Find and Follow Us

Sabtu, 21 September 2019 | 03:14 WIB

Refleksi 2018

Faktor Global Biangkerok Longsor IHSG 4,71 Persen

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 27 Desember 2018 | 11:16 WIB
Faktor Global Biangkerok Longsor IHSG 4,71 Persen
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun 2018 tidak dipungkiri terimbas oleh berbagai sentimen, baik dari dalam negeri maupun global.

Akan tetapi, tampaknya IHSG lebih banyak terpengaruh oleh sentimen global. Hingga akhir November 2018, IHSG justru tercatat turun sebanyak 4,71 persen secara tahunan (yoy).

"Sentimen dari global, terutama dari AS mempengaruhi seluruh bursa saham global. Tak terkecuali IHSG yang turut terpengaruh sentimen global tersebut," kata Reza Priyambada, Senior Advisor CSA Research Institute, di Jakarta, Kamis (27/12/2018).

Beberapa sentimen utama yang mempengaruhi pergerakan IHSG, antara lain, keputusan The Fed yang telah menaikan suku bunga acuannya, berbagai komentar maupun cuitan twitter Presiden Trump dalam menanggapi pemerintahan maupun kondisi ekonomi AS, masih adanya potensi perang dagang antara AS dan Tiongkok, hingga kondisi di Uni Eropa.

"Sementara, kondisi di dalam negeri relatif masih terjaga atau dalam arti tidaklah terlalu buruk meski juga dibarengi dengan rilis negatif dari tercatatnya defisit neraca pembayaran dan perdagangan hingga melemahnya nilai tukar rupiah," papar dia.

Adapun berbagai kondisi internal tersebut dapat dikatakan merupakan imbas dari global. Imbas dari global tersebut mempengaruhi pergerakan dari nilai tukar rupiah yang berujung pada pelemahan.

"Selain itu, banyaknya komentar negatif terkait dengan pengelolaan ekonomi Indonesia di mana masih terdapat defisit neraca dan penambahan utang turut mempengaruhi pergerakan IHSG," ucapnya.

Padahal, terjadinya defisit neraca perdagangan dan pembayaran tersebut juga disebabkan konsumsi masyarakat Indonesia yang lebih banyak menggunakan barang-barang impor dan masih besarnya ketergantungan ekspor Indonesia pada barang-barang mentah, baik berupa minyak dan gas bumi (migas) maupun berupa bahan bakar mineral dan minyak yang berasal dari hewan maupun tumbuhan.

"Untuk itu, pemerintah terus mengupayakan untuk melakukan perubahan ekspor dari berorientasikan komoditas menjadi barang-barang yang memiliki nilai tambah," katanya.

Upaya inipun tidak mudah dan perlu waktu untuk melakukan perubahan. Bahkan upaya pembentukan holding migas dan tambang pun terus diupayakan untuk menciptakan kemandirian pengolahan barang-barang komoditas.

Di sisi lain, pemerintah menghadapi fluktuasi harga komoditas global yang juga turut mempengaruhi pergerakan harga komoditas di dalam negeri. Tidak hanya pemerintah, sejumlah emiten yang bergerak di bidang komoditas pun turut merasakan sentimen yang sama sehingga pada akhirnya mempengaruhi pergerakan harga sahamnya.

"Di sisi lain, adanya penambahan utang pemerintahan juga merupakan konsekuensi yang harus diambil di tengah penerimaan negara yang masih di bawah pengeluaran negara, terutama untuk belanja kementerian dan lainnya," timpal Reza.

Meski tercatat melakukan penambahan utang namun, dalam realisasi APBN 2018 terlihat adanya pembayaran bunga utang sebesar Rp252,06 triliun melebihi pagu APBN sebesar Rp 238,61 triliun. Kondisi ini seharusnya dapat menjadi sentimen positif secara makroekonomi terhadap pasar saham. Akan tetapi, kenyataannya malah tidak banyak berimbas.

Selain itu, Kementerian Keuangan juga mencatat defisit APBN 2018 hingga akhir November sebesar Rp287,9 triliun, atau lebih rendah jika dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp349,6 triliun.

