Find and Follow Us

Selasa, 23 Juli 2019 | 10:34 WIB

Perang Dagang Kelar, Indeks S&P 500 Cetak Rekor

Sabtu, 23 Februari 2019 | 11:12 WIB
Perang Dagang Kelar, Indeks S&P 500 Cetak Rekor
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, New York - Penutupan indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi sejak 8 November 2018 pada pada Jumat (Sabtu pagi WIB, 24/2/2019). Ada sentimen positif membayangi perundingan dagang AS dan China.

Investor menilai, banyak berita utama perundingan, dengan para negosiator utama perdagangan dari kedua negara bertemu untuk menyelesaikan diskusi-diskusi satu minggu tentang beberapa masalah paling sulit dalam perang dagang mereka.

Jika kedua pihak gagal mencapai kesepakatan pada tengah malam pada tanggal 1 Maret, maka perang dagang tujuh bulan mereka dapat meningkat.
"Orang-orang memperkirakan beberapa berita positif tentang perdagangan dan tarif dengan China dalam waktu dekat," kata Presiden Chase Investment Counsel, Peter Tuz, di Charlottesville, Virginia..

"Tapi kami tidak akan tahu sampai akhir minggu depan," kata dia, dan "ada kekurangan spesifik."

Optimisme di bidang perdagangan dan sinyal dovish dari Federal Reserve AS (Fed) telah mendorong kenaikan baru-baru ini dan meninggalkan indeks jauh di atas posisi terendah Desember, ketika pasar pingsan di tengah kekhawatiran perlambatan ekonomi. S&P 500 sekarang naik sekitar 19 persen sejak level terendahnya di akhir Desember.

Indeks teknologi S&P 500 naik 1,3 persen, memimpin kenaikan di antara 11 sektor utama S&P, sementara indeks industri yang terpapar perdagangan naik 0,6 persen.

Dow Jones Industrial Average, naik 181,18 poin atau setara 0,7% menjadi berakhir di 26.031,81 poin. Sementara S&P 500 naik 17,79 poin, atau 0,64% menjadi ditutup 2.792,67 poin. Untuk Komposit Nasdaq tumbuh 67,84 poin, atau 0,91% menjadi berakhir 7.527,55 poin.

Ketiga indeks mencatat kenaikan untuk minggu ini, dengan Dow dan Nasdaq membukukan kenaikan minggu kesembilan. Saham-saham di New York Stock Exchange dan Nasdaq mencapai tertinggi 52-minggu sebanyak 367, terbesar sejak pertengahan September dan melebihi jumlah yang mencapai posisi terendah tahun ini dengan margin terlebar dalam enam bulan.

Saham-saham sempat memangkas kenaikan setelah para pejabat AS menjelaskan tentang negosiasi, mengatakan mungkin lebih banyak waktu diperlukan dalam pembicaraan mengingat perlawanan China minggu ini terhadap tuntutan Amerika untuk langkah-langkah spesifik oleh Beijing untuk mengakhiri transfer teknologi AS secara paksa dan kebijakan tertentu lainnya.

Setelah itu, Presiden Donald Trump mengatakan ada peluang yang sangat bagus bagi Amerika Serikat untuk mencapai kesepakatan dengan China guna mengakhiri perang dagang, dan bahwa ia cenderung memperpanjang batas waktu 1 Maret untuk mencapai kesepakatan.

"Saat ini risiko penurunannya tidak setinggi sebelumnya, tetapi selalu ada kekhawatiran bahwa sesuatu terjadi pada menit-menit terakhir," kata Kepala Strategi Pasar Prudential Financial, Quincy Krosby, di Newark, New Jersey, seperti dikutip Reuters. [tar]

Komentar

Embed Widget
x