Logo Inilah Round Logo Inilah Letter

Find and Follow Us

Rabu, 15 Agustus 2018 | 23:44 WIB

Bangun Tol Manado-Bitung Tersandung Lahan

Oleh : - | Jumat, 15 Desember 2017 | 13:38 WIB
Bangun Tol Manado-Bitung Tersandung Lahan
(Foto: Istimewa)

INILAHCOM, Manado - Pada Minggu, 12 Oktober 2014, menjadi momentum awal dimulainya pembangunan jalan tol ruas Manado-Bitung di Sulawesi Utara.

Momentum itu bergulir setelah diresmikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat itu, Chairul Tanjung.

Upaya mempercepat pembangunan jalan tol sepanjang 39,9 kilometer yang melintasi Kabupaten Minahasa Utara itu dilakukan oleh Gubernur kala itu, Sinyo H Sarundajang, dengan mengalokasikan anggaran miliaran rupiah melalui APBD untuk membantu proses pembebasan lahan.

Tak hanya soal pengalokasian anggaran yang terbatas dalam APBD, warga yang tanahnya terkena pembangunan lintasan jalan tol itu seakan tak mau melepaskan lahannya untuk dibebaskan.

Pelik memang. Pemerintah Provinsi Sulut "menyerah" dan kemudian berharap pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum menalangi secara utuh anggaran pembebasan lahannya.

Tiga tahun sejak dilakukan "ground breaking" rupanya pembebasan lahan itu tak kunjung usai, walaupun pemerintah pusat telah menyiapkan paket anggaran lebih dari Rp800 miliar untuk pembebasan lahan yang masih belum rampung.

Status per 15 Desember 2017 seperti yang dirilis PT Jasamarga Manado-Bitung membuka terang benderang capaian pembebasan lahan jalan tol yang disebut-sebut terpanjang di wilayah Sulawesi itu.

Segmen IA (ruas Manado-Sukur) sepanjang tujuh kilometer yang dibangun pemerintah dengan sumber dana loan China membutuhkan lahan seluas 1.431.929 meter persegi (446 bidang).

Pada segmen itu, terealisasi 1.371.757 meter persegi (389 bidang) atau 95,80 persen. Satu bidang dikonsinyasi dan sebanyak 101 bidang dimusyawarahkan.

Di segmen IB (ruas Sukur-Airmadidi) sepanjang tujuh kilometer yang dibangun pemerintah dari sumber dana APBN, lahan yang dibutuhkan 1.329.819 meter persegi (706 bidang), dan mampu direalisasikan seluas 943.986 meter persegi (431 bidang) atau 70,99 persen.

Sebanyak empat bidang sementara dalam proses ganti rugi, revisi dua bidang, keberatan nilai 42 bidang, rencana konsinyasi 20 bidang dan pengumuman sebanyak 194 bidang.

Begitupun pada segmen IIA (ruas Airmadidi-Danowudu) sepanjang 11,5 kilometer yang dibangun Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) dibutuhkan seluas 1.107.531 meter persegi (182 bidang), dan terealisasi seluas 1.053.868 meter persegi (153 bidang) atau 95,15 persen.

BUJT akan melakukan mengumumkan sebanyak sembilan bidang serta musyawarah satu bidang, sementara keberatan nilai sebanyak dua bidang dan rencana konsinyasi 23 bidang.

Selanjutnya, pada segmen IIB (ruas Danowudu-Bitung) sepanjang 13,5 kilometer, dibutuhkan lahan seluas 1.134.192 meter persegi (1.159 bidang), namun yang teralisasi baru seluas 533.781 meter persegi (263 bidang) atau 48,83 persen.

Pelaksana proyek sementara mempersiapkan pengumuman 392 bidang, revisi bila nilai sebanyak 171 bidang, verifikasi nominatif 116 bidang, proses penilaian 74 bidang, pengajuan SPP 156 bidang, proses SPP 76 bidang dan konsinyasi sebanyak 70 bidang.

"Mudah-mudahan kita bisa mencapai 100 persen, namun ada beberapa bidang yang harus dikonsinyasi," ujar Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional XV Sulawesi Utara-Gorontalo Riel Mantik.

Maksimalkan Lahan Bebas Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengunjungi jalan tol Manado-Bitung pada pertengahan November lalu. Dia menginstruksikan agar kontraktor menambah peralatan dan tenaga kerja serta memaksimalkan pekerjaan pada lahan yang sudah bebas.

Menurut dia, konstruksi ruas jalan tol ini dapat selesai lebih cepat karena kondisi tanahnya tidak membutuhkan penanganan khusus seperti pada beberapa ruas tol di trans Sumatera dan trans Jawa.

"Kehadiran jalan tol Manado-Bitung meningkatkan kelancaran akses pelabuhan internasional Bitung sebagai salah satu pintu ekspor impor bagi kawasan Indonesia bagian timur. Hal ini akan mempersingkat lalu lintas barang dan jasa yang sebelumnya harus melalui Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Ini juga akan mendukung perkembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Bitung," kata Menteri Basuki kala itu.

Secara rinci, pengerjaan fisik (data BPJN XV tanggal 7 Desember 2017) pada segmen 0-14 kilometer baru terealisai 29,93 persen dari rencana fisik 31,46 persen atau terjadi deviasi sebesar -1,54 persen.

Tidak terealisasi penuh target fisik juga terjadi pada segmen 25-39 kilometer, dari rencana 16,56 persen mampu terealisasi 12,05 persen atau terjadi deviasi sebesar -4,504 persen.

Jalan tol Manado-Bitung merupakan salah satu proyek strategis nasional (PSN) pemerintah untuk meningkatkan konektivitas sehingga akan menurunkan biaya logistik.

Meski pengerjaan fisik belum terealisasi sesuai target, namun Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) optimistis pembangunan jalan tol Manado-Bitung sepanjang 39,9 kilometer dapat diselesaikan hingga akhir 2018.

"Jalan tol ini akan dinikmati oleh seluruh masyarakat Sulawesi Utara, terutama mereka para pengguna jalan," kata Direktur Jalan Bebas Hambatan Sugiyartanto usai kunjungan lapangan.

Sugiyartarto saat melakukan monitoring dan eveluasi pengerjaan jalan tol Manado-Bitung awal Desember lalu mengatakan, proses percepatan perkerasan akan dimaksimalkan karena faktor pendukung lainnya seperti penyediaan lahan dan kontur tanahnya menunjang.

Kehadiran ruas jalan tol ini akan mendistribusikan arus lalu lintas sehingga tidak terjadi kemacetan di ruas jalan nasional.

Percepatan pengerjaan masih signifikan namun harus terus dipacu jam kerjanya dengan memaksimalkan saat cuaca mendukung, katanya.

"Bila cuaca terang, frekuensi pekerjaannya harus ditambah untuk menutupi hari-hari tertentu saat cuacanya tidak mendukung," katanya mengharapkan. [tar]

Komentar

Embed Widget

x