Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 23 Mei 2018 | 14:13 WIB
 

Outlook 2018

Meneropong Pasar Modal: Saham dan Obligasi

Oleh : Ahmad Munjin | Rabu, 27 Desember 2017 | 03:10 WIB
Meneropong Pasar Modal: Saham dan Obligasi
(Foto: istimewa)

INILAHCOM, Jakarta - Pada 2018, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) melihat prospek positif pada saham-saham berorientasi domestik dan berbasis sumber daya alam. Sementara itu, obligasi dipengaruhi oleh inflasi, peringkat utang, dan pertumbuhan ekonomi. Seperti apa?

Katarina Setiawan, Chief Economist and Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, sepanjang 2017, IHSG telah mencatat rekor tertinggi.

"Itu terutama didukung oleh sektor perbankan seiring dengan stabilisasi ekonomi yang antara lain ditunjukkan oleh tren penurunan kredit macet," katanya dalam keterangan resmi yang diterima INILAHCOM, di Jakarta, Selasa (26/12/2017).

Tren positif perekonomian, diperkirakan dia, masih akan berlanjut di 2018 dan peningkatan daya beli konsumen akan memberi dampak positif pada pertumbuhan penjualan emiten yang berorientasi domestik.

Selain itu, lanjut Katarina, tema sinkronisasi pertumbuhan global juga akan terus mendukung performa ekspor Indonesia dan kinerja laba dari perusahaan berbasis sumber daya alam di Indonesia. "Tentunya selain dipengaruhi oleh faktor fundamental, kinerja pasar saham tidak terlepas dari faktor sentiment," ungkap dia.

Sementara itu, kata dia, situasi politik akan menjadi faktor risiko yang dapat memengaruhi minat investasi di bursa saham, terutama bagi investor asing. "Pemerintah juga perlu menunjukkan komitmen untuk menjaga kepastian hukum dan mengurangi intervensi yang berlebihan pada dunia usaha," ucapnya mewanti-wanti.

Untuk pasar obligasi, ada beberapa faktor global dan domestik yang akan berperan pada pergerakan di tahun 2018. Tiga faktor dari sisi domestik adalah potensi kenaikan inflasi, potensi kenaikan peringkat sovereign rating, dan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB), yang rinciannya sebagai berikut:

Pertama, terdapat kekhawatiran bahwa Pilkada serentak bulan Juni nanti dapat memicu inflasi. "Namun kami melihat implikasi Pilkada terhadap inflasi tidak akan signifikan seperti yang dikhawatirkan, terutama jika kita berkaca pada inflasi yang ditimbulkan oleh tahapan Pilkada serentak di Februari 2017. Selain itu, kita ingat inflasi Juni 2017 sebesar 4,37% adalah inflasi tahunan tertinggi sepanjang 2017, yang artinya akan ada high base effect di Juni 2018," papar dia.

Kedua, potensi ditingkatkannya peringkat sovereign rating oleh Fitch Ratings.

Ketiga, pertumbuhan PDB, bila berpijak dari data kuartal ketiga 2017, PDB Indonesia tumbuh lebih rendah dari konsensus ekspektasi. Dengan pertumbuhan yang masih lambat, Bank Indonesia diharapkan akan menjaga suku bunga rendah, yang juga ditopang oleh inflasi yang selama ini masih sangat terjaga.

Cadangan devisa juga berada pada level yang cukup aman. Dari sisi global, selain reformasi perpajakan, kenaikan suku bunga Amerika Serikat masih akan menjadi faktor dominan yang dicermati yang memberi dinamika bagi pasar obligasi.

Konsensus memproyeksikan bahwa kenaikan suku bunga tersebut akan terjadi dua kali masing-masing 25 bps. "Kenaikan ini tentu berdampak negatif untuk kelas aset obligasi di seluruh dunia termasuk Indonesia," ujarnya.

Namun demikian, Katarina menggarisbawahi, pengumuman Jerome Powell sebagai Fed Chairman pengganti Janet Yellen disambut gembira oleh pasar. Sebab, Powell cenderung lebih berhati-hati dalam kebijakan suku bunga dibandingkan kandidat lain. "Faktor global lain yang juga perlu dicermati juga adalah rencana pengurangan stimulus di beberapa kawasan," imbuhnya. [jin]

Komentar

 
x