Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 19 Desember 2018 | 13:38 WIB

Pelemahan Rupiah, Asing dan Upaya Jokowi

Oleh : Ahluwalia | Jumat, 7 September 2018 | 14:05 WIB

Berita Terkait

Pelemahan Rupiah, Asing dan Upaya Jokowi
(Foto: Inilahcom/Eusebio Chrysnamurti)

INILAH.COM - Berbagai kalangan khawatir dan cemas bahwa merosotnya nilai rupiah bakal menghantam dunia usaha dan perbankan di Indonesia.

Namun, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso memastikan sampai saat ini perbankan masih dalam kondisi aman di tengah pelemahan rupiah dan indeks saham. Apa yang terjadi?

WImboh menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berikut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir merupakan kondisi yang masih wajar mengingat Indonesia yang terbiasa volatile.

Dia berhujah, strategi yang paling tepat saat ini adalah memperkuat koordinasi antarpemangku kepentingan sebagaimana juga arahan yang disampaikan Presiden Jokowi. Wimboh berpendapat komunikasi publik merupakan hal nomor satu dan paling penting di samping juga upaya untuk mendorong ekspor.

Mampukah rezim Jokowi? Persoalannya adalah ada sejumlah penyebab dari merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dewasa ini. Ini soal ekonomi dan non-ekonomi. Ada campur tangan asing yang sengaja melemahkan Indonesia karena pemerintahan Jokowi sangat lemah. Ekonom senior Kwik Kian Gie berusaha memaparkan masalah tersebut.

Menurut Mantan Menko Perekonomian Kwik Kian Gie, dari tahun 1970 hingga hari ini, dolar Singapura yang tadinya 1 dolar AS setara dengan 3 dolar Singapura, sekarang menjadi 1,3 dolar. Ini mengalami apresiasi naik atau menguat menjadi 57 persen.

Sementara itu, lanjut Kwik, untuk Malaysia yang tadinya 1 dolar AS setara 3 ringgit sekarang berubah menjadi 3,93 ringgit. Yang artinya mengalami depresiasi 31 persen. Thailand pun dengan mata uangnya bath yang tadinya 1 dolar AS setara sekitar 21 menjadi 31,86 baht pada tahun 2018 ini, mengalami depresiasi 52%. Filipina dari 1 dolar AS setara 6 peso, kini jadi 51,9 peso Filipina, mengalami depresiasi 756%.

Dan Indonesia, dari 1 dolar AS Rp363, sekarang Rp14.000 mengalami depresiasi sebesar 3.757 persen pada 2018 ini, setelah 40 tahun lebih menganut Neoliberalisme ekonomi.

Kalau sepanjang 48 tahun seperti ini, mengapa Rupiah tidak turun lagi? Ini jelas bukan hanya masalah ekonomi dan non-ekonomi. Indonesia yang bangsanya juga lembek ini ternyata terus direkayasa kekuatan asing agar terus terpuruk dan menjadi bangsa yang lemah dan tergantung.

Kwik Kian Gie menilai bahwa salah satu faktor penyebab merosotnya nilai tukar rupiah saat ini bukan hanya persoalan ekonomi. Tapi juga lebih kepada campur tangan asing.

"Karena yang saya pelajari, selama saya menjabat di pemerintahan adalah Indonesia sendiri memang direkayasa oleh kekuataan asing untuk menjadi bangkrut dan terpuruk," ungkap Kwik Kian Gie dalam sebuah diskusi di TV One, Jumat (18/5/2018).

Kwik pun memaparkan sejumlah data soal perbandingan nilai tukar mata uang negara-negara di Asean dengan dolar AS dari tahun 1970. Ia menjabarkan bahwa ada beberapa negara yang memang mengalami penguatan mata uangnya terhadap dolar. Namun, ada juga yang mengalami penurunan seperti terurai di atas.

Sekali lagi, kalau sepanjang 48 tahun seperti ini, mengapa Rupiah tidak turun lagi? Kwik pun menganalogikan bahwa seandainya rupiah tidak merosot akan menjadi aneh. Lantaran campur tangan asing terhadap Indonesia sudah terlalu dalam.

"Kecuali ada pemimpin nasional yang sangat kuat dan mengerti persoalan bangsa dan membalikkan itu," kata Kwik Kian Gie.

Indonesia akan kesulitan menjadi negara berpendapatan tinggi (higher income) atau negara maju pada 2030 karena pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai.

Itu dikatakan Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, belum lama ini dalam diskusi publik di Jakarta. Bahkan ia mengatakan, adalah mission impossible bila Indonesia menjadi negara maju menggunakan proyeksi di BI memakai pendekatan supply side.

Bila pertumbuhan ekonomi rata-rata mencapai 5,6 persen, Indonesia diprediksi bisa naik level dengan pendapatan per kapita di atas 10 ribu pada 2045. Sementara pada 2017 lalu, pendapatan per kapita Indonesia baru mencapai 3876 dolar AS.

Indonesia bisa naik level lebih cepat jika pertumbuhan ekonomi bisa diupayakan jadi lebih tinggi yaitu mencapai 6,4 persen. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi RI hanya sekitar 5%, tak mampu menembus angka 6,4% atau lebih. Bahkan untuk tumbuh 5% saja harus ditopang utang dan utang lagi.

Oleh sebab itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memproyeksikan Indonesia bakal sulit naik level dari negara berpendapatan menengah (middle income) ke berpendapatan tinggi (higher income) atau negara maju pada 2030. Sebab, pendapatan per kapita Indonesia masih belum memadai dan pertumbuhan ekonominya rendah.

Demikianlah, Indonesia harus bekerja sangat keras, kontribusi sumber daya manusia terhadap perekonomian dan rasio investasi riil harus ditingkatkan. Masih ada waktu dan kesempatan (berbagai sumber). [jin]

Komentar

Embed Widget
x