Berkurangnya defisit anggaran tersebut sejalan dengan pendapatan negara yangmengalami kenaikan. Dari rilis APBN, hingga akhir bulan November 2018, penerimaan pendapatan negara dan hibah telah terealisasi sebesar Rp1.662,94 triliun atau mencapai 87,77 persen dari target penerimaannya pada APBN 2018.

Sementara, untuk kinerja penyerapan belanja negara meningkat 11,06 persen (yoy) yang mencapai Rp1.942,93 triliun atau 87,49 persen dari pagu APBN tahun 2018.

Berdasarkan realisasi pendapatan negara dan belanja negara tersebut maka realisasi defisit anggaran sebesar Rp279,99 triliun atau 1,89 persen terhadap PDB yang terlihat lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 2,59 persen.

"Upaya pemerintah dalam meningkatkan pendapatan negara meski juga dibarengi dengan relaksasi perpajakan untuk menjangkau lebih banyak potensipajak meski positif secara makroekonomi dan pengelolaan APBN namun, juga belum banyak berimbas pada IHSG," papar dia.

Kondisi negatif juga dirasakan dari sisi belanja negara terutama padapeningkatan realiasasi belanja Kementerian PUPR yang mengalami peningkatan dan telah terserap lebih dari 70 persen terhadap APBN juga tidak banyak direspons positif pelaku pasar.

Adanya sentimen positif dari rendahnya defisit tersebut tampaknya tidak banyak mempengaruhi laju IHSG yang cenderung mengalami pelemahan karena diimbangi oleh sentimen global dan adanya berbagai komentar negatif terkait defisit tersebut karena ketidakpahaman dalam memahami postur dan struktur APBN.

Tidak hanya itu, adanya rilis posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2018 yang tercatat sebesar US$117,2 miliar, atau meningkat US$2,0 miliar dibandingkan cadangan devisa pada akhir Oktober 2018 tidak juga direspon positif karena secara tahunan (yoy) masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.

"Tentunya, penurunan ini merupakankonsekuensi atas upaya Bank Indonesia (BI) dalam menahan agar Rupiah tidak melemah lebih dalam akibat imbas dari kondisi global dan adanya persepsi negatif terhadap kondisi makroekonomi Indonesia," ungkap Reza.

Dengan adanya persepsi tersebut tentunya turut berimbas pada terjadinya aksi jual di pasar saham. Hal ini dapat dikatakan wajar karena secara psikologis, sesuatu yang negatif tentunya akan direspon negatif.

Adanya rilis bertuliskan penurunan, depresiasi, lebih rendah, tidak lebih tinggi, di bawah, dan sejenis lainnya tentunya akan direspons negatif. Pelaku pasar pun tampaknya tanpa mencerna lebih detil langsung bereaksi sehingga berpengaruh pada kondisi IHSG.

Bahkan rilis inflasi yang secara tahunan lebih rendah dari periode sebelumnya hanya direspons positif sesaat karena adanya penilaian rendahnya inflasi kontra dengan keputusan BI yang menaikan tingkat suku bunganya.

Inflasi per November sebesar 0,27 persen (MoM) atau 3,27 persen (YTD) lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu sebesar 3,30 persen (YTD). Padahal terjaganya inflasi ialah hasil dari upaya pemerintah untuk menjaga harga, terutama harga pangan dan komoditas bahan pangan untuk tetapstabil.

Sementara, kenaikan suku bunga BI merupakan upaya BI untuk meredam gejolak Rupiah yang dilakukan bersamaan dengan adanya intervensinya sekaligus untuk mengantisipasi adanya outflow dana karena imbas kenaikan suku bunga acuan The Fed.

Hal yang sama juga terjadi pada sejumlah emiten yang sahamnya terkena aksi jual. Setiap adanya berita yang mengindikasikan penurunan kinerja, outlook, hingga pembagian dividen yang dianggap tidak lebih tinggi dari periode sebelumnya tentunya direspons negatif. Hal ini karena dianggap sebagai penurunan kinerja.

