Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 17 Oktober 2018 | 19:19 WIB

Pekan Ini, Laju Pasar Obligasi Butuh Ujian

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 23 Juli 2018 | 10:13 WIB

Berita Terkait

Pekan Ini, Laju Pasar Obligasi Butuh Ujian
(Foto: Ilustrasi)

INILAHCOM, Jakarta - Pergerakan pasar obligasi dalam sepekan ke depan ditengarai masih harus kembali diuji. Masih adanya sejumlah sentimen yang dinilai kurang positif dapat menghalangi laju pasar obligasi berbalik menguat.

"Diharapkan sentimen sepekan ke depan, terutama dari kondisi eksternal dapat lebih baik dan kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat mereda sehingga mengurangi efek negatif pada pasar obligasi dalam negeri," kata Reza Priyambada, analis senior CSA Research Institute di Jakarta, Senin (23/7/2018).

Untuk itu, Reza menyarankan kepada para pemodal untuk tetap mencermati pergerakan imbal hasil obligasi global selanjutnya dan sejumlah sentimen makro dan antisipasi jika terdapat sentimen yang membuat pasar obligasi kembali berbalik arah melemah.

Apalagi, kata dia, spread yield obligasi Indonesia dan US Treasury tenor 10Y diperkirakan masih akan bergerak di kisaran 490-505 bps yang menandakan spread masih membesar. "Hal itu seiring meningkatnya preferensi risiko, terutama risiko dari sentimen makroekonomi global," ungkap dia.

Diperkirakan, rentang imbal hasil obligasi SUN internal akan berada dalam kisaran 15-25 bps (6,15%-8,45%). "Tetap cermati berbagai sentimen yang dapat membuat pasar obligasi kembali melemah," tuturnya seraya mewanti.

Di pekan lalu, meski pergerakan rupiah bergerak positif, aksi jual kembali terjadi pada pasar obligasi dalam negeri sehingga membuat pergerakannya kembali melemah. Pergerakan imbal hasilpun kembali terjadi kenaikan seiring imbas meningkatnya imbal hasil obligasi AS.

Pergerakan rupiah yang kembali melemah menghalangi peluang pasar obligasi untuk berbalik naik signifikan sehingga hanya menguat terbatas. Pelaku pasar pun cenderung menahan diri, terutama dengan adanya sentimen adanya testimoni dari Gubernur The Fed, Jeremy Powell, yang membuat laju imbal hasil obligasi AS naik dan berimbas pada pergerakan pasar obligasi dalam negeri.

Pergerakan rupiah yang kembali melemah dan imbal hasil obligasi AS yang kembali naik berimbas pada pergerakan pasar obligasi dalam negeri yang kembali melemah.

Pergerakan rupiah yang masih dalam pelemahannya meski diikuti dengan pergerakan dolar AS yang turun pascapernyataan Presiden Trump yang kontra terhadap kebijakan The Fed, memberikan imbas negatif pada pergerakan pasar obligasi dalam negeri yang kembali melanjutkan pelemahannya. Meningkatnya imbal hasil obligasi AS turut berimbas negatif pada pasar obligasi.

Di pekan kemarin, secara mingguan pergerakan imbal hasil cenderung tercatat naik. Pergerakan yield untuk masing-masing tenor ialah untuk tenor pendek (1-4 tahun) rata-rata mengalami kenaikan imbal hasil 9,59 bps; tenor menengah (5-7 tahun) naik 28,70 bps; dan panjang (8-30 tahun) naik 11,01 bps.

Pada obligasi korporasi, kembali mengalami kenaikan. Imbal hasil obligasi dengan dengan rating AAA yang di pekan sebelumnya di kisaran 9,18%-9,20% untuk tenor 9-10 tahun namun, di pekan kemarin bergerak di 9,45%-9,52%.

Pada rating AA, di level di level 10,10%-10,12% dari sebelumnya 9,96%-9,98%; rating A naik di kisaran 11,12%-11,20% dari sebelumnya 11,00%-11,03%; dan pada rating BBB dirilis di 13,99%-14,06% dari sebelumnya 13,68%-13,94%.

"Dari sisi makroekonomi, laju pasar obligasi banyak dipengaruhi kondisi eksternal," ucap Reza.

Pada pekan ini, jangan lewatkan lelang surat berharga syariah negara (SBSN) pada Selasa (24/7/2018) di mana pemerintah akan menawarkan enam seri obligasi negara. Adapun jumlah indikatif SBSN yang dilelang sebesar Rp6 triliun. Keenam seri obligasi itu adalah sebagai berikut:

1. Seri SPN-S011012019 (penerbitan baru) dengan pembayaran imbal hasil secara diskonto dan jatuh tempo 11 Januari 2019;

2. Seri SPN-S11042019 (penerbitan baru) dengan pembayaran imbal hasil secara diskonto dan jatuh tempo 11 April 2019;

3. Seri PBS016 (penerbitan kembali) dengan pembayaran imbal hasil 6,25 persen dan jatuh tempo 15 Maret 2020;

4. Seri PBS002 (penerbitan kembali) dengan tingkat imbal hasil 5,45 persen dan jatuh tempo 15 Januari 2022;

5. Seri PBS012 (penerbitan kembali) dengan tingkat imbal hasil 8,875 persen dan jatuh tempo 15 November 2031; dan

6. Seri PBS017 (penerbitan kembali) dengan tingkat imbal hasil 6,125 persen dan jatuh tempo 15 Oktober 2025. [jin]

Komentar

x