Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 Juni 2018 | 04:58 WIB
 

Bos BEI tak Sudi BI Kerek Suku Bunga Lagi

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Rabu, 30 Mei 2018 | 13:01 WIB
Bos BEI tak Sudi BI Kerek Suku Bunga Lagi
Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio - (Foto: inilahcom/Fadil Dj)

INILAHCOM, Jakarta - Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio mengaku tak sudi Bank Indonesia (BI) mengerek kembali suku bunga acuannya, BI-7 Day Reverse Repo Rate.

BI siang ini Rabu (30/5/2018) akan mengumumkan hasil rapat dewan gubernur (RDG) tambahan. Memang, bank sentral telah memberikan sinyal akan menaikkan kembali suku bunga acuan. Setelah kenaikan 25 basis points (bps) beberapa waktu lalu.

"Pasar modal tidak pernah menginginkan bunga naik. Musuh terbesar di pasar modal," kata Tito saat ditemui di Kantornya, Jakarta, Rabu (30/5/2018).

Tito tak sembarangan bilang, menurutnya jika suku bunga acuan naik, tentunya bakal diikuti naiknya suku bunga kredit perbankan.

"Saat suku bunga kredit naik, biasanya diikuti penyesuaian suku bunga deposito. Saat suku bunga deposito tinggi, investor akan lebih memilih deposito sebagai instrumen investasinya karena dinilai lebih aman ketimbang pasar modal yang fluktuatif," kata Tito.

Selain itu, menurut Tito, jika RDG tambahan memutuskan untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 4,75%, Tito mengungkapkan, hal tersebut akan menimbulkan reaksi dari perbankan.

Sebab, pada kenaikan suku bunga sebelumnya, perbankan masih menahan untuk tidak turut menaikkan bunga kredit. Sehingga jika suku bunga kembali naik, perbankan menurutnya juga akan ambil langkah.

"Tapi artinya kalau naik maka bunga kredit enggak akan bertahan. Kan bank enggak naikin kemarin, tapi kalau naik sampai 4,75%, bank juga enggak akan tahan dong. Mau lebaran lagi. Ada banyak hal yang harus dilihat," kata Tito.

Bank Indonesia (BI) menyebutkan bank sentral tak segan menempuh kebijakan untuk menstabilkan nilai rupiah yakni dengan menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) tambahan.

BI menegaskan RDG tambahan digelar bukan karena perekonomian nasional sedang dalam kondisi darurat.

Menanggapi hal ini Ekonom di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara pesimistis RDG tambahan yang dilakukan oleh BI tidak akan memperkuat laju nilai tukar rupiah.

"Jadi meskipun BI akan naikan bunga acuan lagi di RDG tambahan pelaku pasar tidak terlalu surprise," kata Bhima kepada INILAHCOM.

Yang jadi perhatian utama kata Bhima justru adalah melihat sinyal berapa kali BI akan naikan bunga acuan sampai akhir tahun.

"Apakah benar benar pre emptive mengantisipasi setiap naiknya Fed rate atau lebih dovish. Kemudian pelaku pasar juga mencermati langkah lain yang mungkin diambil BI sebagai bentuk stabilisasi rupiah," katanya. [jin]

Komentar

 
x