Find and Follow Us

Senin, 16 September 2019 | 05:04 WIB

Ekspor Februari China Jeblok, Resesi Sudah Dekat?

Sabtu, 9 Maret 2019 | 05:00 WIB
Ekspor Februari China Jeblok, Resesi Sudah Dekat?
(Foto: Ilustrasi)
facebook twitter

INILAHCOM, Beijing - Ekspor China anjlok terbesar dalam tiga tahun pada Februari 2019. Sedangkan impor turun selama tiga bulan berturut-turut. Kesimpulanya, perekonomian China mulai sakit. Pertanda bakal terjadi resesi perdagangan?

Sementara faktor musiman mungkin berperan, angka yang sangat lemah dari negara-negara perdagangan terbesar di dunia menambah kekhawatiran tentang perlambatan global, sehari setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas perkiraan pertumbuhan untuk wilayah tersebut.

Pasar-pasar saham Asia dan berjangka AS memperpanjang kerugian pada Jumat, menyusul rilis data tersebut. Saham-saham China merosot lebih dari 4% di hari terburuknya dalam lima bulan terakhir.

Investor-investor global dan mitra dagang utama China mengamati dengan cermat reaksi kebijakan Beijing saat pertumbuhan ekonomi mendingin dari level terendah 28 tahun lalu. Tetapi pemerintah telah berjanji tidak akan menggunakan stimulus besar seperti di masa lalu, yang membantu menghidupkan kembali permintaan di seluruh dunia.

Ekspor Februari turun 20,7% dibanding Februari tahun lalu. Penurunan terbesar sejak Februari 2016, berdasarkan data bea cukai. Kalangan ekonom yang disurvei Reuters, memperkirakan bakal terjadi penurunan 4,8% setelah pada Januari secara tak terduga melonjak 9,1%.

"Angka perdagangan hari ini memperkuat pandangan kami bahwa resesi perdagangan China telah mulai muncul," tulis Raymond Yeung, kepala ekonom China di ANZ, dalam sebuah catatan.

Sedangkan impor turun 5,2% dari setahun sebelumnya, lebih buruk dari perkiraan para analis sebesar 1,4% dan melebar dari penurunan 1,5% pada Januari 2019. Impor komoditas-komoditas utama jatuh di seluruh papan.

Hal itu meninggalkan negara Tirai Bambu dengan surplus perdagangan US$4,12 miliar untuk Februari. Jauh lebih kecil dari perkiraan sebesar US$26,38 miliar.

Para analis memperingatkan bahwa data dari China dalam dua bulan pertama tahun ini harus dibaca dengan hati-hati, karena gangguan bisnis yang disebabkan oleh libur panjang Tahun Baru Imlek, yang datang pada pertengahan Februari pada 2018 tetapi dimulai pada 4 Februari tahun ini.

Tetapi banyak pengamat China memperkirakan awal yang lemah untuk tahun ini karena survei-survei pabrik menunjukkan berkurangnya pesanan domestik dan ekspor serta perang perdagangan China-AS terus berlanjut.

"Distorsi musiman di sekitar liburan Tahun Baru China telah menambah kebisingan pada data ekspor dalam dua bulan terakhir, dan dalam pandangan kami menjelaskan sebagian besar kejutan (relatif terhadap konsensus)," kata analis di Goldman Sachs, yang estimasi untuk penurunan ekspor 20 persen adalah yang paling pesimis dalam jajak pendapat Reuters.

Tetapi mereka mencatat bahwa momentum ekspor secara tiga bulan telah melambat secara signifikan sejak kuartal ketiga tahun lalu dan mengatakan "pertumbuhan kemungkinan akan tetap lemah dalam waktu dekat."

Perang Dagang
Data China yang semakin lemah datang di tengah-tengah negosiasi intens berbulan-bulan antara Washington dan Beijing yang bertujuan mengakhiri sengketa perdagangan mereka.

Pada Rabu (6/3/2019), AS melaporkan defisit perdagangan barangnya dengan China melonjak ke posisi tertinggi sepanjang tahun tahun lalu, menggarisbawahi salah satu poin penting yang melekat.

Data China pada Jumat menunjukkan surplusnya dengan Amerika Serikat menyempit menjadi 14,72 miliar dolar AS pada Februari dari 27,3 miliar dolar AS pada Januari, dan telah berjanji untuk membeli lebih banyak barang-barang AS, seperti produk pertanian sebagai bagian dari perundingan perdagangan.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Rabu (6/3) bahwa pembicaraan perdagangan berjalan dengan baik dan meramalkan "kesepakatan yang baik" atau tidak ada kesepakatan antara dua ekonomi terbesar di dunia.

Trump menunda kenaikan tajam tarif AS yang dijadwalkan awal Maret karena perundingan berlangsung, tetapi baik Washington maupun Beijing tetap mempertahankan tarif-tarif sebelumnya.

Diplomat utama pemerintah China, Anggota Dewan Negara Wang Yi, mengatakan padai Jumat bahwa perundingan telah membuat kemajuan yang substansial, dan bahwa hubungan kedua negara tidak boleh turun ke konfrontasi.

Tetapi New York Times melaporkan bahwa para pejabat China curiga dengan pembicaraan yang berkelanjutan dan tidak ingin mengikat China untuk perubahan struktural dalam ekonominya. [tar]

Komentar

Embed Widget
x