Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 15 Agustus 2018 | 22:22 WIB

Outlook Februari 2018

IHSG masih Merangsek Naik dan Risiko Lebih Rendah

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 2 Februari 2018 | 08:09 WIB
IHSG masih Merangsek Naik dan Risiko Lebih Rendah
(Foto: inilahcom)

INILAHCOM, Jakarta - Kondisi IHSG pada bulan Februari 2018, berdasarkan siklus diperkirakan cenderung masih mengalami kenaikan. Meski begitu, para pemodal disarankan juga untuk memahami risiko-risikonya.

Dari hasil perhitungan historis sejak 2008 hingga 2017 didapatkan rata-rata pergerakan IHSG sepanjang bulan Februari menghasilkan tingkat imbal hasil 2,10 persen dengan tingkat risiko yang berdasarkan perhitungan sederhana menggunakan standar deviasi sebesar 3,25 persen.

"Jika dibandingkan dengan bulan Januari, angka-angka tersebut lebih baik di mana menghasilkan tingkat imbal hasil yang lebih tinggi namun, dengan tingkat risiko yang lebih rendah di mana angka standar deviasi di bulan Feburari lebih rendah dari Januari," kata Reza Priyambada, analis senior Binaartha Sekuritas, di Jakarta, Kamis (1/2/2018) malam.

Hal ini, lanjut dia, memberikan asumsi bahwa meski di bulan Februari masih terdapat berbagai faktor risiko yang ada di pasar, pergerakan IHSG masih mampu bergerak lebih baik dari bulan sebelumnya. "Berbagai faktor risiko, berupa berbagai sentimen diasumsikan telah terserap ke dalam perhitungan standar deviasi tersebut," ujarnya.

Namun demikian, Reza melihat dari sisi kondisi riil di lapangan dimungkinkan tidak berjalan sebagaimana mestinya karena sifat pasar yang cenderung dinamis. "Berbagai faktor sentimen akan bercampur dengan faktor psikologis yang akan memengaruhi ritme pasar," timpal dia.

Pergerakan pasar pun, terutama IHSG, akan tergantung dari berita-berita emiten secara individual terutama yang berkaitan dengan aksi korporasi akan kemungkinan akan lebih mendapat perhatian pelaku pasar. "Tak ketinggalan, juga dengan berita-berita yang bersifat makroekonomi yang memengaruhi pasar secara keseluruhan," tuturnya.

Faktor penggerak IHSG pun, kata dia, akan banyak berdasarkan rumor dan sentimen sesaat sehingga kelajuan IHSG pun rentan terjadi perubahan melemah dalam tren kenaikan. "Ditambah lagi dengan posisi IHSG yang selama bulan Januari terus menapak di rekor terbarunya sehingga dimungkinkan juga menyimpan potensi pembalikan melemah," ucapnya.

Dari sisi inflasi, rilis inflasi Januari 2017 di mana Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 132,10 memberikan tingkat inflasi tahun kalender Januari 2018 sebesar 0,62 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Januari 2018 terhadap Januari 2017) sebesar 3,25 persen. "Inflasi tersebut berada dalam kisaran target inflasi kami yang berkisar antara 0,14-0,70 persen secara bulanan," ungkap Reza.

Adapun, inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 2,34 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,43 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,23 persen; kelompok sandang sebesar 0,50 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,28 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,16 persen.

Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,28 persen. Tingkat inflasi tahun kalender Januari 2018 sebesar 0,62 persen dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Januari 2018 terhadap Januari 2017) sebesar 3,25 persen. Komponen inti pada Januari 2018 mengalami inflasi sebesar 0,31 persen.

Di atas semua itu, Reza memperkirakan, laju IHSG selama Februari 2018, berada dalam kisaran support 6.325-6.495 dan resisten 6.748-6.766. [jin]

Komentar

x