Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Minggu, 24 Juni 2018 | 04:48 WIB
 

Habis Suku Bunga FFR Muncul Perang Dagang AS-China

Oleh : - | Sabtu, 24 Maret 2018 | 04:29 WIB
Habis Suku Bunga FFR Muncul Perang Dagang AS-China
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Analis pasar modal Andri Zakaria Siregar menilai, kenaikan suku bunga AS (Fed Fund Rate/FFR) memengaruhi bursa saham global, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"Masih adanya persepsi di pasar The Fed akan agresif dalam menaikan suku bunga acuannya menjadi salah satu faktor yang membuat pergerakan saham cenderung melemah," ujar Andri yang juga analis BNI Sekuritas di Jakarta, Jumat (23/3/2018).

Naiknya suku bunga The Fed, lanjut dia, mempersempit ruang gerak Bank Indonesia (BI) dalam memperlonggar pergerakan moneter. Kondisi ini jelas memengaruhi aktivitas di sektor ritel. "Jika sektor ritel melambat maka akan mempengaruhi ekonomi nasional dan kinerja emiten," kata Andri.

Kendati demikian, menurut dia, pelemahan IHSG dalam beberapa hari terakhir ini, relatif masih lebih baik dibandingkan bursa saham negara lain. Artinya, pelemahan IHSG cenderung terpengaruh sentimen eksternal. "Kita paling defensif dibandingkan bursa negara lain, bursa eksternal penurunannya cukup dalam," katanya.

Andri menambahkan, kinerja emiten di dalam negeri yang positif, akan memicu investor kembali melakukan akumulasi. Apalagi, harga saham saat ini nilainya sudah cukup rendah. "Harga saham di BEI sudah cukup rendah, sementara kinerjanya bagus, maka itu peluang bagi investor untuk akumulasi," katanya.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), rata-rata kinerja laba emiten yang masuk kelompok 45 saham unggulan alias LQ45, tumbuh 21,28%. Capaian ini jauh di atas kinerja emiten bursa ASEAN diantaranya Thailand sebesar 18,13%, Vietnam sebesar 18,94%, ataupun Singapura 15,46%.

Sentimen selanjutnya yang ditunggu investor, kata Andri, adalah perang dagang global. Menyusul memorandum pengenaan tarif impor untuk produk China (Tiongkok) senilai US$60 miliar oleh Presiden AS, Donald Trump.

Direktur Utama BEI, Tito Sulistio menegaskan, kebijakan proteksionis AS langsung direspons pemerintah China dengan aksi balasan. Artinya, negeri Tirai Bambu akan menerapkan kebijakan yang sama untuk produk AS. "Kondisi itu dapat memicu kekhawatiran perang dagang dalam skala gtobaI yang lebih luas. Namun, ini sentimen temporer bagi pasar saham," kata Tito. [tar]

Komentar

 
x