Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Kamis, 21 Maret 2019 | 18:41 WIB

IHSG Masih Cenderung Negatif

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 11 Maret 2019 | 00:17 WIB

Berita Terkait

IHSG Masih Cenderung Negatif
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Untuk pekan ini, IHSG bepotensi bergerak di rentang kisaran area 6.354 hingga 6.481. Sentimen yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG akan datang dari data ekspor-impor dan neraca perdagangan bulan Februari yang akan dirilis pada hari Jumat (15/3/2019).

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, pekan ini, IHSG masih dibayangi oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang kembali melemah diatas level 14.300/USD.

Selain itu, pelaku pasar masih menantikan berlanjutnya sisa rilis laporan keuangan emiten tahun 2018. Sementara dari eksternal investor akan melakukan antisipasi pertemuan dagang AS-China.

"Turunnya harga komoditas dunia seiring sentimen dari perlambatan pertumbuhan ekonomi global akan membuat para pelaku pasar lebih cenderung berhati-hati terhadap saham pertambangan. IHSG diprediksikan akan bergerak mixed pada awal pekan besok, dengan perkiraan akan bergerak di rentang 6.374-6.425," kata Stefanus seperti mengutip hasil risetnya, Minggu (10/3/2019).

Data ekspor-impor dan neraca perdagangan bulan Februari yang akan dirilis pada hari Jumat. Diperkirakan data perdagangan masih akan mengalami defisit, seiring lemahnya ekspor.

Sementara dari luar negeri, data dan agenda ekonomi penting yang akan menjadi perhatian para investor pada pekan ini diantaranya adalah Senin 11 Maret 2019 Pernyataan Ketua The Fed Powell, Rilis data perdagangan Jerman, Pertemuan Eurogroup, Rilis data penjualan ritel AS.

Selasa 12 Maret 2019, Pernyataan Ketua The Fed Powell, Rilis data perdagangan dan GDP Inggris, Rilis data inflasi AS. Rabu 13 Maret 2019 : Rilis data keyakinan konsumen Australia, Brexit Vote dan rilis anggaran tahunan Inggris, Rilis data durable goods orders dan indeks harga produsen AS

Jumat 15 Maret 2019 : Kebijakan moneter dan konferensi pers BOJ serta suku bunga Jepang.

Reli Negatif
Wall Street melemah pada akhir pekan dan memperpanjang penurunan dalam 5 hari berturut-turut. Pelemahan seiring laporan data tenaga kerja AS yang melemah memicu lebih banyak kekhawatiran tentang kondisi ekonomi global.

Data Tenaga Kerja AS mengumumkan penciptaan lapangan kerja sektor non-pertanian periode Februari hanya sebanyak 20.000, sangat jauh di bawah konsensus 180.000. Selain itu, data gaji yang dilaporkan juga terlemah sejak September 2017.

Data tersebut menambah tanda-tanda perlambatan tajam dalam kegiatan ekonomi pada kuartal pertama. Dow Jones ditutup melemah 22,99 poin (-0,09%) ke posisi 25.450,24, S&P 500 susut 5,86 poin (-0,21%) menjadi 2.743,07 dan Nasdaq tergelincir 13,32 poin (-0,18%) ke level 7.408,14.

Dalam sepekan Bursa saham AS membukukan penurunan mingguan terbesar sejak bursa saham jatuh pada akhir 2018, dengan Dow Jones mencatatkan pelemahan sebesar -2,21%, S&P turun -2,16% dan Nasdaq anjlok -2,46%.

Investor Asing Lepas Saham
Dari dalam negeri, IHSG melemah 74,88 poin (-1,16%) ke posisi 6.383,06 pada akhir pekan. Investor asing menjual saham dengan membukukan net sell sebesar Rp 592 miliar di pasar regular.

Sepanjang pekan IHSG anjlok -1,80%, dengan investor asing banyak melepas saham dan mencatatkan net sell senilai Rp2,74 triliun di pasar reguler.

Gerak mayoritas bursa saham utama global tertekan selama sepekan terakhir. Sentimen eksternal kekhawatiran perlambatan ekonomi dunia kembali mendominasi dan menekan laju IHSG pada pekan ini. Bank sentral Eropa secara mengejutkan mengembalikan stimulusnya dan memangkas perkiraan pertumbuhan untuk wilayah tersebut menjadi 1,1%, dari yang sebelumnya 1,7%.

Target pertumbuhan untuk tahun depan juga diturunkan menjadi 1,6%, dari yang sebelumnya 1,7%. Sebelumnya pemerintah China juga memangkas target pertumbuhan ekonominya tahun ini menjadi 6%-6,5% dari pertumbuhan tahun lalu sebesar 6,6%, dan penurunan tajam dalam ekspor China sebesar 20,7% secara tahunan, menjadi sinyal pertumbuhan ekonomi global yang melambat.

Memanas-nya kembali hubungan AS dengan Korut, serta melonjaknya defisit perdagangan AS dan laporan data tenaga kerja yang melemah, menambah kekhawatiran ekonomi dan meningkatkan ancaman resesi global. Kondisi ini membuat dolar AS kembali menguat dan harga-harga komoditas melemah, serta nilai tukar rupiah kembali sehingga menjadi sentimen negatif bagi IHSG.

Pasar saham bergerak cenderung turun pada pekan lalu. Sentimen negatif datang dari ekternal karena kekhawatiran perlambatan ekonomi global berpotensi terimbas ke Indonesia dan mempengaruhi kinerja IHSG. Secara teknikal, tren naik jangka menengah IHSG telah patah. Dan saat ini IHSG tengah berada pada fase sideways cenderung bergerak menurun dalam jangka pendek.

Sementara ini IHSG kembali bergerak melemah dan sedang menguji level support 6.374 lagi. Kondisi IHSG saat ini berada di posisi yang agak mencemaskan, karena jika menjebol ke bawah 6.374, maka IHSG berpotensi masuk fase downtrend dalam jangka pendek dan berpeluang turun menuju target di 6.215 dengan minor target di 6.354.

Indikator teknikal Stochastic dan MACD yang bergerak menurun, mengindikasikan bahwa IHSG saat ini cenderung masih bergerak negatif.

Komentar

x