Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 14 November 2018 | 14:34 WIB
Hightlight News

IHSG Andalkan Kinerja Ekonomi

Oleh : Wahid Ma'ruf | Senin, 5 November 2018 | 05:23 WIB

Wall Street Tertimpa Saham Apple

IHSG Andalkan Kinerja Ekonomi
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - secara teknikal IHSG telah mengakhiri tren penurunannya setelah berhasil menembus ke atas down trend resistance line, namun kondisi ini dapat berubah sewaktu-waktu apabila rilis data ekonomi domestik jauh lebih buruk dari perkiraan.

Menurut praktisi pasar modal, Stefanus Mulyadi Handoko, jika data ekonomi domestik yang dirilis cukup bagus, dan rupiah bergerak stabil pasca penguatan, serta dana asing masih terus mengalir masuk ke pasar saham Indonesia, maka kemungkinan IHSG masih berpotensi bergerak menguat, termasuk mencoba menguji level psikologis 6.000.

"Secara teknikal IHSG telah mengakhiri fase downtrend dalam jangka pendek, setelah berhasil menembus ke atas resistance level 5.869 dan down trend resistance line," katanya, Minggu (4/11/2018).

Penembusan resistance tersebut, lanjutnya, telah membuka ruang bagi IHSG untuk melanjutkan konsolidasi jangka menengah dengan resistance di 6.116 dan minor resistance di level 5.976. Sementara untuk support terdekat IHSG berada di level 5.868 dan support selanjutnya di kisaran 5.750. Dalam gambar terlihat dari garis merah.

"Perhatikan resistance penting IHSG di level 6.116. Apabila dapat diterobos, maka IHSG akan mengakhiri konsolidasi yang terbentuk sejak akhir bulan Mei dan kembali bergerak dalam tren naik (bullish trend), dengan target terdekat dikisaran 6.350. Namun selama resistance tersebut belum dapat dilewati, maka IHSG masih akan terus cenderung bergerak sideways."

Pada pekan ini cukup banyak data ekonomi penting domestik yang akan mempengaruhi pergerakan IHSG. Data yang akan dicermati oleh investor terutama adalah data pertumbuhan ekonomi (GDP) kuartal ketiga diperkirakan akan turun ke kisaran 5,1%-5,15%, dibandingkan periode sebelumnya (kuartal kedua) di angka 5,27%. Data ini akan rilis pada hari senin awal pekan besok.

Data lain, pada hari Rabu akan menunggu rilis tentang cadangan devisa akhir Oktober. Gubernur BI, Perry Warjiyo mengatakan bahwa trend penurunan cadangan devisa yang terjadi sejak awal tahun akan berakhir dan diperkirakan akan mulai meningkat di bulan Oktober.

Sedangkan pada hari Jum’at akan dirilis data penting lainnya yaitu defisit neraca berjalan (CAD) kuartal ketiga, yang menurut BI akan lebih tinggi dibandingkan kuartal kedua yang sebesar 3% terhadap PDB. Perkiraan BI defisit transaksi berjalan pada kuartal III 2018 akan berada di atas 3% tapi tidak akan lebih dari 3,5%.

Apabila data-data ekonomi yang dirilis tersebut lebih buruk dari perkiraan, maka akan kembali menekan rupiah sehingga akan menjadi sentimen negatif bagi IHSG pada pekan ini.

Sementara dari luar negeri, pekan ini cukup banyak data dan agenda ekonomi penting. Namun yang akan menjadi perhatian pelaku pasar dunia adalah pernyataan The Fed dan kebijakan suku bunga AS pada hari kamis waktu setempat. Data tersebut berpotensi tidak akan berubah atau tetap di level 2,25%.

Berikut adalah kejadian dan data ekonomi yang perlu diperhatikan dalam pekan ini. Senin 5 November 2018, Kebijakan moneter Bank Sentral Jepang (BOJ) dan Pernyataan Gubernur BOJ Kuroda, Rilis data sektor jasa Inggris, Rilis data ISM sektor jasa AS. Selasa 6 November 2018, Kebijakan suku bunga Bank Sentral Australia (RBA), Pemilu Anggota Kongres AS.

Kamis 8 November 2018, Rilis data perdagangan China, Kebijakan suku bunga dan penyataan The Fed. Jum’at 9 November 2018 : Pernyataan dan kebijakan moneter RBA, Rilis data inflasi China, Rilis data manufaktur, perdagangan dan GDP Inggris, Rilis data produsen AS.

"Namun tetap disarankan safe trading, karena bagaimana pun selalu ada fluktuasi harga. Untuk itu selalu kontrol resiko sesuai dengan trading plans yang telah dibuat dan terus cermati arah perkembangan pasar. Hati-hati apabila pasar kembali mengalami ketidakpastian dan kondisi market kembali tidak kondusif."

Sementara bagi investor, jika terjadi koreksi massive bisa dimanfaatkan untuk akumulasi bertahap dengan melakukan buy on weakness, terutama pada saham-saham yang masih memiliki kinerja bagus dan prospek ke depan yang cerah.

1 2

Komentar

x