Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 22 Juli 2018 | 02:12 WIB
 

Inilah Rencana Bisnis Induk PT PGN

Oleh : Indra Hendriana | Kamis, 12 April 2018 | 02:03 WIB
Inilah Rencana Bisnis Induk PT PGN
(Foto: Ilustrasi)


INILAHCOM, Jakarta - Pendapatan sektor migas ke depan ditargetkan menjadi lebih besar. Hal tersebut menyusul adanya penggabungan BUMN sektor migas, yakni Pertagas dan PGN.

Demikian disampaikan Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) PT Pertamina Persero, Nicke Widyawati di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Menurut Nicken, dengan adanya holding migas membuat efisiensi dalam segala hal. Kemudian akan memperkuat struktur permodalan. Sebab, selama ini permodalan kedua perusahaan itu terpisah.

"Yang selama ini pisah disatukan sehingga kemampuan untun investasi, kemampuan untuk create more value jadi lebih besar," kata Nicke di Gedung Kementerian BUMN, Jakarta, Rabu (11/4/2018).

Nicken yang juga Ketua Tim Implementasi Pembentukan Holding Migas ini meyakini dengan holding ini akan meningkatkan sisi bisnis. Sebab, selama ini keduanya saling berkompetisi dalam mendapat atau mengerjakan proyek.

"Sehingga diharapkan pasarnya semakin luas. Kalau selama ini fokus lebih banyak di Sumatra dan Jawa, ini infras midstream dan downstream kami ingin perluas ke Indonesia tengah dan timur," ujar dia.

Ketiga, tentu diharapkan dengan adanya integrasi ini akan terjadi efisiensi. Keempat, kita harapkan adanya integrasi dan sinergi dari investasi. Kalau tadi opex, ini capex. Empat target ini yang kita tetapkan.

Saat ini, kata Nicke pembuatan peta besar Pertamina Grup masih dalam proses finalisasi. Atas bergabungan PGN ke Pertamina, dia masih akan mengevaluasi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP), juga Rencana Jangka Panjang (RJP) dari Perusahaan Gas Negara.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno sudah menandatangani akta Perjanjian pengalihan saham seri B milik negara sebesar 56,96 persen di PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk kepada PT Pertamina (Persero). Pembentukan holding BUMN migas ini, bersadarkan instruksi Presiden Joko Widodo. Pertamina resmi menjadi induk perusahaan.

Deputi Bidang Usaha Pertambangan Industri Strategis dan Media, Kementerian BUMN, Harry Fajar Sampurno mengatakan sebanyak Rp38,13 triliun saham PGN milik pemerintah akan dialihkan ke Pertamina. "Itu bukan nilai PGN, tapi nilai saham pemerintah di PGN," kata dia.

Atas pengalihan saham tersebut, kata Harry, akan adanya perubahan Anggaran Dasar Pertamina terkait perubahan atau peningkatan modal. Hal tersebut sudah disetujui oleh Rini.

"Hal strategis, seperti perubahan Anggaran Dasar, dan pengusulan pengurus perusahaan, masih harus dengan persetujuan saham dwiwarna, apalagi jika melakukan perubahan struktur modal atau rights issue tentu harus dengan persetujuan DPR sebagaimana diatur dalam PP 72/2016," ujar Harry.

Pertimbangan dalam mengintegrasikan PGN dan Pertamina, dikarenakan dua perusahaan tersebut memiliki lini bisnis yang sama dalam hal trasnportasi dan niaga gas. Menurut Harry, terdapat penghematan biaya operasional, karena hilangnya tumpang tindih dalam pengembangan infrastruktur. [hid]

Komentar

x