Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Senin, 24 September 2018 | 18:55 WIB

5 Tahun Laba Jeblok Terus, Ini Kata PGN

Oleh : Mohammad Fadil Djailani | Senin, 16 April 2018 | 14:47 WIB

Berita Terkait

5 Tahun Laba Jeblok Terus, Ini Kata PGN
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Dalam 5 tahun terakhir, PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGAS) terus mencatatkan penurunan laba. Bahkan, penurunan laba PGN ini turut menjadi sorotan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Direktur Komersial PGN Danny Praditya mengatakan penyebab utama laba PGN terus merosot lantaran PGN sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memiliki tugas untuk mendukung kebijakan pemerintah dalam menyediakan harga gas domestik yang terjangkau bagi industri maupun masyarakat.

Salah satu contohnya adalah PGN tidak menaikkan harga pokok penjualan (HPP) gas ke pelanggan, meskipun harga beli gas domestik dari kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) terus naik.

"Kalau kita untung besar, nanti industri jerit-jerit harga gasnya kemahalan, kalau kita dianggap untungnya turun kita tidak dianggap performance investornya marah-marah," kata Danny di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (16/4/2018).

Sehingga kata Danny, PGN sebagai BUMN menjaga 3 hal kepentingan yang harus dijaga, yakni sebagai perusahaan BUMN, perusahaan milik publik (investor) dan juga melayani pelanggan.

"Jadi memang kita selalu balancing semua interset dari stakeholder kita. Dari pemerintah mengharapkan sebagai BUMN kita diharapakan jadi penggerak ekonomi, dari investor tentu akan mengharapkan return, dari stakeholder yang lain pelanggan adanya komoditas yang kompetitif. Ini 3 kepentingan yang selalu kita juggling," katatanya.

Asal tahu saja dalam kurun waktu 5 tahun terkahir laba perusahaan terus merosot dari US$845 juta pada 2013 menjadi sebesar US$ m143 juta di akhir tahun 2017.

Manajemen tidak menaikkan harga gas demi mendukung kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2016 tentang Penetapan Harga Gas Bumi.

Beleid tersebut memerintahkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk melarang perusahaan distributor gas menjual gas dengan harga lebih dari US$6 per MMBTU untuk enam sektor industri yang banyak menggunakan gas, yaitu industri pupuk, petrokimia, oleochemical, baja, keramik, kaca, dan sarung tangan karet.

PGN mendukung instruksi Kementerian ESDM untuk menurunkan harga jual gas kepada pelanggan industri di Medan sesuai Keputusan Menteri ESDM Nomo 434.K/2017. Aturan tersebut juga meminta PGN untuk bersedia menjual gas dari harga rata-rata sebelumnya US$1,35 per MMBTU menjadi US$0,9 per MMBTU, sehingga membuat perusahaan harus menanggung beban sebesar US$3 juta per tahun.

Selain itu, penugasan dari Kementerian ESDM untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) dan Jaringan Gas Rumah Tangga (Jargas) juga mengharuskan PGN menyediakan dana setidaknya US$4,9 juta per tahun.

Danny memastikan manajemen PGN telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah laba perusahaan turun lebih dalam. Hal tersebut diantaranya dilakukan dengan menekan biaya operasional menjadi US$457 juta pada akhir 2017. Artinya dalam lima tahun terakhir, PGN berhasil menurunkan CAGR biaya operasional sebesar 3% dari US$511 juta pada 2013 lalu.

Manajemen juga berhasil menekan jumlah utang atau liabilitas jangka pendek maupun jangka panjang perusahaan. Sampai akhir 2017, liabilitas PGN tercatat sebesar US$3,10 miliar, berkurang signifikan dibandingkan posisi liabilitas 2016 sebesar US$3,66 miliar. [jin]

Komentar

Embed Widget
x