berada di harga Rp3.090 per saham dari pembukaan Rp3.110 per saham.

Dalam setahun terakhir, harga tertinggi saham NIKL di Rp4.900 per saham pada penutupan 28 September 2018. Untuk harga terendah di Rp1.810 per saham pada penutupan 5 September 2018.[hid]

Komentar

x