Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Sabtu, 17 November 2018 | 21:55 WIB

Berburu Cuan 65 Persen di Saham PGAS

Oleh : Ahmad Munjin | Senin, 9 Juli 2018 | 02:51 WIB

Berita Terkait

Berburu Cuan 65 Persen di Saham PGAS
PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) - (Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Analis melihat harga wajar saham PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) pada 12 bulan mendatang berada di level Rp4.500. Artinya, masih terdapat potensi kenaikan harga sahamnya sebesar 65,19% dari harga saat ini.

Pada perdagangan Jumat (6/7/2018), saham PGAS ditutup menguat Rp40 (2,6%) ke posisi Rp1.565 per unit saham. Harga intraday tertingginya di Rp1.625 dan terendah di Rp1.505. Jumlah lot yang ditransaksikan mencapai 2,2 juta senilai Rp347,5 miliar.

Secara fundamental, PGAS membukukan kenaikan pendapatan dari US$2,93 miliar pada tahun 2016 menjadi US$ 2,97 miliar pada tahun 2017. Pendapatan itu hanya tumbuh tipis 1,18 persen.

Pendapatan emiten berkode PGAS tersebut terutama diperoleh dari hasil penjualan gas sebesar US$2.404,6 juta dan penjualan minyak dan gas sebesar US$ 472,8 juta. Sedangkan laba operasi pada tahun 2017 sebesar US$377,01 juta. Sementara laba bersih sebesar US$ 143,1 juta atau Rp1,92 triliun dengan kurs rata-rata Rp 13.381 per dolar AS. Laba bersih tersebut turun 52,96 persen dari periode 2016 US$304,32 juta.

Adapun EBITDA sebesar US$ 830 juta, naik sebesar US$23 juta dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$ 807 juta. Laba bruto turun 10,11 persen menjadi US$ 797,23 juta pada tahun 2017 dari tahun 2016 sebesar US$ 886,93 juta.

PGAS mencatat kenaikan beban distribusi dan transmisi naik menjadi US$237,15 juta pada tahun 2017 dari pada tahun 2016 sebesar US$220,40 juta.

Pada 29 Juni 2018 PGAS telah resmi memiliki 51% saham PT Pertamina Gas (Pertagas). Aksi korporasi ini merupakan rangkaian dari upaya pembentukan holding BUMN migas. Transaksi pengambilalihan saham Pertagas ini nilainya mencapai Rp16,6 triliun.

Nilai tersebut merupakan harga pembelian untuk 2.591.099 saham yang dimiliki oleh Pertamina dalam Pertagas. Sementara itu PT Perta Arun Gas, PT Perta Daya Gas, PT Perta Samtan Gas, dan PT Perta Kalimantan Gas sudah dikeluarkan dari buku Pertagas, sehingga hanya terdapat PT Pertagas Niaga sebagai anak usaha di dalam buku Pertagas.

Diharapkan aksi korporasi ini dapat menambah dan menjamin portofolio pasokan gas bumi serta gas bumi cair (LNG) dan infrastruktur jaringan pipa gas bumi bagi PGAS. Proses pembangunan infrastruktur gas pun diharapkan tidak lagi terjadi tumpang tindih.

Sampai kuartal I tahun 2018, PGAS mencatat posisi aset sebesar US$6,46 miliar, sedangkan sampai akhir tahun 2017, Pertagas mencatat nilai asetnya sebesar US$1,92 miliar. Dengan adanya akusisi ini PGAS akan mengendalikan sekitar 96% dari distribusi gas dan infrastruktur transmisi pipa gas di Indonesia.

Kiswoyo Adi Joe, Peneliti Senior PT Narada Kapital Indonesia mengasumsikan secara fundamental, Return on Equity (RoE) PGAS pada akhir tahun 2018 sebesar 75%, beta saham PGAS 1.67, Risk Free Return sebesar 5.25%, PE tertinggi PGAS 30x, dan pertumbuhan Earning per Share (EPS) PGAS untuk tahun 2018 sebesar sebesar 19%.

Oleh karena itu, Kiswoyo melihat harga wajar saham PGAS pada 12 bulan mendatang berada di level Rp4.500. "Masih terdapat potensi kenaikan harga saham PGAS sebesar 65,19% dari harga saat ini di level Rp1.565," kata dia dalam risetnya yang diterima di Jakarta, baru-baru ini.

Lebih jauh dia melihat, EPS PGAS di tahun 2018 bisa tumbuh 19% dari EPS tahun 2017 sebesar Rp135 menjadi Rp161 di akhir tahun 2018 ini dengan asumsi kurs Rp13.568 per dolar AS.

Di tahun 2018, Kiswoyo memprediksi PGAS masih bisa tumbuh secara kompetitif. "Kami optimistis PGAS dapat mencapai target pendapatan tahun 2018," tandas dia.

Dengan dilakukannya akuisisi Pertagas oleh PGAS diharapkan pula dengan integrasi ini, bisa mewujudkan efisiensi di seluruh mata rantai, mulai dari kepastian sumber gas hingga distribusi yang diharapkan mewujudkan harga gas yang kompetitif.

"Dengan posisi PGAS yang akan mengendalikan sekitar 96% dari distribusi gas dan infrastruktur transmisi pipa gas di Indonesia setelah akusisi Pertagas, maka kami yakin ke depannya PGAS akan bisa memperoleh keuntungan maksimal dari monopolinya ini secara terus menerus," ungkap dia.

"Dan mulai tahun 2018 ini, kami yakin net profit PGAS akan mulai naik kembali secara stabil." [jin]

Komentar

x