Find and Follow Us

Minggu, 21 Juli 2019 | 23:54 WIB

Sepekan Terakhir, Tren Hijau Obligasi Terjaga

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 23 Desember 2018 | 17:05 WIB
Sepekan Terakhir, Tren Hijau Obligasi Terjaga
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pergerakan pasar obligasi dalam negeri yang masih dapat bertahan meski terdapat sentimen dari kenaikan suku bunga The Fed membuat tren kenaikannya dapat terjaga.

"Diharapkan aksi beli pelaku pasar masih tetap bertahan di sisa hari perdagangan. Kecenderungan melemahnya USD diharapkan dapat diikuti dengan penurunan imbal hasil obligasi AS sehingga nantinya dapat berimbas positif pada perdagangan pasar obligasi dalam negeri,"Reza Priyambada, analis senior CSA Research Institute di Jakarta, Minggu (23/12/2018).

Di sisi lain, masih adanya sejumlah sentimen positif dari dalam negeri juga diharapkan dapat menopang pergerakan pasar obligasi dalam negeri.

"Tetap cermati pergerakan imbal hasil obligasi global selanjutnya dan sejumlah sentimen makro dan antisipasi jika terdapat sentimen yang membuat pasar obligasi kembali berbalik arah melemah," paparnya.

Di awal pekan, pergerakan pasar obligasi dalam negeri cenderung melanjutkan pelemahannya dengan sentimen yang kurang lebih masih sama.

"Pelaku pasar masih merespons negatif pelemahan nilai tukar rupiah setelah terimbas kenaikan dolar AS dan adanya rilis defisit neraca perdagangan hingga kembali meningkatnya imba hasil obligasi global," ucapnya.

Adanya imbas kenaikan rupiah dan masih bergerak turunnya imbal hasil obligasi AS meski mendekati pertemuan FOMC akhirnya dapat dimanfaatkan pasar obligasi dalam negeri untuk berbalik menguat.

Pelaku pasar pun memanfaatkan sentimen tersebut untuk tetap bertahan sehingga membuat laju pasar obligasi dalam negeri tetap bergerak positif.

Pergerakan rupiah yang berbalik melemah membuat pergerakan pasar obligasi sempat mengalami pelemahan. Akan tetapi, tetapnya suku bunga acuan Bank Indonesia membuat pelemahan tersebut tertahan seiring masih adanya sejumlah aksi beli pada beberapa seri.

Masih bertahannya aksi beli membuat pasar obligasi dalam negeri mampu bertahan positif. Perkiraan akan adanya pelemahan pasca terimbas kenaikan The Fed tidak terjadi sehingga kenaikan lanjutan pun kembali terjadi. Bahkan pergerakan rupiah yang kembali melemah terlihat tidak banyak berpengaruh pada pasar obligasi dalam negeri yang tetap bergerak naik di akhir pekan.

Di pekan kemarin, secara mingguan pergerakan imbal hasil cenderung naik. Pergerakan yield untuk masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami penurunan imbal hasil 13,20 bps; tenor menengah (5-7 tahun) turun 15,09 bps; dan panjang (8-30 tahun) turun 9,24 bps.

Pada obligasi korporasi, pergerakan imbal hasil cenderung turun. Imbal hasil obligasi dengan dengan rating AAA yang di pekan sebelumnya di kisaran 9,86%-9,90% untuk tenor 9-10 tahun namun, di pekan kemarin bergerak di 9,67%-9,70%.

Pada rating AA, di level 10,10%-10,15% dari sebelumnya 10,22%-10,27%; rating A di kisaran 11,65%-11,68% dari sebelumnya 11,93%-11,98%; dan pada rating BBB dirilis di 14,25%-14,30% dari sebelumnya 14,35%-14,55%. Dari sisi makroekonomi, laju pasar obligasi banyak dipengaruhi kondisi eksternal.

Spread yield obligasi Indonesia dan US Treasury tenor 10Y diperkirakan akan bergerak di kisaran 500-520 bps yang menandakan spread masih dalam rentang yang lebar dimana menandakan preferensi risiko kembali meningkat sehingga perlu mewaspadai berbagai sentimen yang ada.

Diperkirakan rentang imbal hasil obligasi SUN internal akan berada dalam kisaran 8-15 bps (6,78%-8,94%). "Tetap cermati berbagai sentimen yang dapat membuat pasar obligasi berbalik melemah," imbuhnya. [jin]

Komentar

Embed Widget
x