Find and Follow Us

Minggu, 25 Agustus 2019 | 13:39 WIB

Bos OJK Ingin Rekor Baru IHSG di Tahun Babi Tanah

Oleh : M Fadil Djailani | Rabu, 2 Januari 2019 | 17:45 WIB
Bos OJK Ingin Rekor Baru IHSG di Tahun Babi Tanah
Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso - (Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyambut baik peningkatan peran pasar modal sebagai alternatif sumber pembiayaan jangka panjang.

Baik itu untuk pembiayaan infrastruktur, pembiayaan investasi dan modal kerja swasta maupun pembiayaan program-program strategis pemerintah lainnya.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengungkapkan, peningkatan peran pasar modal ini sesuai dengan arah dari kebijakan OJK. "Oleh karena itu, kami memiliki komitmen yang besar untuk lebih mengoptimalkan peran Pasar Modal dalam mendukung pembangunan nasional," kata Wimboh di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Rabu (2/1/2019).

Wimboh mengatakan, berbagai kebijakan akan terus OJK gulirkan untuk meningkatkan likuiditas pasar. Integritas pasar akan terus dijaga dengan penegakan hukum yang konsisten.

"Selain itu, penyempurnaan infrastruktur pasar modal akan terus kami dorong sebagai bagian dari agenda pendalaman pasar keuangan, terutama dengan pemanfaatan teknologi yang lebih intensif," jelasnya.

Selain itu, OJK juga akan terus mendorong pengembangan dan variabilitas produk pasar modal, baik yang bersifat konvensional, syariah maupun yang bersifat ramah lingkungan dan sosial. Dengan demikian, kata Wimboh, akan semakin beragam alternatif instrumen pembiayaan bagi emiten dan juga semakin luas instrumen investasi bagi investor yang aman, nyaman, dan sesuai dengan profil risiko investor.

"Dalam hal ini, Kami minta para pelaku pasar modal harus terus mengedepankan market conduct dan didukung tata kelola yang baik," tuturnya.

Wimboh berharap pasar modal Indonesia ke depan lebih berdaya saing di tingkat global dan juga lebih berperan lagi dalam menggerakan ekonomi sektor riil dan pembangunan nasional. "Dan kita tentu juga berharap bahwa kita akan menyaksikan pencapaian rekor rekor baru kinerja pasar modal kita pada akhir tahun 2019 nanti," imbuh dia.

Sampai dengan akhir tahun 2018, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang ditutup mengalami koreksi 2,54% ke level 6.194,50, namun koreksi yang kita alami masih merupakan salah satu yang terendah di bursa efek utama kawasan Asia Pasifik dan yang tebaik di kawasan ASEAN. Sementara Nilai Aset Bersih Reksadana meningkat 10,47%, mencapai Rp505,39 triliun.

Sedangkan dari sisi penghimpunan dana, ditengah volatilitas pasar keuangan yang tinggi, penghimpunan dana di pasar modal juga tercatat masih relatif tinggi, yang tercermin dari nilai emisi sebesar Rp166 triliun, dengan jumlah emiten baru yang mencatat rekor tertinggi, mencapai 62 emiten baru.

Menurut Wimboh, capaian ini tentu tidak terlepas dari sinergi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, baik pelaku usaha di sektor riil maupun di sektor keuangan. Berbagai sinergi kebijakan yang telah diterbitkan juga turut membuahkan hasil yang positif. "Kepercayaan investor dan pelaku pasar modal terhadap fundamental dan prospek ekonomi Indonesia tetap terjaga," ungkap Wimboh.[ipe]




Komentar

Embed Widget
x