Find and Follow Us

Selasa, 21 Mei 2019 | 05:29 WIB

Perang Dagang AS-China, Bos OJK Merasa Kecele

Oleh : Ahmad Munjin | Kamis, 20 Desember 2018 | 10:08 WIB
Perang Dagang AS-China, Bos OJK Merasa Kecele
Wimboh Santoso - (Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Wimboh Santoso, Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui tidak membayangkan perang dagang AS-China begitu berkecamuk sehingga pengaruhnya terjadi di luar ekspektasi.

"Setahun lalu, pada saat menapaki awal 2018, dengan optimisme yang ada kita berkeyakinan bahwa ekonomi akan selalu lebih baik dengan berbagai upaya yang kita lakukan," kata Wimboh saat Jumpa Pers Tutup Tahun 2018, di Jakarta, Rabu (19/12/2018) petang.

OJK juga, lanjut Wimboh, mengidentifikasi risiko-risiko yang mungkin timbul. Pada saat itu, ada normalisasi kebijakan Amerika Serikat. "Namun, kita tidak membayangkan trade war yang begitu kencang terutama antara AS dan China. Itu yang di luar ekspektasi kita," tuturnya.

Bebeda dengan normalisasi kebijakan moneter AS sudah dibayangkan sebelumnya. "Oleh karena itu, ada beberapa hal yang memang volatilitasnya di luar ekspektasi kita sebelumnya terutama di pasar keuangan," ungkap dia.

Meski demikian, ekonomi Indonesia bisa bertahan. Dalam kondisi suku bunga acuan yang sudah dinaikkan oleh Bank Indonesia dan diikuti dengan kenaikan yield obligasi, pertumbuhan ekonomi di kuartal III-2018 berada di level 5,17%. "Begitu juga dengan inflasi yang terjaga dalam rentang kendali yang sesuai rencana, perekonomian masih terus tumbuh," ucapnya.

Selain itu, kata dia, ada persepsi yang positif dari dunia internasional terhadap Indonesia. "Ini tidak seperti beberapa negara yang kita ketahui karena normalisasi kebijakan AS dan perang dagang, mengalami permasalahan yang semakin mendalam sehingga beberapa negara menjadi 'pasien' Dana Moneter Internasional (IMF), seperti Turki, Venezuela, Italia, dan lain-lain," katanya.

"Fundamental ekonomi Indonesia ternyata lebih baik dibandingkan dengan negara-negara tersebut," ucap Wimboh tegas.

Pada kuartal IV-2018, meski belum berakhir, OJK melihat kondisi-kondisi tadi sudah memberikan kesan positif. "Meski ada rencana normalisasi kebijakan AS, tekanannya tidak seperti kuartal-kuartal sebelumnya di 2018," timpal Wimboh.

Hal itu, lanjut dia, tercermin dalam beberapa indikator. Misalnya di pasar modal di mana investor asing masih mencatatkan net buy Rp6,2 triliun per 14 Desember 2018. "Ini juga sejalan dengan perkembangan pasar keuangan di negara-negara lain," ucapnya.

Di pasar domestik hingga 18 Desember 2018, koreksi IHSG mereda menjadi 4,31% (year to date). Yied Surat Berharga Negara (SBN) juga sudah turun meski secara year to date masih naik. [jin]

Komentar

Embed Widget
x