Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Jumat, 22 Juni 2018 | 18:34 WIB
 

Pelemahan Rupiah Berkurang tapi belum Teruji

Oleh : Ahmad Munjin | Minggu, 29 April 2018 | 15:12 WIB
Pelemahan Rupiah Berkurang tapi belum Teruji
(Foto: Inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Pelemahan yang terjadi pada rupiah terlihat mulai berkurang seiring imbas mulai tertahannya kenaikan laju dolar AS dan turunnya imbal hasil obligasi AS.

Meski demikian, kata Reza Priyambada, analis senior Binaartha Sekuritas, kenaikan rupiah tersebut kembali harus diuji ketahanannya untuk dapat melanjutkan kenaikannya.

"Diharapkan sentimen dari dalam negeri masih ada yang lebih positif untuk membuat laju rupiah bertahan dari imbas sentimen eksternal," katanya di Jakarta, Minggu (29/4/2018).

Peluang rupiah untuk dapat bergerak positif kembali, menurut Reza, dapat lebih terbuka sepanjang laju dolar AS tidak kembali berfluktuasi. "Tetap cermati dan waspadai berbagai sentimen yang dapat menghalangi potensi penguatan lanjutan pada rupiah," ujarnya.

Diperkirakan Reza, laju rupiah akan berada pada rentang support 13.893 dan resisten 13.873 dalam sepekan ke depan.

Sementara itu, laju rupiah di pekan kemarin, masih dalam pelemahannya seiring kembali terapresiasnya laju dolar AS karena sentimen internal dari makroekonomi AS.

Adapun nilai tukar rupiah terdepresiasi 0,11 persen dari sebelumnya turun 0,88 persen. Di pekan kemarin, laju Rupiah sempat melemah ke level 13.930 atau di bawah sebelumnya di level 13.875.

Sementara level tertinggi yang dicapai di angka 13.875 atau di bawah sebelumnya di angka 13.748. "Laju rupiah di pekan kemarin bergerak di bawah target support 13.888 dan resisten 13.864," ucapnya.

Masih adanya imbas kenaikan laju dolar AS seiring kenaikan imbal hasil obligasi AS memberikan sentimen negatif pada pergerakan rupiah yang kembali berada di zona merah di awal pekan.

Efek psikologis terhadap meningkatnya inflasi AS seiring kenaikan harga minyak mentah dan sejumlah komoditas lainnya diperkirakan akan memicu The Fed menaikan suku bunganya sehingga berimbas pada terapresiasinya USD.

Sementara itu, dari dalam negeri BI telah melakukan sejumlah intervensi untuk menjaga rupiah sehingga tidak mendekati level Rp14.000 per dolar AS.

Pascapelemahan, laju rupiah mencoba kembali berbalik menguat meski terbatas seiring masih adanya imbas kenaikan laju dolar AS. Di tengah kenaikan dolar AS tersebut pergerakan euro mencoba mengimbanginya sehingga imbas kenaikan dolar AS tidak terlalu besar terhadap pergerakan euro.

Kembali terapresiasinya laju dolar AS seiring imbas melonjaknya imbal hasil sejumlah obligasi AS menutup peluang rupiah untuk terjadinya pembalikan arah menguat.

"Sementara itu, berbagai berita-berita positif dari dalam negeri sehubungan dengan meningkatkan pemasukan cadangan devisa nantinya tampaknya belum direspon positif," papar dia.

Pergerakan dolar AS masih kembali mengalami kenaikan seiring masih adanya penguatan imbal hasil obligasi AS. "Tertembusnya imbal hasil obligasi AS hingga melewati batas psikologis 3 persen membuat permintaan akan aset safe heaven meningkat," ucapnya.

Di sisi lain, permintaan akan dolar AS yang meningkat juga disebabkan oleh melebarnya spread imbal hasil obligasi AS dan obligasi Jepang maupun Eropa sehingga membuat mata uang yen dan euro cenderung melemah dan laju dolar AS kembali terapresiasi.

Sementara itu, upaya Menkeu untuk menenangkan pasar dengan mengatakan pelemahan dolar AS harus bisa dimanfaatkan oleh ekonomi Indonesia dan upaya Kementerian Perindustrian terhadap prioritas pengembangan sejumlah industri tertentu untuk menarik investasi tampaknya belum sepenuhnya direspons positif.

Laju Rupiah cenderung bergerak mendatar pada perdagangan di akhir pekan seiring masih adanya imbas dari kekhawatiran akan kenaikan laju dolar AS. "Padahal, dalam perdagangan valas global, laju dolar AS cenderung tertahan jelang rilis GDP kuartal pertama AS yang diperkirakan akan cenderung melambat," imbuhnya. [jin]

Komentar

 
x