"Padahal belum tentu demikian karena manajemen emiten tentunya memiliki sejumlah perencanaan yang dapat membuat kinerja perusahaan bertumbuh atau paling tidak, bertahan di tengah kondisi sektoral yang kurang baik," timpal dia.

Seperti halnya yang terjadi pada sektor industri dasar yang indeksnya mengalami kenaikan sebesar 16,78 persen secara year to date (ytd) dan diikuti indeks pertambangan yang naik 7,34 persen; aneka industri naik 3,24 persen; dan indeks keuangan yang naik 2,20 persen.

Sementara, sejumlah indeks sektor lainnya cenderung melemah. Adapun, industri dasar yang diperkuat mayoritas saham semen mampu mengalami kenaikan seiring adanya sentimen positif dari meningkatnya permintaan semen terhadap percepatan proyek pembangunan infrastruktur.

Di sisi lain, adanya kepastian pembayaran atas pengerjaan proyek tersebut turut menjadi sentimen positif yang pada akhirnya mengangkat harga sejumlah saham semen.

Tidak hanya itu, sejumlah saham dari sub sektor lainnya dalam industri dasar juga turut menguat, antara lain sub sektor pulp and paper dan kimia. Beberapa emitennya mengalami kenaikan yang cukup tinggi karena adanya penilaian meningkatnya permintaan akan produk-produk yang dihasilkan sehingga nantinya dapat berimbas pada kinerja perusahaannya.

Adanya proyeksi atas pertumbuhan kinerja sejumlah emiten tersebut yang dibarengi dengan maraknya berita-berita positif terkait industrinya tentunya secara valuasi juga akan meningkat yang berujung pada reaksi pelaku pasar atas harga sahamnya yang bergerak naik.

"Kondisi yang sama juga dialami indeks pertambangan di mana sentimen pergerakan harga komoditas masih menjadi motor utama penggerak harga saham emiten tambang," paparnya.

Tentuanya sentimen perubahan harga ini langsung dipersepsikan terhadap kinerja para emiten tersebut. Meski akhir-akhir ini pergerakan harga komoditas cenderung melemah karena imbas dari adanya perang dagang antara AS dan Tiongkok yang berujung pada melemahnya aktivitas manufaktur atau pabrikan di kedua wilayah sehingga dipersepsikan berkurangnya permintaan; menguatnya mata uang dolar AS; hingga penilaian terhadap harga kontrak komoditas yang memasuki fase konsolidasinya setelah menguat sejak kuartal ketiga tahun lalu.

Tak ketinggalan berita terkait OPEC yang berencana melakukan perubahan kebijakannya yang dapat berimbas pada kuota supply dan demand minyak mentah dunia sehingga berpengaruh pada perubahan harganya.

Berikutnya dari sektor keuangan. Sektor ini tentunya didominasi oleh pergerakan saham-saham perbankan. Terutama pergerakan 4 Sekawan atau Fantastic Four-nya, yaitu saham PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Dari data IDX, keempat saham tersebut memiliki kapitalisasi pasar yang cukup besar.

Bila ditotal, hingga November 2018 kapitalisasi pasarnya telah mencapai Rp1.577 triliun dibandingkan dengan kapitalisasi pasar total Bursa Efek Indonesia (BEI) sebesar Rp6.858-an triliun. Oleh karena itu, keempatnya memiliki porsi 22 persen tertadap total tersebut.

"Inipun belum termasuk sejumlah perbankan lainnya yang masuk dalam jajaran 50 saham berkapitalisasi besar dalam BEI," tuturnya.

Tentunya dengan adanya berita-berita terkait industri perbankan dan sentimen internal dari masing-masing emitennya, seperti rencana akuisisi, pembagian dividen, rencana pengembangan anorganik, pertumbuhan penyaluran kredit, dan lainnya akan mempengaruhi pergerakan harga sahamnya yang nantinya bisa berimbas pada posisi IHSG. [jin]

Komentar

Embed Widget
x