Find and Follow Us

Selasa, 21 Mei 2019 | 12:09 WIB

Emas Makin Kinclong di Tahun Babi Tanah

Senin, 31 Desember 2018 | 16:55 WIB
Emas Makin Kinclong di Tahun Babi Tanah
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pada penutupan 2018, harga emas terus menguat. Lalu, bagaimana peruntungannya di 2019 yang bershio babi tanah?

Tahun depan, para pemilik duit gede naga-naganya akan semakin mencari aman saja. Investasi bertema safe haven bakal diburu, termasuk emas yang diprediksi bakal semakin berkilau.

Seperti diberitakan Bloomberg, spot bullion bertahan di level tertingginya dalam enam bulan, setelah melampaui US$1.280 per ounce. Emas pun siap mencatatkan penguatan bulanan terbaiknya dalam hampir dua tahun ini.

Penguatan harga emas pada kuartal ini, didorong dari anjloknya ekuitas global dan keraguan di antara sebagian investor, mengenai laju pertumbuhan global pada 2019.

Kenaikannya juga terbantukan pelemahan US$ pada Desember ini, seiring ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) bakal mengerem laju suku bunga acuan di 2019.

Harga spot emas mencapai level US$1.282,23 per ounce pada Jumat (28/12/2018). Ini merupakan level tertinggi sejak Juni. Dari rerata bulanan, harga emas Desemkber 2018 naik 4,8%. Begitu laporan Bloomberg.

Selanjutnya, spot emas diperdagangkan di pasar Singapura pada level US$1.279,57 per ounce. Pergerakan emas cenderung stabil pada Senin (31/12/2018). Bahkan setelah Presiden AS Donald Trump menyuarakan optimismenya terkait perang dagang dengan China. Isu ini telah menjadi salah satu ancaman yang tersisa untuk pertumbuhan yang akan terjadi tahun depan.

Trump mengungkapkan telah melakukan komunikasi yang sangat baik dengan Presiden China Xi Jinping pada Sabtu (29/12/2018) untuk membahas perdagangan dan mengklaim adanya kemajuan besar antara kedua negara.

"Baru saja melakukan pembicaraan yang panjang dan sangat baik dengan Presiden Xi dari China. Kesepakatan berjalan dengan sangat baik. Jika dibuat, itu akan sangat komprehensif, mencakup semua subjek, bidang dan titik perselisihan. Kemajuan besar sedang dibuat!," tulis Trump dalam akun twitternya.

Namun tekanan tetap menghantui aset berisiko sekaligus mengangkat daya tarik aset safe haven pascarilis data manufaktur China hari ini.

Industri manufaktur China kembali terkontraksi pada bulan Desember ke level terendah sejak awal 2016. Fakta ini menggarisbawahi kekhawatiran atas perlambatan ekonomi domestik dan kemungkinan berlanjutnya perang dagang.

Indeks manajer pembelian (Purchasing Managers Index/PMI) sektor manufaktur turun menjadi 49,4 pada bulan Desember, di bawah level 50 yang menunjukkan kontraksi.

Indeks pesanan baru untuk ekspor, yang memberikan indikasi permintaan di masa mendatang, turun menjadi 46,6, dari 47 pada bulan sebelumnya. Adapun PMI non-manufaktur, yang mencerminkan aktivitas di sektor konstruksi dan jasa, naik menjadi 53,8 dari 53,4.

Sejumlah bank termasuk Goldman Sachs Group Inc. pun melihat potensi kenaikan harga emas selama 12 bulan mendatang, apalagi ditunjang berkurangnya laju kenaikan suku bunga AS.

Menguatnya kekhawatiran makro, proses Brexit di Inggris, serta tingkat pinjaman yang tinggi, bakal menopang emas pada kuartal I-2019. Harga emas diprediksinya bisa mencapai level US$1.300 per ounce jika level US$1.281 ditembus. [tar]

Komentar

Embed Widget
x