Find and Follow Us

Selasa, 22 Oktober 2019 | 02:52 WIB

Tahun Politik, Surat Utang Korporasi Diramal Kalem

Oleh : M Fadil Djaelani | Jumat, 21 Desember 2018 | 14:15 WIB
Tahun Politik, Surat Utang Korporasi Diramal Kalem
(Foto: Istimewa)
facebook twitter

INILAHCOM, Jakarta - PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) memperkirakan, penerbitaan surat utang korporasi di 2019, bakal stagnan di angka Rp135,2 triliun. Atau, sedikit lebih tinggi ketimbang proyeksi 2018 sebesar Rp135 triliun.

"Tahun depan penerbitan surat utang korporasi diperkirakan cenderung sama dari tahun ini. Pada 2019, kami perkirakan sebesar Rp135,2 triliun yang tetap didominasi perbankan dan perusahaan pembiayaan," ujar Direktur Utama Pefindo, Salyadi Saputra di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (21/12/2018).

Salyadi memproyeksikan, hingga akhir 2018, realisasi penerbitan surat utang korporasi menyentuh Rp135 triliun. Sedangkan, per akhir November 2018, total penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp127,1 triliun. "Kalau suku bunga stabil di tahun ini, maka penerbitan obligasi 2019 akan sama dengan tahun ini," ucapnya.

Dia merincikan, realisasi penerbitan surat utang korporasi 2018 bersumber dari obligasi korporasi mencapai Rp100,8 triliun. Sisanya dari medium term notes sebesar Rp22,7 triliun dan sekuritisasi senilai Rp3,6 triliun. "Sampai akhir 2018 diperkirakan penerbitan surat utang mencapai Rp135 triliun," ujarnya.

Salyadi mengungkapkan, stagnansi penerbitan surat utang korporasi di tahun depan lebih dipengaruhi oleh tren kenaikan suku bunga. "Tetapi, jumlah surat utang yang jatuh tempo sebesar Rp112,4 triliun akan menjadi pendorong bagi perusahaan untuk refinancing," tegas Salyadi.

Lebih lanjut Salyadi menyebutkan, hingga 18 Desember 2018, mandat penerbitan obligasi yang telah diterima Pefindo dan belum terealisasi mencapai Rp23,4 triliun. "Sektor perbankan 27,78%, pembiayaan sebesar 17,74% dan telekomunikasi 12,82%," ucapnya. [ipe]


Komentar

Embed Widget
x