Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 20 Oktober 2018 | 07:59 WIB

Dolar AS Makin Mahal, Superkrane tak Naikan Sewa

Oleh : M Fadil Djailani | Kamis, 11 Oktober 2018 | 12:50 WIB

Berita Terkait

Dolar AS Makin Mahal, Superkrane tak Naikan Sewa
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Nilai tukar rupiah terus melemah. Bahkan pagi kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) mencatat kurs rupiah di rentang Rp15.208 hingga Rp15.255 per US$.

Pelemahan rupiah membuat sejumlah pengusaha harus putar otak guna mempertahankan operasional perusahaan. Terutama bagi bisnis yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor atau modal kerja, seperti halnya PT Superkrane Mitra Utama Tbk (SKRN). Di mana, sebagian besar alat berat SKRN dibeli dengan dolar AS.

Maka dari itu perusahaan penyewaan alat berat ini mengaku lebih memilih untuk menahan harga sewa meskipun dolar terus mengamuk. "Kita memang ada efek dari pembelian, kalau kita beli alat berat tentunya lebih besar, lebih mahal ngikutin ke kurs. Tapi kita tidak bebankan harga sewa, engga ke konsumen," kata Direktur Utama SKRN Yafin Tandiono Tan saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Dia menyebut sebetulnya pelemahan nilai tukar tidak terlalu berdampak kepada perusahaannya, lantaran masa umur penggunaan alat berat ini bisa mencapai 30 sampai 40 tahun, jadi depresiasi nilai tukar ini tidak terlalu mengganggu kinerja perusahaan. "Lifetime-nya alat berat bisa mencapai 30 sampai 40 tahun, jadi mungkin tidak terlalu pengaruh," katanya.

Dia menegaskan, tahun ini, pendapatan Superkrane ditargetkan mencapai Rp 600 miliar, naik 25% dari 2017 sebesar Rp 480 miliar. Hingga September 2018, pendapatan sudah menyentuh Rp 452 miliar (belum diaudit).

Tahun depan, dia menegaskan, perseroan menargetkan pendapatan tumbuh 20% menjadi Rp 720 miliar dari estimasi 2018. Hal ini didorong masih kuatnya permintaan sewa crane dari sektor migas, infrastruktur, hingga pertambangan.

Superkrane melepas 300 juta saham atau setara 20% melalui penawaran umum perdana (initial public offering/IPO). Harga pelaksanaan IPO Rp700 per saham, sehingga perseroan meraup dana Rp210 miliar. Merujuk harga saham perdana, kapitalisasi pasar Superkrane mencapai Rp1,05 triliun. Bertindak sebagai pemimpin penjamin pelaksana efek adalah PT UOB Kay Hian Sekuritas. [ipe]




Komentar

Embed Widget
x