Find and Follow Us

Rabu, 20 November 2019 | 15:53 WIB

Respons Tapering The Fed, IHSG-Rupiah Tak Kompak

Oleh : Ahmad Munjin | Jumat, 6 September 2013 | 20:11 WIB
Respons Tapering The Fed, IHSG-Rupiah Tak Kompak
(Foto : inilah.com/Wirasatria)
facebook twitter

INILAH.COM, Jakarta IHSG mendarat di teritori positif tapi rupiah justru melemah. Positifnya data klaim pengangguran dan sektor jasa AS menguatkan ekspektasi pengurangan stimulus The Fed.

Ariston Tjendra, kepala riset Monex Investindo Futures mengatakan, pelemahan rupiah akhir pekan ini masih dipicu oleh mencuatnya isu pengurangan stimulus (tapering) The Fed setelah rilis data-data tenaga kerja AS yang menunjukkan angka di atas eskepktasi. Data klaim tunjangan pengangguran dirilis 323 ribu klaim, lebih bagus dari perkiraan pasar 330 ribu klaim.

Begitu juga dengan data ISM sektor non manufaktur (sektor jasa) yang dirilis 58,6 lebih bagus dari proyeksi 55,2 dan merupakan level tertinggi dalam 7 tahun.

"Karena itu, sepanjang perdagangan, rupiah mencapai level terlemahnya 11.151 dengan level terkuat 10.100 dari posisi pembukaan di level 11.150 atau di posisi penutupan hari ini terhadap dolar AS," katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (6/9/2013).

Kurs rupiah $ terhadap dolar AS di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (6/9/2013) ditutup melemah 50 poin (0,45%) ke posisi 11.150/11.200 dari posisi kemarin 10.100/10.150.

Positifinya data-data tersebut, Firman menegaskan, memberikan tekanan negatif bagi rupiah. "Sebab, data yang solid semakin meningkatkan sentimen pengurangan stimulus (tapering) The Fed pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC), 19 September (waktu Indonesia) yang menguatkan nilai tukar dolar AS," ujarnya.

Meskipun, kata dia, The Fed belum bisa dipastikan akan mengambil kebijakan pengurangan stimulus pada 19 September 2013 itu. "Pasar tinggal menunggu hingga Gubernur The Fed Ben Bernanke benar-benar menyatakannya," timpal dia.

Selebihnya, nanti malam, pasar menanti rilis data non-farm payroll dan tingkat pengangguran AS. Jika melihat track record-nya, sentimen pasar cukup positif untuk dolar AS. "Karena itu, dolar AS menguat hampir terhadap semua mata uang utama," ucapnya.

Dari dalam negeri, pasar juga mengantisipasi kabar cadangan devisa yang akan dirilis Bank Indonesia (BI) hari ini.

Sementara itu, sentimen dari eksternal terkait serangkan AS ke Suriah dalam skala terbatas 90 hari. Karena itu, pengaruhnya terhadap perekonomian dunia bisa kecil. "Tapi, AS belum mendapatkan persetujuan Kongres. Jika Kongres tak setuju, Obama akan jalan sendiri," imbuhnya.

Alhasil, rupiah melemah meski dolar AS juga melemah tipis terhadap mayoritas mata uang utama termasuk terhadap euro (mata uang gabungan negara-negara Eropa). Pelemahan tipis dolar AS semcata faktor technical correction setelah penguatan tajam semalam.

Indeks dolar AS turun ke 82,49 dibandingkan sebelumnya 82,64. "Terhadap euro, dolar AS berjalan ditransaksikan melemah tipis ke US$1,3122 dari sebelumnya US$1,3119 per euro," imbuh Ariston.

Dari bursa saham, Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, pergerakan pasar hari ini membuat pasar mengantuk. "Saya jadi enggak disiplin buyback. Jadi, PT Indocement Tunggal Prakarsa (INTP.JK) saya terbang tanpa saya sempat buy back," kata dia.

Satrio menjelaskan, Hang Seng Index (HSI) dan IHSG naik. Namun demikian, menurut Satrio, sinyalnya netral. "Sebab, baik HSI maupun IHSG, enggak tembus resistance," ujarnya.

Pada perdagangan Jumat (6/9/2013), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ^JKSE) ditutup menguat 21,49 (0,53%) ke posisi 4.072,354. Intraday terendah 4.012,681 dan tertinggi 4.072,354.

Karena itu, menurut dia, pemodal lebih baik melihat arah IHSG pekan depan. "Moga-moga pemerintah membuat langkah kagetan di akhir pekan. Tujuannya, biar IHSG bisa break resistance pekan depan," imbuh Satrio. [jin]

Komentar

Embed Widget
x